
Sementara itu di rumah, Sara masih bermain dengan Evan. Setidaknya jika menghabiskan waktu bersama Evan, waktu akan cepat berjalan. Lagipula, ada saja yang Evan lakukan mulai dari bersikap manis, terkadang berteriak, atau melakukan hal-hal yang lucu lainnya. Semua itu membuat Sara begitu bahagia membersamai tumbuh kembang Evan.
“Mama kok ketawa sih?” tanya Evan yang saat itu melihat Sara tengah tertawa.
“Iya, kamu lucu banget sih Van … siapa yang mengajari kamu joged-joged kayak gitu?” tanya Sara.
“Enggak ada dong Ma … Evan lihat di Youtube kok Ma,” balasnya.
Sara terkekeh geli, rupanya putranya itu kini tengah dalam tahap menirukan apa yang dia lihat. Tidak jarang Evan mengikuti apa yang dia lihat di saluran menonton video itu. Aksinya memang lucu, tetapi Sara berpikir bahwa dirinya harus menemani Evan menonton supaya apa yang dilihat anaknya adalah tontonan yang sesuai dengan umurnya. Tidak menonton konten-konten dewasa yang bisa ada di dalam saluran menonton video itu.
“Kamu happy banget sih Van,” balas Sara kali ini dengan masih tertawa dan melihat aksi lucu Evan.
“Ya, Ma … i am happy now,” balasnya dengan masih berjoged-joged absurb menirukan gerakan di saluran Youtube itu.
“Kalau sudah istirahat, Van … jangan sampai kecapekan,” ucap Sara mengingatkan kepada Evan.
Perlahan Evan menghentikan jogedannya, kemudian mengambil tempat duduk di samping Mamanya.
“Evan senang lihat Mama tertawa,” ucapnya.
Rupanya anak sekecil Evan pun bisa merasa bahagia karena melihat Mamanya tertawa. Sebuah pengungkapan rasa yang begitu tulus dan sederhana dari anak seusia Evan. Sebab, memang anak-anak menyukai tawa kebahagiaan. Tidak jarang melihat orang tua yang sedih dan murung, anak-anak pun menjadi sedih dan murung, bahkan ada beberapa yang mengalami tantrum.
“Makasih Van … wah, Mama jadi bahagia deh.” Sara membalas sembari merangkul bahu putranya itu.
Terbesit sebuah pikiran bahwa Evan adalah anak yang pandai. Bisa berlogika dengan baik, bisa menyampaikan perasaannya dengan baik. Hanya saja Sara menyadari bahwa secara sosial, tumbuh kembang Evan memang kurang karena di rumah Evan hanya menghabiskan waktu bersamanya, atau pun di Bogor dengan bermain dengan Jerome. Padahal anak juga harus berkembang secara sosial, supaya mereka belajar berempati, bersimpati, berbagi, dan berbagai hal lainnya.
“Kapan-kapan Evan mau enggak sekolah?” tanya Sara kepada putranya itu.
__ADS_1
“Mau Ma … Evan mau sekolah,” balas Evan.
“Ya sudah, nanti Mama daftarkan ke Playgroup ya Evan. Biar Evan belajar berteman,” balas Sara.
Jika kebanyakan orang tua menuntut anak-anak bersekolah supaya pintar, lain halnya dengan Sara yang justru menyekolahkan Evan supaya Evan belajar berteman. Lagipula, akan sangat baik bagi perkembangan kompetensi sosial Evan.
“Ya sudah … nanti coba Mama akan bicara sama Papa yah, kalau Papa setuju nanti Evan belajar berteman di sekolah yah,” balas Sara.
“Oke Ma … Mama, Evan mau makan dong,” pinta Evan kali ini kepada Mamanya.
Sara menganggukkan kepalanya, “Tunggu di sini yah, Mama ambilkan dulu makanan buat kamu,” balasnya.
***
Sementara itu di saat Belva masih merapikan meja kerjanya dan memberikan berbagai instruksi khusus kepada Ridwan, sekretarisnya. Belva mendengarkan bahwa handphonenya tengah berdering. Belva pun meminta Ridwan untuk keluar dari ruangannya terlebih dahulu, kemudian Belva mengernyitkan keningnya karena yang memanggilnya sekarang adalah nomor telepon rumahnya.
“Pak Belva, ini Bibi Wati,” rupanya yang menelpon sing itu adalah Bibi Wati, ART di rumahnya.
“Ya Bi, ada apa?” sahut Belva.
“Pak Belva bisa segera pulang? Maaf Pak … ini Mbak Sara habis jatuh,” ucap Bibi Wati yang menyampaikan pesan kepada Belva.
“Apa?” sahut Belva dengan jantungnya yang berdetak dengan lebih cepat. Sungguh tidak mengira dengan kabar yang baru saja dia dengar.
Mendengar Sara yang jatuh, pikirannya menjadi kemana-mana. Terlebih kondisi Sara tengah hamil. Seolah Belva tidak lagi berpikir dengan jernih. Pria itu setengah berlari keluar dari ruangannya.
“Saya pulang sekarang,” balas Belva sembari mematikan telepon itu.
__ADS_1
Yang Belva pikirkan adalah ingin bisa sampai di rumah. Melihat bagaimana kondisi Sara sekarang ini. Semoga saja tidak ada yang serius dengan kondisi Sara sekarang ini. Apa yang Sara lakukan sampai bisa terjatuh? Membayangkan semua itu, Belva benar-benar menyesal. Tiga hari tidak memberikan perhatian untuk Sara, hari ini dia justru harus menerima kabar buruk bahwa istrinya itu terjatuh. Dalam hatinya, Belva berdoa supaya Sara dan kandungannya akan selalu baik-baik.
“Tunggu aku, Sara … aku akan pulang sekarang. Aku akan segera menemuimu,” ucap Belva dengan melajukan mobilnya sekencang yang dia bisa untuk bisa segera tiba di rumah.
***
Sementara itu di rumah ...
Sara yang semula berdiri dan berjalan menuju dapur tiba-tiba terhuyung, hingga wanita itu pun terjatuh. Niatnya ke dapur adalah untuk mengambilkan makan siang untuk Evan. Terlebih memang sudah waktunya makan siang, dan Evan meminta makan. Maka, Sara pun segera menuju ke dapur dan setelahnya ingin menyuapi Evan.
Akan tetapi, perjalanan dari ruang bermain menuju ke dapur itu, Sara merasakan pandangannya mengabur. Keringat dingin tiba-tiba dia rasakan di sekujur tubuhnya, sampai rasanya badan Sara perlahan-lahan rasanya ringin. Berjalan kaki dan berusaha menahan tubuhnya, Sara beberapa kali memejamkan mata. Wanita itu menghela nafas dan berharap bisa sampai di dapur. Namun, belum sampai Sara tiba di dapur, wanita itu lebih dulu terjatuh. Pandangannya yang semula mengabur, perlahan hanya kegelapan yang Sara rasakan.
"Bibi," panggil Sara dengan sedikit berteriak ketika dia terjatuh.
Sara memanggil asisten rumah tangganya dan berharap bisa segera menolongnya. Melihat Sara yang sudah terjatuh di lantai, dengan wajah yang begitu pucat, dan badannya yang dingin. Membuat Bibi Wati begitu panik.
"Ya ampun ... Mbak Sara ... Mbak Sara kenapa to?" tanya Bibi Wati yang menolong Sara untuk berdiri, dan mendudukkannya di kursi.
"Ini badannya Mbak Sara dingin semuanya, wajahnya Mbak Sara pucat kayak gini. Sebentar saya teleponkan Pak Belva dulu ya Mbak Sara," ucap Bibi Wati lagi dengan begitu panik.
"Gak usah, Bi," balas Sara. Sesungguhnya Sara tidak ingin Bibi Wati menelpon Belva karena Sara tahu bahwa pekerjaan Belva sedang begitu banyak. Sara tidak ingin memecah konsentrasi Belva.
"Enggak Mbak ... Mbak Sara sakit kayak gini, Pak Belva harus tahu," balas Bibi Wati.
Saat Bibi Wati menelpon Belva dengan menggunakan telepon rumah, Evan rupanya keluar dari ruang bermain. Evan melihat Mamanya yang bersandar duduk di sofa. Seketika Evan berlari dan memeluk Mamanya itu.
"Ma, Mama kenapa Ma?" tanyanya.
__ADS_1
Mungkin karena panik, Evan sudah menangis dan masih memeluk Sara. Ada rasa sedih yang Evan rasakan karena Mamanya yang semula baik-baik saja, tiba-tiba terlihat pucat dan seolah menahan kesakitan sekarang ini.