Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Pagi yang Indah


__ADS_3

Semalam benar-benar menjadi malam yang indah untuk Belva dan Sara. Di saat pasangan suami istri itu sama-sama mereguk manisnya peraduan yang indah. Bukan sekadar penyatuan, tetapi bagaimana keduanya menyalurkan perasaan cinta yang membara di dalam dada.


Sementara pagi ini, Belva masih memeluk Sara, mendekapnya dengan erat. Walau tubuh sama-sama tak berbusana, tetapi keduanya tetap bisa saling menghangatkan dengan saling berpelukan. Ketika pagi tiba, Belva terbangun lebih dahulu. Pria itu tersenyum melihat Sara yang masih tertidur.


Tangan pria itu bergerak, menyingkirkan anakan rambut yang menutupi kening Sara, dan kemudian tersenyum mengagumi kecantikan Sara di pagi. Tanpa make up, benar-benar wajah asli tanpa riasan justru membuat Sara begitu cantik pagi ini. Merasakan pergerakan tangan Belva di wajahnya, nyatanya itu cukup untuk mengusik tidur Sara, sehingga wanita itu pun mengerjap. Kelopak matanya bergerak-gerak dan perlahan membuka.


“Mas,” sapanya dengan suara yang lirih.


“Hmm, morning Wifey,” sapa Belva dengan sedikit menggerakkan alis matanya. Sehingga alis mata yang tebal itu seolah terangkat ke atas.


Ada senyuman yang merekah di wajah Sara, wanita itu sedikit menggeser tubuhnya dan kian memeluk tubuh suaminya itu. Mencerukkan wajahnya di dada suaminya.


“Morning Mamas,” sahut Sara.


Belva pun turut tersenyum dan mengusapi rambut Sara hingga mengusapi punggung Sara yang begitu halus itu. “Semalam kamu langsung tidur, kecapekan yah?” tanya Belva lagi.


“Enggak kecapekan sih Mas … cuma keenakan,” jawabnya dengan menahan tawa dan kian bersembunyi di dada suaminya itu.


Itu adalah ungkapan yang jujur dari Sara. Walaupun dengan malu-malu, tetapi Sara mengakui bahwa apa yang mereka lakukan kemarin begitu enak dan mantap tentunya. Sehingga, usai melakukan kegiatan panas, dan berada di pelukan suaminya, Sara pun tertidur.


“Emang enak yah? Jadi, aku bisa ngenakin kamu?” tanya Belva.


Ada anggukan samar dari kepala Sara, walau wanita itu tidak menjawab, tetapi Belva bisa merasakan jawaban yang diberikan Sara dari anggukan kepalanya itu.


“Seneng deh … berarti kan bukan hanya aku saja yang merasa enak, tetapi kamu juga. Sebab, aku gak mau jika cuma aku yang merasa keenakan. Sayang, sering-sering dong pake strapless braa seperti semalam. Kamu sexy banget,” ucap Belva dengan begitu frontal pagi itu.


“Ish, maunya … kan aku pakai itu karena disesuaikan dengan dress model off the shoulder itu, Mas … gak mungkin ada tali yang menggantung di bahuku,” jawab Sara.


Belva pun tertawa, dan membayangkan bahwa ada tali yang mengganggu pemandangan di bahu istrinya itu. Dalam fashion pun, memang strapless braa dikenakan saat mengenakan baju mode off the shoulder.


“Ya sudah, aku mandi dulu ya Mas … udah pagi. Harus siap-siap nanti kalau Evan pulang,” balas Sara.

__ADS_1


Belva pun menganggukkan kepalanya, “Mau mandi sendiri atau bareng?” tanya Belva.


“Sendiri aja,” balasnya.


“Ya sudah, sekarang kamu sendiri dulu, nanti aku susul,” balas Belva.


Sara hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya itu. Menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, Sara berjalan menuju kamar mandi, segera membersihkan dirinya dan mendapatkan kesegaran di pagi hari itu. Baru sepuluh menit, Sara berada di kamar mandi rupanya Belva benar-benar menyusul istrinya itu.


Pria itu bersikap santai, dan mulai mencuci wajahnya dengan facial foam, menggosok gigi, dan melakukan waxing untuk jambang di dagunya. Setelah selesai, Belva pun masuk ke dalam bath up menyusul istrinya.


“Sini Sayang,” ucap Belva yang menarik bahu istrinya untuk bersandar padanya.


“Relaksasi dulu,” ucap Belva lagi.


Sebenarnya Sara sudah merasa deg-degan, terlebih waspada jika suaminya meminta haknya lagi. Hanya saja, kali ini Sara menurut saja permintaan suaminya, dan dia bersandar di dada suaminya itu.


“Aku seneng deh kalau berendam gini sama kamu,” ucap Belva.


“Bisa lebih intim sama kamu. Mandi bersama bukan hanya melakukan kegiatan panas, tetapi bisa membangun perbincangan lebih dalam,” balas Belva.


Yang Belva ucapkan sepenuhnya benar. Sebab mandi bersama dengan pasangan memiliki banyak manfaat mulai dari membangun perbincangan lebih dalam, mengurangi stress, kehidupan se-ksual kian nikmat, dan membangun kepercayaan diri pasangan.


“Serius?” tanya Sara dengan singkat.


“Iya, serius. Kalau sama kamu, aku tuh selalu serius. Lebih dekat, lebih nyaman, lebih puas,” celetuk Belva dengan tiba-tiba.


Tangan Sara bergerak sembari bermain-main air dan menyentuh gelembung busa di sana. Sensasi air hangat dan bath bomb beraroma Shea Butter yang benar-benar menenangkan. Suasana yang rileks, dan ada dada bidang untuknya bersandar.


“Kalau punya bath up enak, Mas … kalau punyanya hanya bak mandi gimana coba mandi bersamanya?” tanya Sara.


“Ya lebih gampang dong Sayang … saling mengguyur air, saling menyabuni. Kurang apa lagi coba?” sahut Belva.

__ADS_1


Sara pun menganggukkan kepala. Benar juga yang disampaikan suaminya. Jika pun tidak memiliki bath up pun, mereka bisa saling mengguyuri air di tubuh pasangan, saling menyabuni, saling berpelukan. Fasilitas bukan kendala untuk membangun intimitas pasangan suami istri.


“Benar juga yah … seru kali yah, main guyur-guyuran gitu,” ucap Sara. Terlintas bagaimana anak-anak kecil yang bermain air dan saling mengguyur. Pasti akan menyenangkan.


Belva memeluk istrinya itu, tangannya bergerak dan memberikan usapan di perut istrinya yang kian menyembul itu.


“Kamu lucu sih Sayang … waktu kecil kamu pernah guyur-guyuran air yah?” tanyanya.


“Pernah, waktu SD dulu kalau lomba 17 Agustusan kan ada tongkat air, berakhir dengan guyur-guyuran air,” jawabnya terkenang dengan memorinya waktu kecil dulu.


“Coba dulu, aku jadi temen kamu. Udah tak guyur kamu Sayang … aku ajak pulang ke rumah,” balas Belva dengan begitu absurb.


Tawa pun memenuhi kamar mandi itu. Banyak perbincangan yang mengalir begitu saja mulai dari cerita di masa kecil, harapan untuk si baby saat lahir nanti, harapan untuk Evan, dan juga angan-angan keduanya membina rumah tangga.


“Ya sudah … sekarang kita keringkan dulu yuk tubuhnya. Ibu hamil gak boleh kelamaan berendam,” sahut Belva sembari memutar keran penyumbat air, sehingga air di sana perlahan menyusut.


Belva keluar lebih dulu dari bath up, kemudian membantu Sara untuk berdiri. “Awas Sayang, licin lantainya,” ucapnya mengingatkan agar Sara lebih berhati-hati.


Setelahnya mereka membasuh sisa-sisa busa yang menempel di tubuhnya dengan menggunakan shower, dan kemudian mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Sungguh ini adalah pagi yang indah bagi keduanya. Sedikit menyelakan waktu di kala liburan keluarga untuk membangun keharmonisan suami dan istri.


Kini Sara dan Belva sudah berada di luar kamar, merasakan hembusan angin dan surya yang kian meninggi. Belva merangkul bahu istrinya itu.


“Waktu liburan usai, kita kembali ke Jakarta … dan kamu persiapan untuk melahirkan nanti yah. Aku akan menemani kamu waktu bersalin nanti. Caesar aja Sayang … dulu lihat kamu kesakitan kayak gitu, jantungku nyaris meledak,” ucap Belva.


Sara perlahan melirik suaminya itu dan tersenyum, “Normal kalau bisa tidak apa-apa kok Mas … asalkan kamu temeni aku, aku mendapat kekuatan penuh untuk berjuang. Yang penting temani yah nanti,” pintanya kali ini.


“Tentu Sayang … yang penting siapkan diri dan mental dulu. Untuk kamar baby dan lain-lain tidak usah berpikir, nanti kita akan beli sama-sama,” ucapnya.


“Iya Mr. CEO … percaya kalau sultan mah beda,” sahut Sara sambil tertawa.


“Sultan apa Sayang … aku cuma pria biasa. Cuma memiliki kamu, yang bikin aku jadi luar biasa,” sahutnya.

__ADS_1


Sungguh, ini adalah pagi yang sangat indah. Dua pasang mata saling pandang, tangan yang saling memeluk, dan obrolan hangat yang membuat pagi itu terasa lebih indah.


__ADS_2