
Nafas Sara yang terengah-engah dengan wajahnya yang memerah justru menjadi pemandangan yang indah untuk Belva. Tindakan kecilnya dengan tiba-tiba itu cukup membuat wajah Sara memerah merona-rona. Sementara Belva masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sara dan menatap wajah Sara.
“I Love U,” ucapnya kali ini.
“Isshss, apaan sih Mas … nanti kalau ada pembantu atau Evan yang lihat bagaimana coba?” tanya Sara sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
Jujur saja Sara begitu panik jika ada pembantu yang melihat ciumannya dengan Belva. Selain itu, Sara merasa was-was jika Evan muncul dan melihat bagaimana tingkah nakal Papanya itu.
“Aman Sayang … kan underwater. Di dalam air, sementara yang ada di dalam air cuma kita berdua,” sahut Belva dengan begitu entengnya. “Nanti kalau udah jago nahan nafas di dalam air, kita lakukan yang lama,” ucap Belva kali ini.
Ya Tuhan, agaknya Sara juga harus memaklumi sikap Belva yang sekarang ini. Sebab, tidak ada lagi Belva yang dingin dan tanpa ekspresi seperti empat tahun yang lalu. Yang ada justru Belva yang nakal dan suka bertindak impulsif. Tindakan nakal yang membuat Sara was-was tentunya.
“Yuk … berlatih lagi. Biar kamu expert! Practice makes perfect, Sayang. Terbiasa berlatih akan membuatmu ahli,” ucap Belva kali ini.
Sara hanya diam dan mencoba mengikuti instruksi Belva lagi. Menyelam di dalam kolam renang itu. Menyeimbangkan gerakan tangan dan kaki, juga kepala untuk mengambil oksigen dan mengeluarkan perlahan.
“Capek Mas,” keluh Sara kali ini.
“Capek … soalnya kamu jarang olahraga, jadi tubuh kamu perlu penyesuaian. Hanya saja, sehat kok,” balas Belva.
Seakan-akan Belva tidak ingin istrinya itu menyerah. Belva memberikan semangat dan dukungan supaya Sara mau berlatih dengan gigih. Pola yang sama yang sedang Belva terapkan saat mengajari Evan berenang dulu. Kali ini pola itu dia terapkan kepada Sara.
“Istirahat sebentar yah,” pinta Sara kali ini.
Belva menganggukkan kepalanya, dan kemudian mempersilakan Sara untuk istirahat sebentar. Tampak Sara duduk di kursi yang berada di tepian kolam renang itu. Sara tampak menghela nafas dan mengusapi wajahnya yang basah karena air. Sementara saat Sara beristirahat, Belva justru berenang. Pria itu terlihat sangat jago berenang. Berapa kali Belva tampak berenang dari ujung kolam ke ujung yang lain. Sara tidak menyangka jika Belva sejago itu.
Belva keluar dari dalam kolam dengan terengah-engah. Dadanya kembang kempis, menunjukkan otot-otot di dada dan perutnya.
__ADS_1
“Mau lagi?” tawar Belva kali ini kepada Sara.
Belum sempat Sara menjawab, rupanya Evan yang baru tidur berlari ke arah kolam renang. Melihat Papanya yang sudah berada di dalam kolam renang membuat Evan berteriak kegirangan.
“Papa, Evan berenang juga yah,” pinta Evan kali ini.
“Iya boleh, yuk,” sahut Belva.
Evan pun mulai melepaskan pakaiannya dan bergabung dengan Papanya di dalam kolam renang. Baru berusia 4 tahun, tetapi Evan terlihat pandai berenang. Sekarang Evan tampak bermain-main dengan Papanya. Evan berada dalam gendongan Belva, berpegangan di punggung Papanya itu dan mengikuti Papanya berenang.
Sara pun tersenyum, perlahan wanita itu kembali memasuki kolam renang. Agaknya ingin ikut dalam keseruan Papa Belva dan juga Evan.
“Mama ikut juga dong,” ucap Sara kali ini.
“Ayo Ma … seru. Berlatih berenang, Ma … banyak latihan Mama pasti bisa,” ucap Evan kali ini kepada Sara.
“Ayo Ma … Mama pasti bisa!” teriak Evan kali ini.
“Yah, susah, Nak,” ucap Sara dengan nafas terengah-engah. Nyaris saja Sara batuk karena hampir menelan air di kolam renang itu.
“Awalnya memang sulit Mama Sayang … segala sesuatu itu akan terasa sukar di awalnya. Akan tetapi, setelahnya akan terasa mudah kok,” balas Belva.
Pada dasarnya mereka yang mudah menyerah karena mereka yang gagal di awal. Tidak mau bersusah payah saat baru memulai. Padahal semua proses itu dimulai dari awal. Jika tidak mau bersusah payah di awal, mereka tidak akan tahu bagaimana sebuah proses itu.
“Iya Pa … yuk Pa, ajarin lagi,” pinta Sara kali ini.
Belva pun menganggukkan kepalanya dan mulai mengajari Sara pelan-pelan. Terlihat begitu sabar dan telatennya Belva mengajari Sara. Tentu diajari oleh suami sendiri dengan sabar dan penuh cinta membuat Sara pun juga bersemangat tentunya.
__ADS_1
“Nanti kamu telaten saja Sayang. Setiap weekend ya, aku ajarin berenang,” ucap Belva kali ini kepada Sara.
“Iya mau,” sahut Sara.
“Belajar sama Evan juga bisa Ma … kan Evan sudah jago,” sahut Evan yang juga tidak mau kalah. Seakan Evan juga ingin memiliki andil untuk mengajari Mamanya itu.
Sehingga pagi di akhir pekan itu, terlihat tawa dan canda dari Belva, Evan, dan Sara. Keluarga kecil itu terlihat bersemangat belajar berenang. Selain itu, kegiatan di akhir pekan mereka bertiga juga terasa begitu menyenangkan.
***
Siang harinya …
Sara memilih untuk berdiam di kamar. Rupanya memang baru pertama belajar berenang membuat badannya begitu capek. Seluruh tubuh, terutama di area paha dan betisnya. Sehingga Sara memilih rebahan di atas tempat tidurnya.
Belva pun menanyai istrinya itu. “Capek yah?” tanyanya singkat.
“Iya … paha dan betis aku rasanya capek banget. Pegel semua,” sahut Sara.
“Biasa Sayang, tetapi capeknya enak kok. Kan habis olahraga, tubuh kamu pasti akan lebih bugar,” jawab Belva. “Nanti kalau kamu latihan rutin paling sebulan kamu sudah bisa berenang kayak Evan.”
Sara hanya menganggukkan kepalanya dan melirik ke arah suaminya itu. “Aku kecapekan banget, Mas … boleh enggak aku tidur siang sebentar?” tanya Sara kali ini kepada Belva.
Biasanya siang hari akan diisi Sara dengan bermain dengan Evan, atau memasak bersama Bibi Wati. Akan tetapi, karena begitu kecapekan, Sara pun meminta izin untuk tidur siang sebentar.
“Tidur saja … olahraga dan istirahat yang cukup,” sahut Belva.
Tidak masalah memberikan waktu kepada Sara untuk istirahat terlebih dahulu karena Belva tahu bagi orang yang jarang olahraga, begitu berolahraga akan membuat tubuh terasa sakit semuanya. Akan tetapi, tentu tubuh akan menjadi bugar setelahnya. Maka dari itu, Belva tidak masalah jika sekarang Sara tidur siang terlebih dahulu.
__ADS_1