
Keesokan paginya, saat Sara tengah menjemur Baby Evan di balkon, Anin tampak menghampiri Sara. Wanita itu memgamati bagaimana cara menjemur baby yang benar. Kali ini, Anin benar-benar berketetapan untuk bisa belajar dari Sara.
"Kenapa matanya harus ditutupi Sara?" tanya Anin kepada Sara. Sebab, Anin melihat Sara menutupi mata Evan dengan penutup mata.
"Oh, supaya matanya tidak silau dan terkena sinar matahari secara langsung, Kak," jawab Sara.
Anin tampak mengangguk, wanita itu tersenyum dan beberapa kali menowel pipi dan paha Baby Evan yang terlihat menggemaskan.
"Berapa lama baby harus dijemur Sara?" tanya Anin lagi.
"Tidak lama Kak, hanya 10 sampai 15 menit. Biasanya 40 hari pertama hidupnya, usahakan rutin dijemur, Kak. Selebihnya bisa terserah saja sih, tapi rutin dijemur juga tidak masalah supaya Evan mendapatkan Vitamin D dari Sinar Matahari di pagi hari," balas Sara.
"Wah, ternyata jadi Ibu itu harus belajar banyak hal yah. Sama seperti kamu yang punya pengetahuan banyak tentang merawat bayi," sahut Anin.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak Kak ... aku pun masih belajar. Ya, setidaknya sedikit-sedikit aku tahu," jawabnya.
Selang sepuluh menit berlalu, Anin masih mengikuti Sara masuk ke dalam kamarnya dan membawa baby Evan. Agaknya kali ini, Anin akan benar-benar belajar langsung dari Sara.
"Setelah menjemur Evan, apalagi yang harus dilakukan Sara?" tanya Anin.
"Kalau aku biasanya akan memberikannya ASI terlebih dahulu, Kak. Setelahnya baru memandikan Evan," balas Sara.
Kemudian Sara membawa baby Evan dalam pangkuannya dan segera memberikan ASI langsung dari sumbernya untuk Evan.
"Maaf ya Kak, aku kasih ASI buat Evan dulu," ucap Sara saat hendak mengeluarkan sumber ASInya.
Anin pun mengangguk, "Iya, tidak masalah. Kita sama-sama wanita. Biarkan aku di sini ya Sara, aku ingin belajar banyak hal darimu," ucap wanita itu.
"Iya Kak ... aku akan mengajari sampai kamu bisa, Kak," balas Sara.
Melihat Evan yang begitu kuat menghisap ASI, Anin pun tampak terkejut. Tidak mengira bayi sekecil itu, tetapi sudah meminum ASI dengan begitu lahapnya.
__ADS_1
"Evan memang minumnya banyak Kak, apalagi usai berjemur. Dia seolah kehausan banget," ungkap Sara kepada Anin.
"Oh ... begitu yah. Menyusui itu rasanya bagaimana Sara?" tanya Anin kemudian.
Pertanyaan yang sukar dijawab sebenarnya oleh Sara, tetapi agaknya Anin membutuhkan jawaban darinya.
"Ya, seperti ini Kak. Kadang geli sih, tetapi lihat Evan yang damai gitu, rasanya ikut seneng," ungkap Sara.
Lagi-lagi Anin mengangguk. Maklum karena sebagai wanita, Anin tidak pernah merasakan bagaimana mengandung, melahirkan, hingga memberikan ASI untuk bayi. Sehingga kali ini, Anin bertanya banyak hal kepada Sara.
Usai memberikan ASI untuk Evan, Sara hendak mempersiapkan mandi untuk putranya itu. Merasa ada Anin dan wanita itu terlihat penasaran, Sara pun melibatkan Anin untuk merawat Evan.
"Boleh gendongkan Evan sebentar Kak?" tanya Sara.
"Gimana caranya? Kalau diajarin sih mau," jawab Anin.
Dengan segera Sara menempatkan baby Evan di tangan Anin. Membenarkan posisi tangan wanita itu. "Nah, seperti ini. Nitip sebentar ya Kak, aku akan siapkan air untuk mandinya Evan," ucap Sara.
Ya, setidaknya dia tidak ingin egois. Anin juga berhak atas Evan. Untuk itu, Sara melibatkan Anin untuk menjaga Evan.
Seakan-akan, Anin akan menyimpan semua memori berharga itu dan mungkin hari yang dia nantikan untuk merawat Evan tiba. Untuk itu, Anin benar-benar mengingat setiap hal yang Sara lakukan.
Setelah makan, Sara segera membungkus tubuh Evan dengan menggunakan handuk yang lembut. Membawa bayi kecil itu ke ranjangnya dan akan mengenakan baju untuk Evan.
Sara memberikan sebuah diapers kepada Anin, "Mau belajar memakaikannya Kak?" tawar Sara.
Sekalipun ragu, rupanya Anin pun mengangguk, "Oke baiklah ... ajarin ya," sahut Anin.
"Diapers ini tipe perekat Kak, jadi angkat sedikit kaki bayi, lalu taruh diapers itu. Atur rupanya benar, kemudian rekatkan," jelas Sara.
Anin pun mengikuti ucapan Sara, dan mulai memasangkan diapers itu untuk Evan. Benar-benar pengalaman baru dan berharga bagi Anin.
__ADS_1
"Sudah benar Sara?" tanya Anin kemudian kepada Sara.
Sara tampak mengangguk, "Iya ... sudah benar. Nanti kalau tali pusar Evan sudah lepas, bisa mengganti diapers tipe perekat ini dengan tipe celana," jelas Sara lagi.
"Oke Sara ... nanti aku belikan diapers tipe celana untuk Evan ya. Jadi begitu tali pusatnya lepas, dia bisa memakai diapers tipe celana," jawab Anin.
Usai memakaikan diapers, Sara sekaligus mengajari Anin bagaimana caranya memakaikan pakaian untuk Evan. Pelan-pelan Sara mengajari Anin. Bahkan Sara terlihat begitu sabar.
"Wah, agaknya aku sudah belajar banyak hal, tetapi tetap saja ini semua belum seberapa ya Sara?" tanya Anin.
"Tidak apa-apa, Kak. Belajar pelan-pelan nanti pasti bisa semuanya kok," sahut Sara.
Setelah baby Evan telah memakai pakaian lengkap, Anin lantas hendak meminta izin kepada Sara.
"Boleh aku menggendongnya dan membawanya kepada Belva?" tanya Anin.
Sara pun mengangguk, ya Sara menempatkan Baby Evan dalam gendongan kedua tangan Anin. "Ini Kak, Hati-hati ya Kak," ucap Sara.
Setelah merasa bahwa baby Evan aman dalam gendongannya, Anin perlahan-lahan berjalan dan membawa bayi itu mendatangi Papanya yaitu Belva.
"Hei Papa," ucap Anin sembari mendekati Belva yang rupanya hendak memasuki kamar Sara.
"Oh, Hei ... putranya Papa," balas pria itu. Belva lantas mengecup pipi Evan, "Kamu sudah mandi ya Nak? Sudah keren nih putranya Papa," ucap pria itu lagi.
"Iya Pa ... tadi Evan mandi sama Bunda," sahut Anin.
Beberapa meter jaraknya, Sara mengamati interaksi pasangan suami istri itu bersama Evan. Terlihat sempurna, terlebih dengan hadirnya Evan di tengah-tengah Belva dan Sara. Pemandangan yang indah bagi Sara, tetapi sekaligus menyesakkan hatinya.
Hanya menunggu masanya tiba, dan aku tidak akan ada lagi di antara kalian.
Kalian bertiga terlihat bahagia dan saling memiliki satu sama lain.
__ADS_1
Menegaskan kembali siapa aku dan posisiku di antara kalian bertiga.
Sara bergumam lirih dengan menggenggam erat handuk Evan di tangannya. Di depan pintu kamarnya, sepasang orang tua tampak bahagia dengan bayi mereka. Sementara di dalam kamar, Sara tengah membereskan kembali peralatan Evan dan membersihkan ranjang. Pemandangan yang sangat kontradiktif, tetapi Sara juga tidak akan hadir di antara mereka bertiga. Memberi waktu bagi ketiganya, sekalipun hatinya terasa sakit karena putra yang dia lahirnya pada akhirnya akan menjadi milik Belva dan Anin.