
Tidak ada yang lebih membahagia bagi seorang Belva Agastya saat mengetahui perasaannya terbalas. Mengingat betapa tidak mudahnya meluluhkan hati Sara. Hingga pria itu menitikkan air matanya. Tentu itu adalah air mata kebahagiaan, tetapi tidak dipungkiri dada Belva begitu membuncah kali ini.
Ingin rasanya Belva memeluk Sara dan melabuhkan ciuman di bibir Sara yang begitu tipis dan ranum itu. Akan tetapi, Belva tidak bisa melakukannya karena sekarang ada Evan. Dia harus menjaga sikapnya di hadapan putranya itu. Sehingga, Belva cukup dengan memeluk Sara untuk sesaat.
Keromantisan dari seorang Belva Agastya tampak belum berakhir. Pria itu kini mengambil sebuah buoquet bunga mawar berwarna pink yang begitu manis. Belva menyerahkan bunga itu kepada Sara.
“Terimalah bunga ini Sara … bunga ini mewakili rasa syukurku yang mendalam karena akhirnya kamu menerima perasaanku. Bunga ini juga mewakili rasa terima kasihku. Terima kasih karena kamu sudah mengubah hidupku. Terima kasih karena kamu sudah melahirkan Evan bagiku. Selain itu, bunga ini juga melambangkan cinta dan kekagumanku padamu,” ucap Belva.
Rasanya air mata Sara benar-benar tumpah kali ini. Sara benar-benar tidak menyangka bahwa Belva sekarang bermulut manis. Begitu mudahnya pria itu mengucapkan perkataan manis yang membuatnya menangis seperti ini.
Tangan Sara pun terulur dan menerima bunga dari Belva itu. Lantas Evan kembali menggandeng tangan Mamanya, “Jangan menangis Ma,” pinta Evan kali ini.
Kemudian Belva mengajak Sara dan Evan untuk duduk. Di sana sudah tersaji Beef Steak yang terlihat dibuat oleh chef profesional. Rupanya kali ini persiapan Belva benar-benar matang. Jika biasanya pasangan muda, melakukan lamaran hanya berdua saja. Akan tetapi, Belva melakukan semuanya dengan melibatkan Evan. Bahkan di meja itu pun tersaji tiga piring Beef Steak.
Belva dengan telaten memotongkan daging untuk Evan terlebih dahulu, kemudian dia mulai memotongkan daging untuk Sara. Pria itu tersenyum dan menatap Sara, “Jika sudah dipotong, kamu tidak akan kesusahan memakannya,” ucap Belva.
“Terima kasih Pak,” jawab Sara.
Ketiganya lantas menikmati hidangan itu dengan sesekali Sara menyuapi Evan dan menyeka sisa-sisa saus yang menempel di bibir Evan. Rupanya Evan juga termasuk anak yang pengertian karena sekarang Evan memilih melihat film kartun dan memberi waktu bagi Papa dan Mamanya untuk berbicara.
Belva dan Sara sama-sama duduk dengan memandang kolam renang di depannya. Di sebuah kursi kayu, keduanya duduk bersama.
“Sara,” panggil Belva dengan perlahan.
__ADS_1
Sontak saja Sara menoleh dan melihat Belva yang duduk di sampingnya.
“Ya Pak Belva, ada apa?” tanyanya.
Tangan Belva bergerak dan kini menggenggam tangan Sara di sana. “Aku lega … setelah bertahun-tahun berlalu, sekarang aku bisa mengatakan yang sesungguhnya kepadamu. Mesti kamu bukan yang pertama bagiku, tetapi aku pastikan bahwa kamu akan menjadi yang terakhir bagiku. Aku tidak akan singgah sesaat di hidupmu, melainkan aku akan berlabuh di hidupmu hingga ujung usiaku. Aku ingin menikahimu secepatnya, Sara,” ungkap Belva kali ini.
Apa yang diucapkan Belva memang begitu realistis. Pria itu bahkan mengatakan bahwa Sara memang cinta pertamanya, tetapi Belva memastikan bahwa Sara akan menjadi cinta terakhirnya. Jikalau perkara rahim sewaan, Belva hanya singgah sesaat dalam hidup Sara. Kali ini, Belva akan melabuhkan dirinya kepada Sara untuk seumur hidupnya. Meminta wanita itu untuk memegang kendali atas hidupnya.
Pandangan mata Belva kini menatap wajah Sara dengan begitu lekat, tetapi tidak berselang lama mata itu justru tampak menatap bibir Sara yang begitu ranum dan berpoles pewarna berwarna pink yang begitu lembut itu. Tangan Belva lantas bergerak dan meraih dagu Sara. Pria itu lantas melabuhkan bibirnya dan memberikan ciuman berbalut lu-matan di bibir Sara.
Pergerakan yang samar dan tanpa kata-kata itu sukses membuat Sara membeku. Dadanya terasa sesak tatkala dia merasa pergerakan bibir Belva yang begitu lembut menekan bibirnya dan memberikan pagutan dan lu-matan di sana.
Kini Belva memejamkan matanya, menahan tengkuk Sara dan bibirnya kembali mencecap kelembutan yang ditawarkan oleh bibir Sara yang begitu ranum. Berkali-kali Belva tampak memagut bibir Sara. Dengan bibirnya, Belva tak henti-hentinya untuk memberikan pagutan yang begitu membuai di lipatan bibir bawah Sara. Memagutnya dan menghisapnya dengan begitu dalam.
Ada erangan yang lolos dari bibir Belva, sehingga Belva melepaskan sejenak bibirnya. Pria itu menatap Sara dengan netranya yang tajam.
“Pak Belva,” ucap Sara dengan lidah yang terasa kelu.
Akan tetapi, melihat mulut Sara yang terbuka, nyatanya Belva justru langsung menyambar bibir Sara, membawa lidahnya untuk masuk dan menerobos, merasakan kehangatan di rongga mulut Sara. Lidahnya bergerak dan memberikan usapan di sana. Membelai, bahkan membelit lidah Sara. Seakan semua sensasi yang tercipta menciptakan hawa panas tersendiri di tengah-tengah udara dingin di Bogor sore itu.
Di ambang batas kesadaran yang tersisa, Belva lantas menarik kembali bibirnya. Pria itu lantas memeluk Sara dengan begitu eratnya.
“Aku rasanya hampir gila, Sara … ya, aku hampir gila karena perasaanku ini kepadamu. Ah, rasanya ingin aku segera menghalalimu,” ucap Belva kali ini.
__ADS_1
Sara memejamkan matanya di tengah dadanya yang kembang-kempis saat ini. Wanita itu balik memeluk Belva dengan begitu eratnya.
“Pak Belva,” panggilnya kepada pria yang kini memeluknya itu.
“Hmm, apa?” sahut Belva.
“Pak Belva, Pak Belva menikahiku bukan untuk menggantikan posisi mendiang Kak Anin kan? Jangan pernah hilangkan dia dari hatimu, Pak … biarkan kita membangun kenangan bersama tanpa perlu melupakan semua tentangnya,” ucap Sara kini.
Belva mengurai pelukannya dan mencoba untuk menatap wajah Sara di sana. Menerka apa yang tengah diinginkan Sara sekarang ini.
“Tidak Sara … kamu datang ke dalam hidupku dengan caramu sendiri. Kamu benar, Anin tetap memiliki ruang tersendiri di hatiku. Kamu tidak keberatan?” tanya Belva.
Kali ini keduanya benar-benar berpikir realistis. Apabila menikah lagi bukan berarti Belva harus melupakan sosok Anin dan hanya fokus kepada Sara. Justru, biarkan Anin dan semua kenangannya tetap hidup di hati Belva, karena Sara tidak akan keberatan. Pun demikian bagi Sara, kenangannya bersama Anin juga akan selalu hidup di dalam hatinya.
Sara pun menganggukkan kepalanya, wanita itu segera memeluk Belva kali ini, “Aku tidak keberatan. Hanya saja, maukah Pak Belva berjanji bahwa Pak Belva bisa lebih terbuka denganku? Terkait dengan perasaan Pak Belva dan tidak akan menyembunyikan apa-apa seorang diri lagi?” tanya Sara kali ini kepada Belva.
Belva mengangguk, “Iya … aku akan lebih terbuka denganmu,” jawabnya. “Sara, dan kamu juga apa bisa melakukan hal yang sama? Jujurlah dengan perasaanmu kepadamu. Sara, jawab pertanyaanku kali ini … apa kamu juga mencintaiku?” tanya Belva.
Ya, Belva memang telah mengucapkan perasaannya, tetapi dia juga ingin mendengarkan ucapan cinta dari Sara.
“Aku cinta kamu, Pak Belva … hanya saja, aku juga tidak tahu bagaimana caranya untuk menyampaikan perasaan ini kepadamu. Seperti angin yang terbang tanpa meninggalkan jejak, seperti itu caraku mencintaimu selama ini,” jawab Sara.
Ah, rasanya begitu lega. Rupanya perasaan mereka berdua saling bertaut. Sungguh, bisa berbagi … mengudar rasa seperti ini membuat Belva dan Sara menjadi begitu lega. Perasaan yang selama bertahun-tahun tertahan, kini bisa disampaikan.
__ADS_1