Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kembali ke Rutinitas


__ADS_3

Kembali ke Jakarta, berarti mereka harus bersiap untuk kembali ke rutinitas mereka. Terutama Belva yang akan kembali ke perusahaannya dan mengerjakan sejumlah projek Agastya Property dengan sejumlah mitra lainnya. Liburan bulan madu sudah berlalu, sekarang Belva harus kembali bekerja keras.


Pagi hari itu, begitu bangun Sara terlihat menyediakan kemeja, celana panjang, dan pakaian dalam yang hendak dikenakan Belva. Rasanya Sara ingin melayani dan menyiapkan setiap keperluan yang dibutuhkan suaminya itu. Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, Sara kemudian turun ke bawah menyiapkan sarapan untuk Evan dan juga Belva tentunya.


“Pagi Bi Wati,” sapa Sara begitu turun dan mendapati Bibi Wati yang sudah berjibaku di dapur.


“Pagi Mbak Sara … istirahat saja Mbak Sara. Biar Bibi yang siapkan sarapannya,” ucap wanita yang berusia di kepala empat itu kepada Sara.


Akan tetapi, Sara terlihat menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak apa-apa Bi … Sara sudah terbiasa kok masak di dapur. Biar Sara bantuin Bibi,” jawabnya.


“Mbak Sara ada request khusus tidak misalnya makanannya harus dari sayuran organik, sedikit garam, atau apa gitu?” tanya Bibi Wati kepada Sara.


Pikirnya setiap orang memiliki kesenangan dan pantangan sendiri. Untuk itu, Bibi Wati bertanya makanan kesukaan dan pantangan Sara. Siapa tahu Nyonya Rumah itu menyukai sesuatu.


Nyatanya Sara justru tertawa dan menggelengkan kepalanya, “Sara makan apa saja tidak masalah kok Bi … tidak ada yang dijadikan pantangan. Asalkan enak, sudah pasti Sara akan memakannya,” balas Sara.


Bibi Wati pun tersenyum. Waktu sudah lama berlalu, tetapi rupanya Sara sama sekali tidak berubah. Bahkan ketika sekarang Sara sudah menjadi istri resmi dan satu-satunya untuk Belva Agastya, Sara tetap menjadi pribadi yang sederhana dan tidak berubah sama sekali.


“Baik Mbak Sara … wah, Bibi senang sekali sekarang keluarga ini akan kian lengkap dan bahagia dengan kedatangan Mbak Sara. Pasti Mas Evan akan bahagia karena sekarang memiliki Mama,” balas Bibi Wati.


Ya, memang usai kepergian Anin, banyak orang yang merasa iba dengan Evan. Anak itu masih kecil, tetapi harus tumbuh tanpa kasih sayang Ibu. Memang Sara adalah Ibu kandungnya, tetapi orang-orang dan kenalan Belva hanya tahu bahwa Evan adalah putra Belva dan Anin. Sehingga memang banyak orang yang kasihan dengan Evan.


Perlahan Sara menghela nafasnya dan menganggukkan kepala secara samar, “Iya Bi … Sara akan selalu di sini dan mengasuh Evan,” jawabnya.

__ADS_1


Mungkin saat dulu, ketika Belva melamarnya dan memintanya untuk memikirkan perasaannya. Fokus ke perasaannya sendiri, tidak dipungkiri bahwa alasan Sara mau menerima Belva adalah untuk memberikan kasih sayang sepenuhnya untuk Evan. Bagaimana pun Evan membutuhkan sosok teladan dan kasih sayang dari seorang Ibu. Sekalipun Sara begitu mencintai Belva, tetapi Sara tidak abai sama sekali dengan tumbuh kembang Evan. Bahkan alasan Sara menerima pinangan Belva tentu adalah Evan. Sara ingin putranya itu tumbuh dalam kasih sayang seorang Ibu.


Sampai pada akhirnya, Belva pun menuruni anak tangga dengan menggandeng Evan. Dua pria berbeda generasi itu terlihat sedang mengobrolkan sesuatu dan menuruni anak tangga dengan saling bergandengan tangan. Sara pun sedikit melirik ke arah Belva dan Evan yang berjalan ke arahnya.


“Pagi Mama,” sapa Evan dengan begitu bahagia. Anak berusia 4 tahun itu terlihat memeluk pinggang Sara dan menaruh kepalanya di perut Sara yang tengah berdiri.


“Pagi Putranya Mama … semalam bisa tidur?” tanya Sara kepada Evan.


“Bisa Ma … Evan langsung tidur di kamar Evan sendiri,” sahutnya.


Sementara Belva hanya berdiri dan mengecup kening Sara dengan penuh sayang, “Pagi Sayang,” sapa Belva.


Pria itu tersenyum dan kemudian mengambil tempat duduk sembari menyesap kopi yang sudah disiapkan Sara untuknya. Pagi yang indah bagi seorang Belva Agastya, karena pagi ini di rumahnya ada sosok Sara yang tersenyum dan menyiapkan segala sesuatu untuknya. Kedatangan Sara seolah menebar aura positif di rumah besar miliknya.


“Breakfast time,” sahut Sara yang menyiapkan nasi goreng untuk Belva dan Evan.


“Bibi dan Mama tadi yang masak. Kenapa Nak? Mau Mama masakan sesuatu buat kamu?” tanya Sara kemudian kepada Evan.


“Mau Ma … spaghetti mau Ma,” teriak Evan dengan bersemangat.


Sara pun menganggukkan kepalanya, “Sekarang sarapan nasi goreng dulu … nanti siang Mama buatkan Spaghetti buat Evan yah,” sahut Sara.


“Yeay! Oke Ma … mau,” balas Evan dengan begitu bersemangat.

__ADS_1


Belva pun tersenyum. Melihat Evan yang begitu bahagia seperti ini membuatnya juga begitu bahagia. Selain itu, Belva merasa lega karena sekarang dia bisa fokus bekerja. Sementara untuk pengasuhan Evan sekarang Belva bisa membaginya dengan Sara. Belva yakin bahwa Sara akan bisa mengasuh Evan dengan sangat baik. Terlebih Sara juga terlihat menyayangi dan peduli dengan Evan. Sehingga tidak ada kekhawatiran di dalam hati Belva.


Setelah sarapan usai, Belva kemudian berdiri. Membawa tas miliknya, dan hendak berangkat ke kantor. Ini juga hari pertama dirinya kembali ke kantor setelah cuti menikah dan bulan madu. Walaupun rasanya ingin terus berada di rumah bersama Sara. Akan tetapi, pekerjaan harus terus dilakukan. Dirinya harus bekerja untuk membahagiakan Sara dan Evan.


“Aku berangkat ke kantor dulu ya Sayang,” pamit Belva kali ini kepada Sara.


“Iya Mas … hati-hati yah,” balas Sara.


Sara turut mengantar Belva sampai di depan pintu, dan menunggu sampai Belva melajukan mobilnya. Terlebih Belva yang menoleh ke arah Sara dan melambaikan tangannya kepada istrinya itu.


“Aku kerja dulu ya Sayang … hati-hati di rumah,” balas Belva.


“Iya … semangat kerjanya ya Papa,” sahut Sara.


Ya, Sara berharap bahwa suaminya itu akan bekerja dengan semangat dan juga bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di kantor dengan sebaik mungkin. Membiarkan suaminya kembali bekerja, dan Sara akan berada di rumah untuk mengasuh Evan. Rutinitas yang sesungguhnya sudah dimulai. Tinggal bagaimana mereka memanfaatkan waktu untuk terus membina rumah tangga mereka berdua.


Rutinitas boleh kembali, tetapi Belva dan Sara akan menyingkapinya dengan bijaksana. Lagipula, rumah tangga yang masih seumur jagung itu akan mereka bina dengan sebaik mungkin. Keduanya masih memerlukan waktu untuk mengenal satu sama lain. Memahami satu sama lain sebagai pribadi dengan keunikannya sendiri. Selain itu, mereka untuk harus bekerja sama untuk mengasuh dan membesarkan Evan bersama.


***


Dear My Bestie,


Yang mengharapkan konflik selanjutnya, mohon ditunggu yah. Aku tidak mau asal membuat konflik yang berakibat ke berubahnya alur cerita yang sudah terbangun dari awal. Harap ditunggu yah. Aku akan ajukan crazy up supaya bisa mengulik lagi konflik-konflik baru yang bisa dimunculkan.

__ADS_1


Happy Reading!


Dukung selalu karya ini yah. :D


__ADS_2