Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Mood yang Membaik


__ADS_3

Sepanjang hari berada di kantor Agastya Property, nyatanya tidak membuat uring-uringan. Melihat bahwa impiannya akan menjadi nyata, Belva merasa bahwa dirinya harus kian giat bekerja untuk mencukupi kebutuhan anaknya kelak. Tidak akan membiarkan anaknya hidup menderita. Bahkan pria itu merelakan jam makan siangnya untuk terus bekerja.


"Pak Belva, Anda tidak istirahat dan makan siang?" tanya Hendra, Sekretarisnya yang menanyai apakah Bosnya itu tidak istirahat dan makan siang terlebih dahulu.


Akan tetapi, Belva menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku akan makan di rumah saja, belikan aku Orange Juss saja," Pintanya kini kepada Hendra.


"Ah, tunggu dulu, Hen, bisa tolong gantikan pengharum ruangan di ruanganku ini dengan pengharum ruangan yang beraroma Jeruk Pomello?" tanyanya kepada Hendra.


Sang sekretaris pun mengernyitkan keningnya, "Jeruk Pomello tidak ada Pak? Itu hanya aroma parfum mahal keluaran Paris saja. Yang ada aroma jeruk atau lemon saja," jawab Hendra.


"Baiklah, yang penting ganti pengharum ruangan ini dengan aroma jeruk yang segar," jawab Belva kemudian.


Sepeninggal Hendra, Belva pun tersenyum, "Kenapa aku menjadi ingin menghirup aroma Jeruk Pomello terus. Rasanya aku sangat mual jika tidak menghirup aroma itu. Apa aku harus membelikan parfum keluaran Paris itu untuk Sara?" Pria itu bergumam sendiri dan berpikir untuk membelikan parfum dengan aroma Jeruk Pomello itu.

__ADS_1


Sementara di ruangannya Hendra pun tampak merasakan ada hal yang janggal dari Bosnya. Sejak pagi Belva yang senyum-senyum sendiri, hingga tiba-tiba Bosnya itu menyukai aroma Jeruk. Padahal biasanya, Belva tidak pernah menyukai aroma itu sebelumnya.


Alih-alih memesan Orange Juss, Bossnya itu justru lebih memilih untuk meminum kopi. Hendra sudah bekerja bersama Belva kurang lebih 4 tahun, sehingga sudah pasti Hendra tahu apa yang disukai Bossnya itu. Akan tetapi, karena perkataan Boss adalah sebuah perintah, maka Hendra pun harus membawakan Orange Juss untuk Belva, dan sepulang kantor nanti Hendra akan mengganti aroma pengharum ruangan Bossnya dengan wangi Jeruk.


Selang lima belas menit, Hendra pun kembali memasuki ruangan Bossnya dengan membawa segelas Orange Juss.


“Pak Belva, silakan Orange Jussnya, dan ini sementara saya belikan pengharum ruangan beraroma jeruk untuk ruangan Pak Belva. Nanti sore, saya ganti dan minta cleaning servis untuk memasang pengharum ruangan di bagian AC,” ucap Hendra.


“Oke, Thanks Hen,” jawab Belva dengan singkat.


[To: Sara]


[Sara, bagaimana keadaanmu?]

__ADS_1


[Kamu tidak mual dan muntahkan?]


Pesan itu meluncur dengan cepat ke dalam handphone Sara, sayangnya Sara di rumah sedang tidak memegang handphonenya. Sehingga Belva pun seolah-olah menunggu hingga Sara membalas pesan.


Hampir dua jam, pesan itu baru terbawa, dan terlihat di layar handphonenya bahwa Sara sedang mengetik, hingga tidak berselang lama, terdapat pesan balasan dari Sara.


[To: Pak Belva]


[Sorry baru balas Pak.]


[Aku tadi ngobrol ke ruang depan dengan Kak Anin, dia sudah datang dari Semarang.]


[Aku sehat dan baik-baik saja.]

__ADS_1


Membaca balasan dari Sara, Belva kemudian tersenyum, “Nikmatilah waktumu, Sara … mendengar bahwa kamu sehat dan baik-baik saja, aku sangat bersyukur. Moodku benar-benar baik hari ini karenamu dan buah hati yang ada di dalam rahimmu. Bahkan aku bisa mentolerir kesalahan beberapa staf hari ini. Kehadiran buah hati kita benar-benar membuatku bahagia,” pria itu bergumam sembari menatap pesan yang Sara berikan padanya.


__ADS_2