
Menjelang sore pun tiba, handphone yang berada di tas ransel kecil milik Evan pun berdering. Di layar handphone tersebut tertera nama sang Papa. Evan pun yang usai bangun tidur dan sudah mandi mulai menggeser ikon berwarna hijau di layar handphonenya.
“Ya, halo Pap,” ucap Evan begitu panggilan seluler dengan Papanya itu tersambung.
“Ya Nak, kamu di mana?” tanya Belva.
“Aku di rumahnya Mama, Pap … istirahat siang di rumah Mama,” balas Evan dengan cepat.
“Papa bisa minta tolong share lokasi alamat rumah Mamamu dong, Van … Papa mau menjemput kamu,” ucap Belva.
Itu karena hari sudah menjelang sore, lagipula rapatnya sudah berakhir. Sehingga Belva pun ingin menjemput putranya itu.
“Sebentar Pap, aku minta tolong Mama dulu yah,” balas Evan.
“Oke Van, ditunggu yah,” jawab Belva melalui sambungan seluler itu.
Setelah menutup panggilan dari Papanya, Evan pun mendatangi Sara. “Mama, Mama … tolong kirim share lokasi ke Papa dong. Lewat handphone Evan saja, Papa mau menjemput Evan,” pintanya kali ini.
Sara pun mengangguk, dan segera mengirimkan lokasinya saat ini kepada Belva melalui handphone milik Evan. Hingga hampir 20 menit, terlihat sebuah mobil hitam mewah terparkir di depan perumahan milik Sara.
Dari mobilnya, Belva menilik rumah yang terlihat kecil itu, tetapi terlihat asri. Bahkan terdapat beberapa aglonema dan tanaman bunga yang ada di depan rumah. Sontak saja, Belva teringat dengan tanaman bunga yang pernah Sara tanam di dekat kolam renang miliknya. Rupanya, Sara masih menyukai tanam-menanam. Mengingat itu semua, tiba-tiba Belva pun tersenyum.
“Permisi,” ucap Belva sembari mengetuk pintu rumah Sara.
Tidak berselang lama, tampak Sara yang membukakan pintu bagi Belva. “Silakan masuk, Pak,” balasnya sembari membuka pintu untuk pria yang pernah singgah dalam hidupnya dulu.
Belva pun menganggukkan kepala dan mulai memasuki rumah milik Sara. Belva terlihat ingin melepas sepatu miliknya karena melihat Sara di dalam rumah tanpa menggunakan alas kaki. Akan tetapi, Sara segera mengingatkan pria itu.
“Sepatunya di pakai saja, Pak Belva … tidak apa-apa, silakan masuk,” sahut Sara.
Akan tetapi, Belva memilih melepas alas kakinya. Pria itu tanpa mengenakan alas kaki dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Lagi-lagi Belva mengamati bagian rumah itu. Perumahan kecil memang, tetapi dalamnya begitu rapi dan bersih.
__ADS_1
“Aku datang untuk menjemput Evan,” ucap Belva.
“Papa, pulangnya sebentar lagi yah … aku mau selesaikan nonton kartun ini dulu yah,” teriak Evan dari dalam kamar milik Sara.
Sementara Sara memilih ke dapur, bagaimana Belva adalah tamunya, sehingga Sara berniat membuatkan minuman untuk Belva.
“Silakan Pak Belva, cuma ada teh hangat saja,” ucap Sara.
Kemudian Sara duduk dengan mengambil jarak dua space kursi dari Belva. Tampak Belva mengangguk, dan segera mencicipi teh yang sudah dibuatkan oleh Sara. Rasanya Belva kembali bernostalgia dengan masa ketika Sara masih tinggal bersamanya. Wanita itulah yang sering membuatkan minuman untuknya. Sekarang memori itu terulang lagi, tetapi dengan kondisi yang sudah jauh berbeda.
“Terima kasih Tehnya … teh buatan kamu rasanya tidak berubah,” ucap Belva usai mencecap Teh seduh beraroma melati itu.
Sara pun hanya mengangguk. Jujur saja, saat ini Sara merasa dilema. Ingin menemani Evan menonton kartun, tetapi di sini ada Belva. Ingin meninggalkan salah satu di antara Papa dan anak itu, tetapi rasanya sungkan.
“Kamu kalau ingin menemani Evan, silakan saja … aku akan menunggu kalian di sini. Atau … jika kamu ingin menemani aku, ya aku tidak keberatan,” ucap Belva dengan tiba-tiba.
Saat Sara ingin menjawab ucapan Belva yang terkesan begitu percaya diri itu, rupanya Evan keluar dari kamar Sara karena kartun kesukaan telah selesai. Sehingga Evan pun turut bergabung dengan Papa dan Mama kandungnya itu.
“Mama, duduknya jauh-jauh. Sini Ma,” ucap Evan lagi sembari menepuk bagian sofa yang kosong di sisinya.
Hanya bermaksud melegakan permintaan Evan, Sara pun duduk di sisi Evan. Walaupun sebenarnya dirinya sungkan juga dengan Belva.
“Papa, tadi aku jalan-jalan sama Mama … Mama belikan aku buku dan mainan. Kami juga makan bersama dan bobok siang bersama,” cerita Evan kali ini kepada Papanya.
“Oh, ya … Evan happy?” tanya Belva kali ini.
“Yes, i am so happy today,” balas Evan.
“Karena hari ini Evan sudah diajak Mama jalan-jalan dan melakukan hal seru dengan Mama, jadi harus bilang apa kepada Mama?” tanya Belva kali ini kepada Evan.
Rupanya Evan pun cepat tanggap, anak kecil itu segera menghambur ke dada Sara dan memeluk pinggangnya, “Thank you Mama … terima kasih banyak,” ucap Evan.
__ADS_1
“Sama-sama Sayang,” balas Sara yang kini juga turut memeluk Evan.
Sara bersyukur karena Evan mendapatkan pengasuhan yang baik dalam hidupnya. Putranya tidak ada pandai tetapi memiliki budi pekerti yang baik. Rasanya Sara kian bangga kepada putranya itu.
“Evan, tetapi kita akan kembali ke Jakarta sekarang yah? Soalnya pekerjaan Papa sudah selesai di sini,” ucap Belva dengan tiba-tiba.
Mendengar ucapan Belva kali ini, bukan hanya raut wajah Evan yang berubah, tetapi juga raut wajah Sara. Benar-benar seperti terbuai dalam mimpi di gelapnya malam, saat terjaga semua bunga tidur itu akan sirna begitu saja. Sama seperti pertemuan Sara dan Evan yang hanya sesaat, dan mereka akan kembali berpisah satu sama lain.
“Pa, tapi … tapi kan Evan sayang Mama,” aku Evan kali ini.
“Nanti kalau Papa libur kita main ke sini lagi yah … kita mengunjungi Mama Sara lagi di sini,” balas Belva.
“Papa janji?” tanya Evan dengan sorot matanya yang bening.
“Iya, Papa janji … kita akan sering-sering bermain ke Bogor dan mengunjungi Mama kamu,” balas Belva.
“Mama, gimana Ma? Evan harus pulang ke Jakarta sama Papa … Mama tidak mau yah tinggal sama Evan dan Papa? Mama tidak mau tidak berpisah lagi dengan kami?” tanya Evan kali ini.
Bagi Sara, pertanyaan Evan ini adalah pertanyaan tersulit dalam hidupnya. Sudah tentu, dirinya tidak ingin berpisah dari Evan, tetapi dengan Belva … Sara tidak yakin karena pria itu sama sekali tidak memberinya kepastian.
“Mama sayang kamu, Evan … tetapi Mama bekerjanya di sini,” balas Sara pada akhirnya.
“Evan boleh berkunjung ke rumah dan ke kafenya Mama?” tanya Evan.
“Tentu boleh, Sayang,” balas Sara.
“Mama masih mau membuatkan Crofflee dan cokelat susu untuk Evan?” tanya Evan lagi.
“Iya, Mama mau,” balas Sara lagi.
“Oke Ma … kami pulang ke Jakarta dulu yah. Evan akan sering-sering ke mari. Mama tahu kan Evan sayaaaang sama Mama,” ucapnya dengan memperpanjang kata ‘sayang’.
__ADS_1
Sara pun menganggukkan kepalanya. Tidak apa-apa dirinya kembali berpisah dengan Evan, lagipula putranya itu akan mengunjunginya lagi. Kali ini, Sara tidak akan kabur dan menyembunyikan diri lagi. Dia akan membuka pintu rumahnya dan Coffee Bay miliknya untuk menyambut kedatangan putranya itu. Berpisah sesaat untuk bertemu kembali.