
Berkali-kali Belva dan Sara mencoba membangunkan Evan, tetapi yang ada Evan justru kian terlelap dan merajuk. Anak kecil itu mengatakan bahwa dirinya ingin bersama dengan Sara. Dalam hal ini, Belva pun memahami bahwa Evan pun menyayangi Sara bahkan tidak ingin berpisah dari Sara.
“Tunggulah lima belas menit lagi, usai ini kita akan bangunkan lagi,” ucap Sara.
Belva pun mengangguk. Pria itu kembali duduk, dan memperhatikan Sara. Rasanya kedua matanya tidak akan jemu menatap Sara. Sekalipun kali ini, Belva lebih banyak diam. Sebab, Belva tadi sudah berusaha mengajak Sara berbicara, tetapi rasanya usahanya gagal. Membangun interaksi yang dingin memang sangat susah. Sementara di hadapannya Sara berusaha bersikap biasa. Kendati demikian, Belva sangat tahu bahwa Sara tengah berusaha menahan air matanya.
Saat keduanya sama-sama diam, tiba-tiba ada interupsi dari Nina.
“Kak Sara, kita last order jam 21.00 yah?” tanya Nina.
“Iya … kalian masih bisa handle sampai last order kan?” tanya Sara.
Nina lantas melihat anak kecil yang tertidur pula di pangkuan Sara itu, kemudian Nina pun menganggukkan kepalanya, “Iya Kak, aman,” balasnya.
“Thanks yah,” balas Sara.
Percakapan Sara dengan karyawannya itu pun tidak luput dari pandangan mata Belva. Sungguh, Belva tidak mengira bahwa Sara bisa berdiri sendiri dan memiliki coffee shop ini. Belva yakin bahwa Coffee Bay ini adalah milik Sara. Belva justru senang karena Sara pun mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Ada satu hal lagi yang Belva syukuri karena Sara tidak kembali bekerja di bar, seperti permintaannya dulu.
“Kamu telah sukses, Sara,” ucap Belva dengan lirih.
Bahkan kini Belva mengedarkan pandangannya dan melihat ke sekeliling Coffee Bay itu. Dari desain interior, hingga pembeli yang hilir mudik, Belva menerka bahwa Coffee Bay milik Sara ini sangat berhasil.
“Aku masih berusaha,” jawab Sara pada akhirnya.
“Orang yang berusaha tidak akan gagal, Sara … kalau dalam usahanya mereka gagal, itu hanya karena mereka sedang ditempa. Akan tetapi, mereka yang gagal kemudian bangkit lagi, mencoba lagi, itulah yang luar biasa,” sahut Belva.
Tentu Belva bisa mengatakan demikian, karena dirinya adalah seorang pengusaha. Belva sangat tahu bagaimana prinsip dalam berbisnis. Ya, bisnis tidak selamanya menjanjikan dan menghasilkan laba. Banyak orang yang benar-benar harus bekerja keras, bahkan harus berdarah-darah untuk sampai di titik sukses.
Sara pun mendengarkan ucapan Belva. Pada dasarnya, memang usahanya terkadang ramai, terkadang stabil, bahkan sepi. Hal itu sangat wajar. Akan tetapi, Sara sudah membuktikan bahwa Coffee Bay bisa bertahan di tengah persaingan kedai minuman yang begitu menjamur sekarang ini.
“Ketahuilah Sara … kamu bisa melakukan lebih dari ini,” ucap Belva lagi.
Agaknya kini Belva masih berusaha membangun komunikasi dengan Sara. Sekalipun Sara hanya diam, dan merespons dengan menggerakkan bola matanya saja, itu seakan cukup untuk Belva.
“Tidak juga … aku belum ada apa-apanya,” sahut Sara.
__ADS_1
Perlahan Belva pun tersenyum, ya senyuman kecil mengembang di sudut bibirnya saat dirinya dengan menatap wajah Sara yang duduk di hadapannya.
“Kamu memiliki empat cabang, Sara … itu adalah hasil kerja keras dan keuletanmu dalam berbisnis. Kamu hebat, Sara,” puji Belva kali ini.
Sungguh, kali ini Sara rasanya semakin bingung harus menghadapi Belva seperti apa. Lagipula, sejak tadi pria itu justru selalu mengajaknya berbicara.
Merasa waktu lima belas menit telah berlalu, Belva kembali berdiri dan menepuk kaki Evan.
“Evan, kita pulang sekarang yuk?” ucap Belva kali ini.
Evan pun menggeliat itu. Dia seketika membuka kedua matanya, dan menatap Sara.
“Tante, ikut Evan pulang yuk … Evan sayang sama Tante,” ucap Evan dengan tiba-tiba.
Mendengar pengakuan langsung dari Evan. nyatanya kedua mata Sara terasa semakin pedih. Itu semua terjadi karena sejak tadi dia berusaha keras menahan air matanya.
“Tante kok diam saja, Tante tidak sayang sama Evan?” tanya Evan lagi.
Belva hanya diam. Dia tahu bahwa Sara membutuhkan waktu, tetapi Belva yakin mendengar Evan yang mengatakan bahwa Evan menyayanginya tentu Belva pun senang.
“Iya, Tante juga sayang kamu,” sahut Sara.
Kali ini nyatanya justru kedua mata Belva yang kembali berkaca-kaca, tetapi Belva berusaha menahannya. Pria itu hanya tersenyum mendengar ungkapan sayang dari anak kepada ibunya itu.
“Tante, ikut Evan yuk … Evan rasanya mau bobok dipeluk Tante deh,” celetuk Evan dengan tiba-tiba.
“Evan, jangan dong … kasihan Tantenya capek nanti,” balas Belva.
Bukannya kenapa, tetapi Belva pun merasa tidak enak apabila Evan mengajak Sara turut serta. Lagipula, sekarang tidak ada hubungan di antara dirinya dan Sara, setelah ucapan talak empat tahun yang lalu.
Tiba-tiba bahu Evan pun bergetar, anak itu menangis dan terisak.
“Gak mau … Evan maunya sama Tante. Evan gak mau sama Papa,” ucap Evan kala itu. Agaknya kali ini Evan benar-benar merajuk sehingga Belva harus lebih sabar menghadapi Evan yang sedang merajuk dan tantrum seperti ini.
“Evan Sayang … dengarkan Papa … sekarang kita pulang dulu yuk, besok kita main ke sini lagi, beli Crofflee kesukaan Evan lagi,” ucap Belva yang berusaha menenangkan Evan.
__ADS_1
Akan tetapi, Evan justru kian terisak. Anak itu bahkan kian menggenggam tangan Sara dengan begitu eratnya.
“Enggak … Evan mau di sini sama Tante. Evan tidak mau pulang sama Papa,” teriak Evan kali ini.
Melihat Evan yang menangis, Sara pun mengusapi punggung Evan perlahan dengan gerakan naik dan turun, lantas kini Sara yang berusaha untuk menenangkan Evan.
“Evan boleh menangis kok … menangis biar lega. Namun, jika sudah yang diucapkan Papanya Evan benar. Sekarang sudah malam, Evan bobok dulu yuk. Besok Evan boleh main ke sini lagi,” ucap Sara dengan lembut.
Mendengar ucapan lembut dari Sara, nyatanya Evan justru kini menghambur dalam pelukan Sara.
“Evan sayang sama Tante … Evan suka sama Tante … Evan mau sama Tante,” akunya kali ini.
Sungguh, Sara pun mengangguk dan hati penuh haru saat ini. Tidak mengira putranya yang baru saja dia temui setelah empat tahun berlalu kini mengatakan bahwa dirinya menyayanginya dan ingin dengannya.
“Iya … tetapi, sudah malam. Kalau tidak bobok dengan benar nanti justru Evan bisa sakit loh. Evan pinter kan? Yuk, dengerin ucapan Papa yuk,” nasihat Sara kali ini.
“Tante ikut ke tempat Evan yuk … semalam saja,” pinta Evan. Agaknya Evan sendiri cukup keras kepala dan ingin Sara bersama dengannya.
Belva perlahan menatap Sara, “Ikutlah dulu … nanti kalau Evan sudah tidur, aku akan mengantarmu,” pinta Belva kali ini.
Sara menghela nafasnya dan mengamati Evan yang masih menangis. Hingga akhirnya Sara pun mengangguk, setidaknya kali ini dia akan melakukannya hanya untuk Evan.
“Ya sudah, yuk,” ucap Sara mengalah.
Tidak menyangka bahwa Evan meminta gendong kepada Sara, sehingga ketiganya berjalan dan hendak keluar dari Coffee Bay. Tidak lupa Sara berpamitan dengan Nina dan karyawan lainnya.
Saat Sara hendak melangkah kaki dari Coffee Bay, rupanya ada seorang pria yang menghentikan Sara tepat di depan Coffee Bay.
“Sara kamu mau ke mana?”
Tidak menyangka kali ini Zaid lah yang datang. Zaid seketika membolakan matanya saat melihat pria yang tentunya Zaid kenali. Ya, Zaid sangat ingat bahwa Belva adalah suami Sara dulu.
“Zai, kamu datang? Maaf, aku keluar sebentar ya Zai …,” pamit Sara saat itu juga kepada Zaid.
Belva pun cukup kaget melihat pria yang dulu pernah dia temui di Kopi Lab, rupanya kini berdiri di hadapannya. Perasaan Belva seketika menjadi tidak enak, mungkinkah Sara sudah melepas masa lajangnya lagi?
__ADS_1