Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Temanilah Sara


__ADS_3

Usai perdebatan yang cukup panjang di meja makan. Belva memilih untuk memasuki kamarnya lebih dahulu. Jujur saja sebagai pria, Belva telah berupaya dan mensupport Anin untuk mau berobat hingga benar-benar sembuh. Melakukan konseling untuk terapi pun, Belva tidak keberatan.


Hanya saja, dia menginginkan setidaknya Anin memiliki semangat untuk mau sembuh. Lagipula aset dan properti yang Belva miliki cukup untuk mengobati penyakit yang diderita Anin.


Tidak berselang lama pun, Anin pun turut memasuki kamarnya bersama Belva. Wanita itu segera menaiki ranjangnya dengan menyandarkan punggungnya di head board tempat tidurnya.


"Malam ini, temanilah Sara, Mas," pintanya kepada Belva.


"Kenapa?" tanya Belva dengan singkat.


"Sara sedang sakit bukan, setidaknya ada yang menjaganya. Lagipula, kamu juga bisa lebih dekat dengannya. Jika terbiasa, lama-lama tidak akan canggung kan?" Anin berbicara dan mengutarakan pendapatnya. Setidaknya jika mulai terbiasa dengan Sara, maka Belva pun tidak akan segan dan canggung untuk menghampiri Sara.


"Baiklah jika itu menurutmu," Belva segera bangkit, tanpa banyak berbicara dia segera meninggalkan Anin sendirian di dalam kamar itu.


Setidaknya, dia tidak ingin banyak berdebat dengan Anin. Lagipula, Anin memang wanita yang ketika memiliki sebuah keinginan, maka Belva harus mau mengikutinya. Oleh karena itulah, tanpa banyak berbicara Belva segera bangkit dan meninggalkan kamar itu.


Saat Belva beranjak dan keluar dari kamar itu, tidak dipungkiri Anin pun menitikkan air matanya. Dia merasa menjadi wanita jahat yang menyuruh suaminya untuk bermalam di kamar madunya. Sayangnya, memang itulah caranya untuk membuat Belva mau lebih dekat dengan Sara. Sebagai seorang istri, hatinya pun perih. Namun, dia tahu bahwa dia tidak akan bisa memuaskan Belva, dia tidak akan bisa memberikan buah hati dari rahimnya kepada Belva. Semua alasan itulah yang membuat Anin rela untuk meminta suaminya itu menghampiri Sara.


Pria itu pun berjalan gontai menuju kamar Sara yang berada nyaris di ujung lorong di lantai 2 itu. Tanpa permisi, Belva memasuki kamar Sara.


"Kamu sudah tidur?" tanya Belva kepada Sara.


"Eh, Pak … kenapa Pak Belva kemari?" tanya Sara yang tiba-tiba merasa tegang dan tidak nyaman ketika Belva memasuki kamarnya.


Belva pun menunjukkan wajah acuh tak acuhnya, dan mulai duduk di tepi ranjang di kamar itu.


"Aku akan bermalam di sini," ucapnya dengan singkat.


Mendengar bahwa Belva akan bermalam di kamarnya, seolah saja Sara menjadi sesak nafas. Dirinya masih canggung dan juga takut kepada Belva. Selain itu, bukanlah Anin ada di rumah. Mengapa pria itu justru akan bermalam bersamanya?


"Maaf Pak, bukankah Kak Anin ada di rumah?" tanyanya perlahan kepada Belva.

__ADS_1


Menurut Sara, sudah beberapa hari mereka berpisah. Mengapa pasangan suami istri tidak menghabiskan malam bersama? Bukankah pasangan suami istri yang setelah berpisah cukup lama akan menghabiskan waktu berdua? Namun, mengapa malam ini justru Belva memasuki kamarnya.


"Dia yang menyuruhku kemari, katanya karena kamu masih sakit. Sapa tau kamu membutuhkan sesuatu. Membutuhkan bantuan dariku," ucapnya dengan enteng.


Belva pun juga berkata apa adanya bahwa Anin lah yang menyuruhnya untuk bermalam di kamar Sara. Selain itu, juga Belva pun ingin menolong Sara jika wanita itu membutuhkan sesuatu.


Sara pun mengangguk, tetapi dia masih merasa gamang. Sebab menurutnya, malam ini seharusnya Belva menghabiskan malam bersama Sara.


"Kamu tidak ingin tidur?" tanyanya kepada Sara.


Saat Belva bertanya perihal tidur, rasanya kecanggungan kian terasa. Hingga Sara pun merasa tidak enak dengan keberadaan Belva.


"Ayo, tidur sini … kamu masih membutuhkan banyak istirahat," ucap Belva lagi.


"Aku belum mengantuk," jawab Sara dengan cepat.


Ya, dirinya memang belum mengantuk. Ditambah dengan hadirnya Belva di dalam kamarnya justru membuatnya semakin tidak merasa kantuk. Matanya seolah terjaga dan rasa kantuk itu sirna begitu saja.


"Sini, tidurlah denganku," ucapnya sembari menelisipkan tangannya di bawah kepala Sara.


Membuat kepala Sara bertumpu di lengannya. "Jangan berpikiran aneh-aneh. Kita hanya sebatas tidur. Lagipula, aku tidak akan menyentuhmu lebih dari ini," ucap Belva yang menegaskan bahwa dia sudah berkeyakinan tidak akan menyentuh Sara.


Setidaknya Belva akan menunggu sampai Sara siap. Daripada dia justru kembali menyakiti Sara dan membuat gadis itu merasa tidak nyaman dengannya.


Sara pun mengangguk, dia lantas berusaha memejamkan matanya. Berharap rasa kantuk itu akan segera datang, sehingga dia bisa segera terlelap dalam buaian mimpi indah. Setidaknya dia bisa mempercayai ucapan Belva malam ini bahwa pria itu tidak akan menyentuhnya lebih dari ini.


***


Keesokan paginya … 


Pagi ini, Sara bangun dengan kondisi badannya yang jauh lebih sehat. Rasa perih di pangkal pahanya juga perlahan hilang. Oleh karena itu, pagi itu Sara memilih bangun lebih pagi. Wanita itu bergerak perlahan turun dari tempat tidurnya dan memilih membersihkan badannya terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah itu, Sara juga membuka pintu kamarnya perlahan dan menuju dapur untuk membantu Bi Wati yang tengah menyiapkan sarapan.


"Pagi, Bi Wati," sapa Sara dengan wajahnya yang kembali ceria.


"Sudah sehat Mbak Sara?" tanya Bi Wati yang juga tampak khawatir dengan kondisi kesehatan Sara.


Sara pun mengangguk, "Sudah, sudah sehat kok Bi … jadi, Sara membantu apa pagi ini Bi?" tanyanya kepada Bibi Wati.


Akan tetapi Bibi Wati segera menggelengkan kepalanya, "Eh, tidak usah Mbak Sara … istirahat aja. Biar Bibi yang siapkan semuanya. Lagipula Mbak Sara kan baru saja sembuh."


"Biar saya bantu, Bi … kan tidak berat. Biar saya yang bikinkan Omelette buat Pak Belva, Bi." Sara kembali berbicara kepada Bi Wati.


Setelahnya dia segera mengeluarkan dua butir telor, mencampurnya dengan susu, dan menaburkan sedikit garam dan juga penyedap rasa. Rasanya Sara sudah hafal bahwa Belva selalu memakan Omelette setiap pagi, dan dia pun yang dengan senang hati membuatkan Omelette itu untuk Belva.


Tidak berselang lama, Belva pun turun lantai dua menuju meja makan bersama dengan Anin. Wajah pasangan suami istri itu tampak dingin. Sara hanya mencoba memperhatikan keduanya dari kacamatanya saja.


"Pagi Bi Wati, Pagi Sara …" sapa Anin yang melemparkan senyuman kepada Bi Wati dan Sara yang tengah berada di dapur.


"Pagi Kak," jawab Sara sembari mengangguk.


"Kamu sudah lebih sehat pagi ini?" tanya Anin lagi kepada Sara.


"Ya, aku sudah lebih sehat, Kak … tetapi, masih ada beberapa obat yang harus ku minum sampai habis," jawabnya yang kemudian bergabung di meja makan dengan Belva dan Anin.


Anin pun mengangguk, "Syukurlah, jika kamu lebih sehat. Itu adalah kabar bagus," jawabnya.


Sementara Sara justru menundukkan kepalanya.


Ya, itu kabar bagus karena saat aku sehat, kamu akan segera memintaku untuk menerima benih dari Pak Belva. Ya Tuhan, kenapa hidupku serumit ini? Tidak bisakah aku kembalikan saja uang lima milyar itu dan terbebas dari ini semua. 


Dalam hatinya Sara merasa berkecamuk. Ingin lepas dari semuanya, tetapi dirinya sudah terlanjur membuat kesepakatan hitam di atas putih. Kesepakatan dan pernikahan ini mengikatnya.

__ADS_1


Kemudian ketiganya pun menikmati sarapan pagi dengan tenang. Seolah suasana hening menyelimuti ketiga. Lagi-lagi Sara mengamati pada Belva dan Anin yang terlihat begitu dingin satu sama lain. Apakah memang seperti itukah kehidupan rumah tangga keduanya?


__ADS_2