
Sara benar-benar tidak menyangka jika akhirnya Mama Diana bisa menerimanya. Setelah mendapatkan berbagai pertanyaan yang seolah-olah menyudutkannya. Setelah Belva mengungkapkan semuanya, rupanya Mama Diana dengan begitu mudahnya menerima Sara.
Pun dengan Papa Agastya Wijaya yang tampak menganggukkan kepalanya sebagai respons jika beliau juga menerima Sara. Ini adalah kebahagiaan tersendiri bagi Belva. Sebab, dia ingin Papa dan Mama bisa menerima Sara sebagai menantu keluarga Agastya.
“Maafkan Mama ya Sara,” ucap Mama Diana yang kini duduk di samping Sara dengan masih menggenggam tangan Sara.
“Iya Ma … tidak apa-apa,” sahut Sara.
“Jadi, Evan adalah putramu? Jika dia putramu kenapa kamu mau melepaskannya untuk Belva dan Anin?” tanya Mama Diana lagi.
Jujur ini adalah sebuah pertanyaan yang cukup sulit bagi Sara. Kendati demikian, Sara pun akan menjawab semua pertanyaan Mama Diana. “Itu semua karena Sara yakin bahwa Evan akan mendapatkan kasih sayang secara penuh dari Mas Belva dan mendiang Kak Anin. Memang Sara yang melahirkannya, tetapi kehadiran Evan bisa mengubah dan memberikan warna untuk hidup Kak Anin,” balas Sara dengan jujur.
Kali ini Mama Diana kembali meneteskan air matanya, “Mama tahu sangat tidak mudah untuk terpisah jauh dari anakmu sendiri. Mama ucapkan terima kasih kepadamu, karena berkat keputusanmu itu Anin di akhir hidupnya merasa bahagia. Dia bisa menjadi seorang Ibu melalui adanya Evan,” ucap Mama Diana.
Perlahan Sara pun menganggukkan kepalanya. Ya, jika dipikir-pikir memang sangat tidak mudah untuk berpisah jauh dari darah dagingnya sendiri. Akan tetapi, Evan memang sangat berharga untuk mendiang Anin. Dengan hadirnya Evan, bahkan di akhir hidupnya mendiang Anin berani mengambil keputusan untuk meninggalkan kariernya, menjalani hidup sebagai seorang ibu di rumah, bahkan Anin sempat melakukan program hamil kembali. Sayangnya, semua berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh manusia. Pada kenyataannya Anin justru terlebih dahulu berpulang kepada Sang Pencipta. Evan kembali kehilangan sosok Ibu, dan Belva yang harus bekerja dan mengasuh Evan. Semuanya seakan jungkir balik dalam dua tahun terakhir.
“Berjanjilah Sara … jangan tinggalkan Belva dan Evan lagi. Mereka berdua membutuhkanmu,” ucap Mama Dian.
“Baik Ma … Sara akan selalu mendampingi Mas Belva dan mengasuh Evan dengan sepenuh hati,” janji Sara kali ini kepada Mama Diana.
__ADS_1
Lantas, sejenak Sara menoleh ke arah Papa Agastya yang duduk tidak jauh dari mereka. “Papa, Sara dengar dari Mas Belva, Papa sedang sakit. Papa sakit apa?” tanya Sara kini kepada Papa mertuanya.
“Jantung, Sara … Papa harus saja melakukan operasi pemasangan ring,” balas Papa Agastya.
Mendengar kata jantung, seolah ada kesedihan yang menghantam Sara sekarang ini. Teringat dengan mendiang ayahnya yang meninggal karena sakit jantung. Sungguh, Sara begitu sedih rasanya.
“Kenapa kamu bersedih Sara?” tanya Mama Diana kali ini.
“Sara … ingat dengan Almarhum Ayah,” balas Sara dengan terisak.
“Tidak apa-apa Sara … doakan saja Papa sehat dan bisa menyambut cucu-cucu Papa selanjutnya,” ucap Papa Agastya sekarang ini.
“Mama, Papa … akan mengobrol dan sedih-sedih seperti ini terus. Kakak Sara tidak diajak makan? Kasihan kami rombongan dari Tanjung Pinang belum makan,” ucap Amara dengan tiba-tiba.
Sontak saja, ada tawa yang keluar dari keluarga Agastya versi lengkap. Mama Diana pun menganggukkan kepalanya, “Ayo-ayo … kita makan. Kasihan anak-anak Mama belum pada makan,” ajaknya kali ini.
Hingga pada akhirnya seluruh keluarga berjalan menuju ke meja makan. Sara tampak berjalan bersama Mama Diana, sementara Belva berjalan di samping Papanya. Keluarga besar itu berkumpul di meja makan dan mulai menikmati semua menu masakan yang tersedia di situ.
“Makan yang banyak Sara … ini juga rumahmu. Anak jika datang ke rumah orang tuanya harus makan yang banyak sampai kenyang,” ucap Mama Diana kali ini.
__ADS_1
Sara menganggukkan kepalanya. Akan tetapi, wanita itu terlebih dahulu mengisi piring milik suaminya dengan menghidangkan Nasi Putih, Udang Saus Telur Asin, Ayam Goreng Bawang, dan Kangkung Blacan.
“Sudah cukup Sayang … terima kasih,” ucap Belva.
Usai mengisi piring Belva, Sara mengisi piring Evan. Barulah Sara mengisi piringnya sendiri. Sara yang melayani suami dan anaknya itu tak luput dari mata Mama Diana. Dalam hatinya, Mama Diana merasa tenang dan lega karena Sara benar-benar baik dan perhatian. Semoga saja pilihan Belva kali ini benar. Mama Diana sebagai seorang Mama berharap bahwa Sara bisa menjadi pendamping yang akan menemani putranya sampai usia senja lagi.
Mungkin awalnya Mama Diana seakan tidak menyukai Sara, itu semua karena Mama Diana tidak ingin Belva jatuh ke pelukan wanita yang hanya menginginkan harta kekayaan putranya itu. Akan tetapi, melihat Sara secara langsung. Mama Diana merasa lega.
“Ayo, kamu juga makanlah Sara,” ucap Mama Diana kali ini.
Jujur saja, Sara seakan tidak percaya. Mama Diana bisa berubah dengan begitu baiknya. Semoga saja Mama Diana tidak akan ketus kepadanya lagi. Sebab, Sara sendiri begitu takut jika harus ditolak oleh keluarga suaminya. Sara yang terbiasa hidup sebatang kara, memang merasa takut jika terjadi penolakan kepadanya. Itulah mengapa sekarang Sara merasa lega.
“Iya Ma … Sara akan menyuapi Evan terlebih dahulu,” balas Sara.
Rupanya Amara dan Rizal pun turut tersenyum melihat Mama Diana yang kini justru terlihat perhatian kepada Sara.
“Kak Sara, makanlah juga … kamu sejak pagi belum makan Kak,” ucap Amara kali ini.
Sara akhirnya menganggukkan kepalanya, sembari menyuapi Evan, Sara juga memakan makanannya sendiri. Belva perlahan tersenyum menatap Sara. Tidak menyangka bahwa istrinya itu telah membuktikan bahwa dirinya layak di mata kedua orang tuanya. Kini, Belva tak akan ragu lagi. Semoga impiannya bersama dengan Sara akan berjalan dengan semakin lancar.
__ADS_1