
Usai perjalanan mengarungi samudera yang benar-benar berbalut kenikmatan itu, Belva dan Sara membersihkan diri. Terlebih dengan Sara yang sampai mengeluarkan ASI, membuat tubuh Sara merasa lengket, untuk itu malam-malam Sara memilih mandi, membersihkan diri, setelahnya dia kembali ke atas tempat tidur dengan rambut yang masih sedikit basah.
Sementara Belva tidak ada di dalam kamar, Sara pun mencari-cari di mana suaminya itu. Akan tetapi, Sara memilih untuk menunggu di dalam kamar. Sebab, pastilah Belva hanya keluar sebentar dari kamarnya.
Tidak berselang lama, rupanya Belva kembali ke kamar dengan membawa segelas cokelat hangat. Sudah pasti cokelat hangat itu untuk istrinya.
“Sayang, diminum dulu,” ucapnya dengan menyerahkan cokelat hangat itu.
Sara pun menatap suaminya dengan tangan terulur, hendak menerima cangkir dari suaminya, “Makasih Mamas,” jawab Sara dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya.
“Sama-sama Sayang,” balas Belva.
Pria itu kemudian menaiki ranjang, dan duduk berhimpitan dengan istrinya, mengamati wajah Sara yang natural, tanpa make up sama sekali dengan rambut yang masih sedikit basah, karena malam-malam nyatanya Sara justru memilih untuk keramas.
“Rambut kamu masih basah, Sayang … sini aku bantu keringkan,” ucap Belva yang mengambil handuk kecil di tangan Sara dan kemudian mengeringkan kepala Sara dengan handuk kecil berwarna putih itu.
Tak ingin istrinya tidur dengan rambut basah yang justru bisa membuatnya pilek, Belva berdiri, membuka laci nakas di meja rias dan mengambil hair dryer kecil yang bisa langsung dipakai tanpa dicolokkan. Belva mulai mengeringkan rambut Sara dengan hair dryer itu, menggunakan jari-jarinya sebagai sisir, dan berusaha keras untuk membantu Sara.
“Diminum saja … rileks. Ibu menyusui harus rileks, gak usah stress. Urusan mengeringkan rambut serahkan saja sama suamimu,” ucap Belva.
Sara pun terkekeh geli, kian hari suaminya itu kian manis saja. Jika terus seperti ini, Sara bisa terkena diabetes, karena omongan manis suaminya itu.
Setelah rambut Sara benar-benar kering, Belva sedikit menyisir rambut itu, dan kemudian mengembalikan hair dryer kembali ke dalam laci di dalam nakas. Belva kembali duduk bersandar di headboard dan merangkul bahu istrinya itu.
“Sayang, boleh tanya?” tanya Belva dengan tiba-tiba.
“Boleh, kenapa Mas?” tanya Sara kemudian.
“Kamu masih ingat saat kita melakukan hubungan suami istri terakhir kali sebelum kamu meminta talak dulu enggak?” tanya Belva dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Sara mencoba mengingatnya, dan sontak saja dirinya teringat dengan air matanya yang berderai usai mengalami pelepasan bersama suaminya itu. Bukan hanya dirinya, tetapi Belva pun juga turut menangis. Dysphoria yang saat itu mereka alami membuat keduanya sama-sama menangis karena tidak bisa mengungkapkan perasaan di dalam hatinya.
“Hmm, iya … ingat, kenapa Mas?” tanya Sara.
“Bukankah saat itu, kamu juga usai masa nifas, dan kamu memberikan ASI untuk Evan. Aku masih ingat, kala itu aku juga menggigit puncak dadamu, bahkan membuat banyak tanda merah di tubuhmu, tetapi saat itu ASI-nya tidak keluar kan? Kenapa sekarang bisa keluar?” tanya Belva dengan heran.
Sungguh, baru kali ini Belva berhubungan dengan Sara, dan justru membuat ASI milik istrinya itu keluar. Sebenarnya beberapa saat yang lalu bukan hanya Sara yang panik, tetapi Belva. Panik dan sekaligus heran kenapa bisa ASI milik istrinya itu keluar. Walaupun Belva pernah membaca artikel sebelumnya, tetapi saat mengalami sendiri tetap saja ada rasa heran di dalam hatinya.
“Abis kamu gigitin puncaknya sih, kan Dokter sebelumnya udah bilang ini area terlarang. Selama aku meng-ASI-hi, area ini cuma milik Elkan,” jawab Sara dengan menyipitkan matanya melihat suaminya itu.
Lagi-lagi Belva terkekeh dan memeluk Sara dengan begitu eratnya, “Iya-iya Sayang … aku cuma gemes tadi. Dua bulan cuma lihatin saja coba, dari mulai diminum langsung sama Elkan, sampai dipumping. Aku kan jadi gemes deh,” balasnya dengan tanpa dosa.
“Ih, nyebelin deh … udah dikasih tahu sejak awal kok,” balas Sara. Kemudian Sara mengurai pelukan suaminya, dan meminum cokelatnya selagi masih hangat, “Apalagi kan sejak pergi makan malam belum diminum Elkan, Mas … jadi penuh kan. Malahan kamu godain,” balasnya lagi.
Belva menganggukkan kepalanya, “Iya … maaf, ini kali pertama aku merasakan kayak gini. Dulu kan cuma sekali dan setelah itu kamu pergi meninggalkan aku dan Evan. Kali ini, selamanya kamu di sini, menjadi milikku. Awas, jangan pernah berniat untuk pergi ke mana-mana,” balas Belva.
“Takut deh aku kalau kamu kayak gitu, aku bisa kabur nanti,” balas Sara dengan tertawa.
“Biar aku saja, Sayang … sini, kamu istirahat saja.” Belva mengambil cangkir di tangan Sara dan kemudian pria itu kembali keluar dari kamar. Tidak masalah sesekali melayani istri, karena Belva tahu di rumah pun yang dikerjakan Sara juga banyak. Pekerjaan menjadi Ibu rumah tangga itu justru tidak ada waktu jeda. Tidak ada waktu libur. Di saat para suami libur bekerja di akhir pekan, para Ibu tidak mengenal libur.
Usai kembali ke kamar, Belva kembali tersenyum dan berbaring di samping istrinya itu, “Mau tidur sekarang atau nanti Sayang? Sudah hampir tengah malam,” balas Belva.
Sara pun segera berbaring, mengambil posisi favoritnya, yaitu menyandarkan kepalanya di antara lengan dan dada suaminya itu. Tangannya melingkari pinggang Belva, dan menghirupi aroma woody yang lembut dan menenangkan dari tubuh Belva.
“Mas,” panggil Sara kepada suaminya itu.
“Hmm, iya Sayang,” balas Belva.
“I Love U … aku cinta kamu, sangat!” Sara mengatakan perasaannya. Bagaimana usai apa yang mereka alami bersama. Usai apa yang sudah mereka jalani. Empat tahun yang lalu, atau di masa sekarang ini, perasaan di hati Sara tetap sama yaitu dia sangat mencintai suaminya itu.
__ADS_1
Mungkin dulu, kesempatan untuk mengungkapkan isi hati tidak selalu datang, bahkan tertahan hingga membuat nyeri di dada. Akan tetapi, Sara kini lebih berani mengekspresikan perasaannya, mengungkapkan isi hatinya. Menurutnya, suaminya harus tahu bagaimana perasaannya untuk suaminya itu.
Belva tersenyum, pria itu segera menciumi kening Sara dengan begitu lembut. “Sama Sayang … aku juga sangat mencintai kamu,” balasnya dengan helaan nafas yang menandakan dirinya sangat lega saat ini.
Sara tersenyum, wanita itu kian memeluk Belva, rasanya Sara begitu nyaman dan tenang dalam pelukan Belva seperti ini.
“Dulu, aku seneng banget waktu kamu peluk. Walau perasaanku tak pernah terucap, walau aku gugup dan canggung, tetapi aku senang kamu peluk kayak gini,” ucap Sara lagi.
“Sama Sayang … aku seneng bisa memeluk kamu. Sebenarnya pengen yang lain-lain lagi. Cuma waktu itu kan kamu enggak mau disentuh. Jadi ya sudah deh, cukup pelukin kamu, dan malam hari, curi-curi aja untuk cium bibir kamu,” balas Belva.
Ya Tuhan, mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Belva, membuat Sara tak percaya. Benarkah dulu Belva mencuri kesempatan untuk mencium bibirnya. Pasti saja, Sara seolah bermimpi tengah berciuman dengan Belva, jadi itu bukan mimpi? Itu kenyataan kah?
“Jadi, dulu … bukan mimpi yah? Aku kira hanya mimpi, soalnya aku pernah bermimpi kamu cium coba,” balas Belva.
Tawa Belva pecah juga, gemas dengan istrinya itu. “Pernah, sering malahan, aku curi-curi kesempatan untuk cium bibir kamu. Cuma di bibir saja, gak kemana-mana kok. Kalau kemana-mana kan aku selalu minta izin sama kamu. Enggak akan pernah aku melakukannya saat kamu masih tertidur,” balas Belva.
Sara tersenyum, “Kamu sweet banget deh, Mas … gentleman yang sesungguhnya seperti ini. Pria yang menghargai wanita, tidak memaksakan kehendaknya, dan ya semua yang ada di kamu. Gimana aku enggak makin cinta coba sama Mr. CEO ini,” balas Sara.
“Tuh, kamu berani gombalin aku … ayo tidur, Sayang. Daripada kamu gombalin melulu, dan aku tergugah melakukan serangan fajar loh,” balas Belva.
Mendengar balasan suaminya, Sara bergidik ngeri. Tidak akan mau, terlebih sekali saja dengan durasi yang cukup lama, sudah membuatnya kecapekan.
“Besok lagi aja Mas, udah malam … tidur ah, jaga-jaga kalau nanti Elkan bangun,” balas Sara yang mulai memejamkan matanya.
“Iya Sayang, nanti aku bantu bukain ya kalau mau kasih ASI buat Elkan,” jawabnya dengan frontal.
Mata Sara yang semula terpejam pun pernah terbuka, “Eh, bukain apa coba?” tanyanya dengan menggenggam erat bagian piyama di bagian dada itu.
Belva kembali tersenyum, “Bukain box bayinya Elkan lah, emang buka yang lainnya apa coba?” tanya Belva lagi.
__ADS_1
Sara mendengkus kesal dengan jawaban suaminya. Akan tetapi, bagaimana di hatinya Sara merasakan sangat bahagia memiliki Belva. Pria yang dia cintai, pria yang menghargai tubuhnya, dan pria yang selalu memperlakukannya dengan baik. Rasanya kadar cintanya untuk sang suami kian hari kian bertambah saja jadinya.