Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Pangggilan Video


__ADS_3

Cinta memang tidak bisa dipaksakan, cinta itu tertanda untuk seseorang yang nyatanya terus singgah di hati, sekalipun waktu telah berlalu. Sama seperti Sara yang hanya bisa berharap bahwa Zaid akan baik-baik saja. Sara yakin tidak mudah mengobati patah hati, tetapi bukan berarti tidak bisa sembuh. Waktu akan menyembuhkan semuanya, dan Sara benar-benar berharap bahwa Zaid akan baik-baik saja.


Lantas, Sara masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu memilih membersihkan dirinya, kemudian memasuki kamarnya. Sara memilih merebahkan dirinya dan mengingat setiap kata yang Belva ucapkan kepadanya. Kata-kata manis yang baru kali ini Sara dengan dari seorang Belva Agastya.


 “Aku lega … setelah bertahun-tahun berlalu, sekarang aku bisa mengatakan yang sesungguhnya kepadamu. Mesti kamu bukan yang pertama bagiku, tetapi aku pastikan bahwa kamu akan menjadi yang terakhir bagiku. Aku tidak akan singgah sesaat di hidupmu, melainkan aku akan berlabuh di hidupmu hingga ujung usiaku. Aku ingin menikahimu secepatnya, Sara.”


Perkataan itu seolah memenuhi isi kepala Sara, bahkan Sara mengingat bagaimana bibir Belva yang hangat berlabuh di atas bibirnya, memberikan cumbuan dan pagutan di sana. Sungguh, Sara tidak pernah mengira bahwa Belva akan menciumnya sedalam itu.


Layaknya orang yang tengah jatuh cinta, kini Sara justru memegangi bibirnya. Ini memang bukan ciuman pertamanya, tetapi rasanya seolah-olah ini adalah ciumannya pertamanya bersama Belva.


Bahkan terlintas, bagaimana dulu Belva mengajarinya untuk membalas ciumannya. Ya Tuhan, membayangkan semua itu saja, nyatanya Sara justru merasa geli dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Wanita itu memejamkan mata dengan mengingat kenangannya bersama Belva dulu.


***


Keesokan harinya …


Hari masih pagi, tetapi Sara terhenyak dengan handphonenya yang berdering kala itu. Sontak saja Sara mengerjap, dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, Sara pun menepuk-nepuk nakas di sebelah tempat tidurnya untuk menemukan sebuah handphone yang sedari tadi berdering. 


Kedua mata Sara terbuka saat mendapati nama yang tertera di layar handphonenya.


“Pak Belva,” gumam Sara dengan lirih sembari menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar handphone.


“Ya, pagi Pak Belva …,” sapa Sara dengan suaranya yang masih serak khas orang bangun tidur. Sara benar-benar tidak menyangka bahwa Belva akan menelponnya pagi itu.


“Hei, Sara … kamu sudah bangun?” tanyanya.


“Euhm, iya … baru saja bangun,” balas Sara.


“Aku alihkan ke panggilan video yah,” ucap Belva dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Mendengar bahwa Belva akan mengalihkan ke panggilan video, Sara mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di head board miliknya. Wanita itu mengucek sejenak matanya, dan merapikan rambutnya yang berantakan. Sementara di handphonenya sudah tertera panggilan video dari Belva Agastya.


“Hei, Sara,” sapa Belva begitu terlihat wajah Sara yang memenuhi layar handphonenya.


Di seberang sana, pria itu tersenyum. Tidak mengira pagi ini dirinya sudah begitu rindu kepada Sara dan ingin melihat wajah wanita yang dicintainya itu.


“Ya Pak Belva,” sahut Sara dengan singkat.


Di layar handphone itu terlihat Belva yang tersenyum menatap Sara dari kamera depan handphonenya, “Kamu baru bangun?” tanya Belva.


Sara pun menganggukkan kepalanya, seolah-olah tengah berhadapan dengan pria itu. “Iya Pak … baru bangun,” jawabnya.


“Cantik … baru bangun saja sudah cantik,” puji Belva dengan tiba-tiba.


Sara pun menundukkan wajahnya, begitu malu rasanya mendapatkan pujian dari Belva. Kendati hanya melalui panggilan video, tetapi rasanya Sara begitu tersipu malu.


“Gombal,” sahut Sara pada akhirnya.


Baru saja Belva ingin mengatakan hal yang lain, rupanya Evan datang dan memasuki kamar Belva.


“Morning Pap,” teriak Evan yang terdengar dari telepon pagi itu.


Evan berlari ke arah Belva dan melihat bahwa Papanya tengah menelpon sang Mama, sontak saja kini wajah Evan yang terlihat di layar handphone Sara.


“Hai, putranya Mama … kamu sudah bangun?” tanya Sara kepada putranya.


“Pagi Mama … Evan kangen Mama, Evan sayang Mama,” balas Evan yang sudah mengungkapkan rasa kangennya kepada Sara.


“Mama juga kangen kamu, Evan,” balas Sara.

__ADS_1


Jika tadi bersama Belva, Sara bisa tersenyum dan tersipu malu. Kini saat berbicara dengan Evan, kedua mata Sara tampak berkaca-kaca di sana. Begitu rindu dengan buah hati sendiri rasanya begitu membelenggunya.


“Mama, kapan Mama akan kembali hidup bersama kami. Jangan terlalu lama, Mama … Evan mau sama Mama,” ucap Evan kini.


“Papa, ayo … bawa Mama untuk tinggal bersama kita. Jadi keluarga utuh. Evan punya Mama dan Papa yang bertemu dan memeluk Evan setiap hari,” ucap Evan lagi kali ini kepada Papanya. Rupanya kali ini Evan memiliki keinginan untuk memiliki keluarga utuh. Keluarga yang terdiri dari Papa, Mama, dan juga dirinya. Bagi Evan akan terasa sangat menyenangkan jika dirinya memiliki keluarga yang utuh.


“Evan mau Papa bawa Mama ke mari?” tanya Belva.


“Iya … mau,” sahut Evan dengan terlihat begitu bersemangat. Bahkan Evan tersenyum lebar saat mengatakannya.


“Papa boleh menikahi Mama?” tanya Belva lagi.


“Boleh, boleh … boleh dong Pap,” jawab Evan. Anak berusia empat tahun itu justru begitu bahagia jika Papanya menikah lagi. Dengan Papanya yang menikah lagi sudah pasti dia akan memiliki seorang Mama yang menyayanginya.


Belva lantas meminta handphonenya dan mengarahkan layar kamera ke wajahnya dan Evan.


“Sara, kamu dengar sendiri ucapan Evan kan? Jadi, dua pekan cukup kan Sara?” tanya Belva kali ini.


“Cukup buat apa Pak?” tanya Sara yang justru tampak bingung. Sebab ucapan Belva terdengar begitu ambigu. Sehingga dia harus bertanya kepada Belva.


“Dua pekan cukup untuk bagimu bersiap menjadi pengantinku kan?” tanya Belva dengan spontans.


Pria itu mengutarakan niatannya kepada Sara dengan melakukan panggilan video dan juga wajahnya yang serius adalah bukti bahwa Belva sedang tidak main-main.


“Iya Ma … mau ya Ma … demi Evan dan Papa, Ma,” interupsi dari Evan.


“Bersiaplah Sara … dua pekan lagi aku akan meminangmu,” ucap Belva kali ini.


Rasanya Sara begitu kaget, tidak mengira Belva akan mengucapkan hal sedemikian penting kepadanya hanya melalui sambungan panggilan video. Sudah pasti Belva hanya bercanda dengannya. 

__ADS_1


“Hei, aku tidak bercanda Sara … aku akan membuktikannya dua pekan lagi,” sahut Belva dengan begitu yakin.


Agaknya kali ini Belva akan langsung bertindak tanpa memberikan janji-janji untuk Sara. Segera bertindak untuk meminang Sara. Memberikan bukti nyata bukan sekadar omong kosong belaka. Lagipula, Evan juga sudah memberikan lampu hijau bagi dirinya untuk menikah lagi. Sehingga makin yakinlah Belva untuk segera meminang Sara.


__ADS_2