Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Berbagi Cerita


__ADS_3

Tidak terasa, tiga hari benar-benar telah berlalu. Kegiatan Sara dan Belva tidak jauh dari ranjang. Dalam tiga hari, agaknya Belva benar-benar menggunakan kartu akses yang dia miliki dengan maksimal. Kendati demikian, Belva tetap menjeda rutinitas panasnya dan tetap memberikan perhatian yang maksimal untuk Sara.


Hari ini adalah hari ketiga dari bulan madu mereka. Sebagaimana kesepakatan Sara dan Belva di awal bahwa pada hari ketiga, Evan akan menyusul ke Bintan bersama keluarga Amara. Tentu saja Sara merasa senang karena dirinya juga sudah begitu rindu dengan putrannya, Evan.


“Kita ke bandara jemput Evan jam berapa Mas?” tanya Sara kali ini kepada suaminya itu.


“Nanti jam 14.00 Sayang … kita masih bisa bersantai dulu,” balas Belva.


Sara akhirnya memilih untuk duduk di tepi kolam renang pribadi yang berada di dalam kamarnya itu. Mencelupkan kakinya di dalam kolamnya, sembari menggerakkannya perlahan. Sungguh, kala ini Sara layaknya seorang anak kecil yang sedang bermain air.


Tak ingin jauh dari Sara, Belva kemudian mengambil tempat duduk di samping Sara. Pria itu juga memasukkan kakinya ke dalam air kolam yang dingin itu, dengan satu tangan yang melingkari pinggang Sara.


“Kamu bisa renang?” tanya Belva dengan tiba-tiba.


Terlihat Sara yang menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Enggak … aku enggak bisa renang. Aku bukan wanita yang memiliki banyak kemampuan, Mas … yang aku bisa pun juga sangat terbatas,” balas Sara.


Belva seketika memandang ke arah istrinya itu, “Jangan begitu … di mataku, kamu tetap adalah seorang wanita hebat,” balas Belva dengan tulus dan sungguh-sungguh.


Sara begitu menyadari bahwa latar belakangnya dari keluarga yang tidak mampu, kemudian tidak bisa memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan diri, membuat Sara mengakui bahwa dirinya tidak banyak memiliki kemampuan. Dirinya bisa bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi saja sudah begitu baik. Kendati demikian memang tidak dipungkiri bahwa Sara tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan diri dan potensi dalam hidupnya.


“Tidak apa-apa Mas … aku sepenuhnya sadar diri kok. Namun, mau bagaimana lagi … inilah aku,” respons Sara kali ini.


Menyadari bahwa mungkin kali ini Sara tengah insecure, perlahan Belva pun mendekat dan merangkul bahu istrinya itu. Mengusapi lengannya perlahan dengan gerakan naik dan turun. Berharap bahwa tindakannya kali ini bisa menenangkan istrinya itu.

__ADS_1


“Kapan-kapan aku ajarin berenang mau?” tawar Belva kali ini kepada istrinya itu. Menjadi instruktur renang untuk istrinya sendiri juga tidak masalah bagi Belva.


“Aku takut,” jawab Sara dengan lirih.


“Takut kenapa?” tanya Belva.


“Takut tenggelam,” balas Sara lagi.


Belva lantas mengutas senyuman di wajahnya sembari menatap ke arah istrinya itu, “Aku temenin … aku ajarin sampai bisa. Evan saja, aku loh yang ajarin renang,” ucap Belva kali ini.


“Evan bisa renang?” tanya Sara dengan heran.


“Bisa … Evan sudah jago renangnya,” jawab Belva. “Mengisi kekosongan dan menghilangkan rasa sedih di hatinya, aku memang kasih banyak aktivitas buat Evan,” cerita Belva kini.


“Kamu adalah seorang Papa yang baik,” balas Sara kini kepada suaminya. “Aku tahu, dalam dua tahun terakhir pasti sangat berat buat kamu. Namun, kamu bisa menjalaninya. Kamu bisa bertahan. Kamu adalah Papa yang sangat baik buat Evan. Suatu hari nanti Evan pasti akan sangat bangga kepada Papanya,” ucap Sara kini kepada Belva.


Membesarkan seorang anak sendiri memang tidak mudah. Namun, Belva bisa melakukannya. Di mata Sara, tentu saja bahwa Belva Agastya adalah seorang Papa yang baik.


“Apa iya?” tanya Belva kepada Sara.


Dengan cepat Sara menganggukkan kepalanya, “Iya … tidak mudah menjalani hari demi hari selama dua tahun terakhir,” jawab Sara.


“Jadi, maukah kamu terus menemaniku dan tidak akan pernah lagi meninggalkanku?” tanya Belva kali ini kepada Sara.

__ADS_1


Ada anggukan samar berbalut dengan senyuman simpul di sudut bibir Sara. Wanita itu menggerakkan tangannya dan menggenggam tangan Belva. “Iya, aku mau,” jawab Sara.


“Janji?” tanya Belva lagi.


Sara lantas mengangkat jari kelingkingannya ke hadapan Belva, “Janji,” balasnya.


Belva kemudian menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sara. Keduanya sama-sama berjanji bahwa mereka akan selalu bersama dan akan saling menemani satu sama lain.


“Dulu … aku memintamu untuk tinggal, bukan semata-mata untuk Evan. Dulu, aku memintamu tinggal karena aku begitu mencintaimu dan tidak ingin melepasmu, Sara,” aku Belva kali ini.


“Maaf Mas, hanya saja dulu aku tidak bisa menjadi yang kedua di antara kamu dan almarhumah. Berbagi itu sukar dan membuat kepedihan di dalam hati. Namun, Almarhumah begitu baik dan dia benar-benar baik hingga di ujung usianya. Aku berharap Allah akan menempatkan Almarhumah di surga-Nya,” respons Sara kali ini.


“Amin. Awalnya aku juga ragu, tetapi dia benar-benar serius dengan perkataannya bahwa dia mau berbagi suaminya. Namun, dia memberikan syarat bahwa aku hanya boleh menikahi kamu. Dia tidak akan mengizinkan aku menikahi wanita lain,” cerita Belva kini kepada Sara.


Mendengar ucapan Belva, Sara pun menyipitkan keduanya mata dengan menghela nafas yang begitu berat rasanya. “Kenapa bisa begitu Mas?” tanyanya kepada Belva.


“Di mata Almarhumah, kamu adalah wanita baik. Wanita yang mau mewujudkan keinginannya, wanita yang justru tidak ingin merebutku darinya. Berkali-kali dia memintamu untuk tinggal di sisiku, tetapi kamu menolaknya. Baginya, itu adalah bukti bahwa kamu tidak ingin merebutku begitu saja darinya,” cerita Belva kini kepada Sara.


Rasanya Sara begitu tertegun kali ini. Benarkah bahwa mendiang Kak Anin berpikiran demikian. Jika memang demikian, Sara seakan tidak menyesali keputusannya untuk pergi dari Belva. Setidaknya dia memberikan waktu berkualitas bagi mendiang Anin untuk bersama Belva dan juga Evan. Waktu terbaik dalam hidup mendiang Anin.


“Sekarang, aku memintamu untuk selalu tinggal di sisiku. Aral rintangan bisa datang dan mewarnai perjalanan rumah tangga kita. Akan tetapi, kumohon tetaplah di sisiku. Aku mencintaimu Sara,” ucap Belva lagi kali ini.


Ya, Belva meminta, tidak bahkan dia memohon dengan sungguh-sungguh supaya Sara mau tinggal di sisinya sebagai satu-satunya wanita di hidupnya kini. Wanita yang dulu pernah masuk ke dalam hidup Belva dengan pesonanya sendiri, dan kini wanita tersebut akhirnya menjadi satu-satunya ratu di dalam hidup Belva Agastya.

__ADS_1


__ADS_2