
Sara sendiri sebenarnya begitu enggan untuk melepas Belva untuk pergi ke luar kota. Akan tetapi, mengingat bahwa suaminya itu harus pergi untuk melakukan survei lahan, maka Sara pun mau tidak mau akan mengizinkan suaminya itu pergi untuk berdinas ke Kota Pahlawan selama tiga hari lamanya.
Kini, Sara hanya berada di rumah bersama Evan. Rasanya memang beda jika berada di rumah hanya sekadar menunggu Belva pulang dari kantor, dan berada di dengan keadaan Belva yang harus bekerja ke luar kota.
“Mama, Mama jangan menangis yah Ma … kan ada Evan, Evan akan temenin Mama kok. Evan kan anak baik, Ma … Evan akan jaga Mama dan Adik Bayi,” ucap Evan yang sembari bermain Lego itu.
Sekalipun Evan sedang fokus bermian Lego, rupanya Evan bisa berbicara dan sesekali menatap wajah Sara.
Mendengarkan setiap ucapan dari Evan membuat Sara perlahan menganggukkan kepalanya, wanita itu membuka kedua tangannya dan mengisyaratkan kepada Evan untuk memeluknya.
“Evan, boleh peluk Mama dulu?” tanya Sara kepada putranya itu.
Dengan cepat Evan melepas mainan Lego dari tangannya dan kemudian segera memeluk Mamanya itu. “Evan sayang Mama,” ucap Evan dengan masuk dalam pelukan Mamanya itu.
Ya Tuhan, memiliki anak sebaik dan sepengertian Evan membuat Sara begitu bahagia. Putra yang dia kandung dan besarnya benar-benar menjadi sosok pribadi yang sangat baik.
Terlebih daripada itu, ucapan Evan justru membuat Sara merasa dikuatkan. Hatinya yang semula bersedih karena harus berpisah dari Belva untuk tiga hari ke depan, sedikit terobati dengan keberadaan Evan.
“Makasih Evannya Mama … kamu sudah bikin Mama agak tenang. Maaf ya Nak … tadi Mama sedih dan menangis karena Mama kangen sama Papa kamu,” aku Sara dengan jujur.
“Iya Ma … tidak apa-apa kok. Dulu Evan waktu masih bayi juga sering menangis kok waktu Papa bekerja, tetapi sekarang tidak lagi karena Evan punya Mama yang mengasuh Evan sepanjang hari. Makasih Ma, selalu mengasuh Evan.” Evan mengatakan semuanya itu dengan tulus. Wajah anak itu tersenyum dengan kedua bola mata yang berbinar.
Evan yang masih kecil pun bisa memberikan contoh nyata bahwa dulu dirinya waktu masih bayi juga menangis saat Belva harus bekerja dan meninggalkannya. Akan tetapi, sekarang Evan merasa bersyukur karena sekarang dirinya memiliki Mama Sara yang menjaganya dan mengasuhnya sepanjang hari. Anak sekecil Evan pun bisa merasakan betapa bahagianya memiliki seorang Ibu yang selalu ada untuknya.
“Mama akan selalu mengasuh kamu, Evan … Mama sayang banget sama kamu,” balas Sara.
__ADS_1
Lagi-lagi wanita itu berlinangan air mata mendengarkan perkataan Evan yang dengan begitu mudahnya menggetarkan hatinya. Perkataan tulus seorang anak kepada Ibunya.
“Ma, ini sudah malam … Evan rapikan mainannya dulu, habis ini Evan bobok ya Ma, Evan udah mengantuk,” ucap Evan yang sudah menguap itu.
“Iya Nak … yuk, Mama bantuin beresin mainan. Itu sikap yang baik Kak Evan, kamu mau bermain dan bisa merapikan mainan sendiri. Kak Evan hebat!” Sara memuji Evan untuk apa yang sudah dilakukan Evan. Bisa bermain dan merapikan mainannya sendiri tentu adalah sebuah sikap yang sangat baik.
Selesai merapikan mainan dan memasukkannya ke dalam tempatnya, Sara kemudian membantu Evan untuk menggosok gigi terlebih dahulu, kemudian Sara membacakan buku dongeng untuk Evan, rutinitas setiap malam bersama putranya itu. Hingga sampai pada akhirnya Evan pun sudah terlelap.
Sara kemudian kembali ke dalam kamarnya, wanita itu tiba-tiba saja berlinangan air mata karena malam ini harus tidur sendiri tidak ada sosok suaminya yang menemaninya dan memeluknya sepanjang malam.
Kemudian Sara mengambil handphonenya dan melihat beberapa pesan yang dikirimkan oleh suaminya itu.
[From: Papa Belva]
[Aku baru saja landing di Surabaya. Jangan menangis terus yah … hanya dua malam, aku akan usahakan pulang cepat.]
[Malam ini Bumilku bobok sendiri dulu yah.]
[Hanya dua malam, setelah itu aku akan peluk lagi sampai pagi.]
Membaca pesan demi pesan yang dikirimkan oleh Belva nyatanya justru membuat air mata Sara mengalir dengan begitu derasnya.
“Mas, aku kangen,” ucap Sara seorang diri dengan terisak pilu.
Kali ini Sara harus tidur sendiri setelah menjadi istri Belva Agastya. Ditambah juga kondisinya saat ini yang sedang hamil, perubahan perasaan yang membuat Sara bersedih karena harus berpisah dari suaminya yang sedang bekerja di luar kota.
__ADS_1
Wanita yang tengah hamil kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang dan juga menangis begitu merasakan rindu yang luar biasa dalam kepada suaminya itu. Rupanya, tidak berselang lama masuk panggilan video dari Belva.
Sara menyeka terlebih dahulu buliran air mata di wajahnya, dan kemudian menggeser ikon berwarna hijau di layar handphonenya.
“Halo,” sapa Sara begitu melihat wajah tampan suaminya memenuhi layar handphonenya.
Di seberang sana Belva tampak tersenyum, “Halo Sayang … kamu masih menangis?” tanya Belva.
“Aku kangen,” balas Sara dengan terisak.
Kemudian Belva di sana mengusap wajahnya, kedua mata pria itu juga tampak memerah dan juga seakan tidak tega melihat Sara yang begitu rindu dan benar-benar tidak bisa berpisah jauh darinya.
“Sama Sayang … aku juga kangen. Hanya saja, aku harus pergi. Hanya bekerja, Sayang. Janji!” balas Belva.
“Baru semalam saja, aku sudah kangen banget,” balas Sara kali ini.
“Sama, aku baru keluar dari rumah saja, aku sudah kangen banget sama kamu dan juga sama Evan,” ucap Belva kemudian.
Belva kemudian diam, dan kemudian menatap wajah sembab Sara dari layar handphonenya itu. Benar-benar tidak tega rasanya, jika tahu Sara akan sesedih ini rasanya Belva justru tidak ingin pergi ke Surabaya.
“Maaf ya Sayang … aku pun sama rindunya. Malarindu malahan, tetapi ini semua demi pekerjaan,” ucap Belva lagi.
“Jangan lama-lama ya Mas … bukan hanya aku dan Evan yang kangen. Babynya juga kangen sama Papanya, pengen diusapi perutnya sama Papanya,” balas Sara.
Sebenarnya perkataan itu begitu lucu, tetapi Belva tidak mempermasalahkannya. Justru Belva merasa senang karena sekarang ada Sara yang mengatakan bahwa dirinya merindukannya. Mengetahui bahwa ada Istri yang merindukanmu dari jauh dan berharap bisa segera bertemu membuat Belva rasanya ingin kembali terbang dari Surabaya ke Jakarta, menemui istrinya itu. Sayangnya, semua itu tidak bisa dilakukan Belva karena mengingat pentingnya pekerjaan ini.
__ADS_1