Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Itikad Kerja Sama


__ADS_3

Usai ulang tahun yang begitu meriah dan banyak hadiah untuk semua anak-anak yang hadir, kini tampak Sara yang sedang menggendong Elkan terlihat mengamati para anak dan tamu undangan yang sangat bahagia. Sungguh, bisa berbagi kebahagiaan seperti ini membuat Sara begitu bahagia. Hanya saja, atensi Sara kini teralihkan pada Marsha yang duduk dan menunggui suaminya yang masih mengabadikan momen ulang tahun dalam jepretan kameranya. Sesekali wanita hamil yang bernama Marsha itu tengah mengusapi perutnya yang sudah begitu membuncit.


Sara pun dengan menggendong Elkan, mendatangi Marsha yang sedari tadi duduk sendiri dan mengajaknya mengobrol. Pikirnya dia juga ingin mengobrol dengan Marsha


“Baru ngapain nih? Maaf yah, pesta anak-anak jadi yang datang banyak anak-anaknya,” ucap Sara yang mengambil duduk di samping Marsha dengan memangku Elkan.


“Baru nungguin Mas Bram saja, Bu … soalnya di sini juga tidak ada yang saya kenal, heheheh.” Marsha menjawab dengan tertawa, kedatangannya di situ sepenuhnya memang hanya ingin mengikuti Abraham saja. Bosan di apartemen, dan berakhir dengan mengikuti Abraham dan kru dari pegawai di studio foto milik Abraham yang bertugas di lokasi acara.


“Kan kita sudah kenalan, jadi kenal dong sama saya,” balas Sara dengan tertawa. “Santai saja … tidak usah terlalu sopan dan formal sama saya, dari umur mungkin saya hanya beberapa tahun di atas kamu,” balas Sara.


Marsha pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Iya Bu Sara … terima kasih, iya, tadi sudah kenalan sama Bu Sara … jadi, sekarang sudah kenal,” balas Marsha dengan tersenyum. Dari perkenalan pertama saja, Marsha sudah berpikir bahwa istri sang CEO ini adalah orang yang baik.


Setelahnya, Sara tampak sedikit mengamati wajah cantik Marsha. Sungguh, dengan kondisi hamil dan tanpa make up berlebih, Marsha terlihat begitu cantik. Namun, kenapa wajah Marsha ini pernah dia lihat sebelumnya. Di mana? Sara pun berusaha untuk mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu dengan Marsha.


Beberapa saat mengingat, akhirnya Sara pun ingat. Ya, Marsha adalah seorang model yang hampir satu tahun yang lalu namanya trending di mesin pencarian dan Twitter.


“Maaf, apa benar … kamu Marsha Valentina? Hmm, kalau tidak salah hampir satu tahun yang lalu ….”


Ucapan Sara terpotong karena Marsha segera menyahutnya.


“Benar Bu Sara … saya dulu istrinya aktor berinisial MA itu,” balas Marsha. Tanpa lagi menutupi masa lalunya.


Bagaimana pun masa lalu yang dahulu sudah dilihat banyak orang, sehingga untuk mengelak pun rasanya sukar. Daripada berbohong atau menghindar, Marsha memilih mengakuinya. Toh, masa lalu tidak bisa diubah, tetapi semua sudah tertinggal di belakang karena kini Marsha bisa mengubah masa depannya bersama dengan Abraham. Menatap masa depan dengan pria yang tulus dan sangat mencintainya, Abraham. Untuk itu, tidak ada keraguan lagi di dalam diri Marsha.


“Tidak apa-apa Marsha. Semua orang punya masa lalu. Biarkan masa lalu tetap berada di belakang, dan kamunya yang harus terus berjalan ke depan,” ucap Sara yang memberikan motivasi kepada Marsha.


Mendengar apa yang baru saja Sara ucapkan, hati Marsha terasa hangat. Wanita yang ada di hadapannya ini memang luar biasa. Tidak hanya cantik, istri seorang CEO, pebisnis waralaba, tetapi juga seorang wanita yang sangat baik. Menurut Marsha, rasanya Belva Agastya sangat beruntung memiliki Marsha sebagai istrinya.


“Makasih Bu Sara … maaf, kalau dulu pasti Ibu lihat wajah saya dan nama saya jadi tagline di berbagai media infotainment yah?” tanya Marsha dengan tertawa.

__ADS_1


“Iya … saat itu trending sekali. Hampir di semua berita infotainment di televisi keluar. Wah, jadi ini aku beruntung bertemu dengan artis dong,” sahut Sara dengan terkekeh geli.


“Ah, saya bukan artis, Bu … saya sebenarnya model dan sudah lama hiatus,” balas Marsha.


“Marsha, mau tidak jadi model untuk Coffee Bay?” tanya Sara kemudian.


Agaknya sudah sekian tahun berjalan, dan kini saatnya melakukan branding dengan waralaba miliknya. Melihat Marsha, rasanya Sara ingin menjadikan Marsha sebagai brand Ambassador Coffee Bay.


“Reputasi saya tidak bagus di pasaran di Sara … publik terlanjur menghakimi saya dulu. Saya takut kalau itu justru menjatuhkan brand Ibu Sara,” jawab Marsha dengan jujur.


Ada gelengan samar dari kepala Sara, “Itu hanya penilaian publik. Bagi saya, tidak masalah. Lagipula, saya mau launching untuk toast. Bisa enggak melibat Bumil ini sebagai BA Coffee Bay & Toast?” tanya Sara kemudian.


Sebenarnya tawaran ini cukup membahagiakan untuk Marsha. Mengingat dirinya yang tidak lama lagi melahirkan, tentu ini menjadi berkah tersendiri bagi bayinya.


“Saya coba obrolkan dengan suami dulu ya Bu … kesepakatannya bagaimana, nanti kami akan menemui Bu Sara. Bu Sara yakin, mau memakai saya sebagai BA? Mengingat buruknya reputasi saya di masa lalu?” tanya Marsha lagi meyakinkan Sara.


“Tidak masalah, Marsha … apa pun hasilnya kita lihat nanti. Bisnis pun pertaruhan. Bisa melejit, dan juga bisa jatuh. Santai saja, jangan merasa terbebani,” balas Sara.


“Mama … Sayang, kami nyariin loh,” ucap Belva.


“Mama, Evan nyariin Mama,” teriak Evan dengan menghambur untuk memeluk Sara.


“Ini Nak … Mama baru ngobrol sama Onty Marsha,” balasnya.


Marsha tersenyum, melihat formasi lengkap keluarga Belva Agastya yang terasa hangat dan juga penuh cinta membuatnya ingin juga memiliki keluarga kecil yang hangat seperti ini.


“Hai Onty,” sapa Evan dengan ramah.


“Hai … nama kamu siapa?” balas Marsha.

__ADS_1


“Namaku Evan, Onty … aku Kakaknya Elkan,” balas Evan yang dengan bangga mengenalkan dirinya sebagai Kakaknya Elkan.


“Pinter banget sih Evan,” sahut Marsha.


Setelahnya, Abraham pun menyusul untuk bergabung dengan memanggul tas khusus kamera DSLR di bahunya.


“Pak Belva, sudah semua yah? Nanti aku cek dan edit fotonya dulu ya Pak Belva,” ucap Abraham,


“Iya, seperti biasa saja ya Bram,” balas Belva.


Kemudian Abraham pun menganggukkan kepalanya, “Siap Pak Bos,” balasnya dengan mengangkat tangan tanda hormat.


Di kesempatan ini juga, Sara kembali mengucapkan itikad baiknya. “Mas Abraham, saya mau memakai Marsha sebagai Brand Ambassador Coffee Bay boleh tidak? Sudah bertahun-tahun dan memerlukan re-branding,” ucap Sara.


Belva pun tersenyum melihat istrinya yang langsung melakukan kerja sama dengan Marsha itu. Sedikit mengamati cara pendekatan istrinya itu sebagai pemilik waralaba Coffee Bay itu.


“Kalau saya, tidak masalah sih Bu Sara … saya mendukung keputusan istri saja,” balas Abraham.


Belva kemudian berdehem, “Kalian berdua yang jadi BA-nya juga tidak masalah … nanti untuk harga bisa ngobrol sama saya,” balas Belva.


Hingga akhirnya, mereka pun tertawa. Ajang pesta ulang tahun yang justru dimanfaatkan untuk menjalin kerja sama bisnis. Rasanya menggelikan, tetapi kesempatan tidak akan datang dua kali bukan?


🍃🍃🍃


Dear My Besties,


Aku mau kasih tahu rekomendasi cerita seru untuk kalian semua yah. Bisa silakan mampir dan berikan dukungan yah untuk cerita berikut.


• Fake Love karya Mayya_zha

__ADS_1



__ADS_2