
Menjelang senja, keduanya sudah tiba kembali di hotel tempat mereka menginap. Rasa dingin seketika hilang saat memasuki hotel yang dilengkapi dengan penghangat ruangan itu. Rasanya sungguh menyenangkan kembali ke hotel dan menikmati fasilitas mewah di hotel berbintang itu. Dingin memang membuat tubuh tidak berkeringat, kendati demikian Sara tetap memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Sekadar menyegarkan tubuh dan membuat capek dan kaki yang lelah karena berjalan-jalan di Greenwich Park.
Sementara Belva memilih bersantai sejenak, sembari menunggu Sara yang mandi. Sang CEO itu memilih untuk mengecek email yang masuk dan juga melihat apakah ada yang urgent dari perusahaannya.
Selang setengah jam, Sara keluar dengan wajah yang segar dan rambutnya yang setengah basah. Wanita itu tersenyum saja melihat suaminya yang sedang serius dengan tablet di tangannya.
"Enggak mandi Mas?"
"Mandi, sebentar Sayang ... aku cek email dari Ridwan dulu, sapa tahu ada laporan yang penting," balasnya.
Sara menganggukkan kepalanya, kemudian dia memilih mengeringkan rambutnya terlebih dahulu dan mengaplikasikan serum di wajahnya. Selebihnya, Sara memilih menyeduh teh yang begitu enak diminum di kala senja, dan melihat senja di London yang berpadu dengan musim dingin. Menikmati sore, sembari membaca pesan yang dikirimkan kepadanya.
[To: Mama]
[Mama masih di London?]
[Tadi Adik El menangis, nyariin Mama.]
[Terus Evan ajak bermain sama Jerome, Ma.]
[Evan sayang Mama]
Membaca deretan pesan yang dikirimkan oleh putranya itu membuat Sara berusaha menahan supaya air matanya tidak jatuh. Sara pun segera membalas pesan dari putranya itu.
[To: Evan]
[Mama masih di London, Kak Evan.]
[Tadi Mama jalan-jalan ke Greenwich Park sama Papa.]
[Wah, Kak Evan makin keren deh bisa menenangkan Adik El waktu nangis.]
[Mama juga sayang sama Kak Evan.]
[I Love U My Sons]
Deretan pesan dari Sara pun terkirim dengan cepat. Semoga saja di sana, Evan bisa merasakan bahwa Mamanya yang tengah menghabiskan waktu liburan bersama Papanya juga sangat merindukannya.
"Baru ngapain Sayang?" tanya Belva kemudian dengan berdiri di hadapan Sara.
"Balasin pesannya Evan ... duh, jadi mellow. Kangen banget sama Evan dan Elkan," balas Sara.
Belva tersenyum dan mengusapi lengan istrinya itu. "Sabar ... kita juga tinggal ke Paris dan pulang ke Jakarta aja kok. Ya sudah, aku mandi dulu yah," balas Belva.
Pria itu akhirnya memilih untuk membersihkan dirinya. Sementara Sara menikmati pergantian hari dari senja menuju gelap itu dengan secangkir teh di tangannya. Menatap lurus pada panorama yang terlihat dari jendela tempatnya menginap. Lampu kota yang menyala kian menambah syahdu suasana malam hari di kota London.
“Lihat panorama, Sayang … aku sudah selesai nih mandinya. Give me a kiss!” Belva berbicara dengan membawa jari telunjuknya ke bibirnya. Meminta ciuman dari istrinya itu.
__ADS_1
Sara tersenyum, wanita itu memajukan wajahnya, dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir suaminya itu.
Chup!
“I Love U,” ucap Sara dengan tiba-tiba.
“I Love U too,” balas Belva.
Tanpa banyak bicara, Belva meraih dagu Sara, dan melu-mat bibir itu dengan begitu lembut. Pria itu sedikit membuka bibirnya, dan menelusupkan lidahnya untuk merasai sensasi hangat, manis, dan juga basah saat menyapa kedalaman rongga mulut Sara. Satu tangan yang masih meraih dagu Sara, dan satu tangan yang memegangi pinggang Sara.
Sedikit memiringkan wajahnya, Belva kemudian menghisap lipatan bibir bawah dan atas Sara secara bergantian. Mencecap semua rasa yang ditawarkan oleh bibir itu. Tekanan pada gerakan bibir yang menghasil suara decakan dari kedua bibir itu.
Sedikit menarik wajahnya, Belva kemudian menatap wajah Sara, “Sayang, menikmati malam syahdu berdua mau kan?” tanyanya.
“Tutup dulu jendelanya yah,” ucap Sara.
Tanpa menunggu waktu lama, Belva menutup tirai jendela itu. Tidak ada membiarkan cahaya lampu atau mata-mata jahat di luar sana yang akan melihat kegiatan panasnya bersama istri tercinta.
Mendapatkan lampu hijau dari Sara, Belva kian menggoda, kali ini bukan hanya tiupan, melainkan kecupan yang Belva berikan mulai dari tengkuk, hingga sisi garis leher Sara, kian turun hingga ke tulang selangkanya. Sedikit menarik kaos yang Sara kenakan di bahunya, dan memberikan kecupan yang hangat dan basah di sana. Keduanya sama-sama diam, tetapi Belva yakin bahwa Sara akan tersulut dengan tindakannya. Tangan Belva yang semula hanya melingkari tubuh Sara, perlahan bergerak dan memberikan usapan yang lembut, dan sedikit remasan di dua buah persiknya.
Oh, Tuhan, Sara agaknya tak mampu bertahan dengan godaan yang dia berikan. Sekuat mungkin dia menahan nafas dan menggigit bibir bagian dalamnya sendiri, justru kian meledak dirinya dari setiap kecupan, rabaan, dan remasan yang Belva berikan. Kali pertama Sara merasakan sensasi seperti ini. Memberikan stimulasi dari kecupan di tengkuk hingga rabaan seperti ini. Dirinya melayang, dirinya gelisah, tetapi enggan untuk berhenti. Gelenyar asing yang membuat Sara memekik dan mengharapkan sesuatu yang lebih dari suaminya itu.
Kian nakal stimulasi yang Belva berikan, sampai tangan itu menyelinap di kaos yang Sara kenakan, memberikan rabaan di perut Sara, dan memberikan remasan di buah persik Sara.
“Uh, Mas,” de-sah Sara. Tak bisa lagi menahan untuk tidak mende-sah merasakan terpaan gelombang yang menyapanya.
Kedua mata Sara kian terpejam. Sungguh, ini sensasi yang benar-benar gila. Sangat gila, sampai Sara merapatkan kedua kakinya, wajahnya menengadah, sampai bersandar di dada Belva.
“Mas, hh … Mas,” ucap Sara saat jari-jari Belva dengan lincahnya memilin puncak buah persiknya.
Belva menelisipkan untaian rambut Sara ke belakang telinga dan pria itu kembali berbicara, “Enak?” tanya Belva.
Dalam kondisi limbung seperti ini, bisa-bisanya Belva masih bertanya apakah rasanya enak. Sungguh, dari wajah Sara yang memerah, dari helaan nafasnya, hingga dari de-sahannya bukankah itu sudah menjadi bukti bahwa semua ini lebih dari sekadar kata ‘enak’.
Tak mendapat jawaban, Belva membalikkan tubuh Sara hingga kini keduanya bisa berhadap-hadapan. Belva tersenyum melihat wajah Sara yang sudah memerah di sana. Belva kemudian menunduk, dan dia dengan segera menenggelamkan satu buah persik milik Sara ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Menggoda dengan usapan lidahnya, menghisapnya, dan bahkan memberikan gigitan demi gigitan di puncaknya. Sementara tangan yang satunya masih memberikan remasan dan pilinan di sana. Kian Sara mende-sah, kian Belva terpacu untuk bisa memuja istrinya itu dengan caranya.
Hingga tangan Sara terulur dan memberikan remasan di rambut Belva. Rasanya, Sara benar-benar ingin menggelamkan Belva di dadanya. Membiarkan pria itu bermain-main dengan miliknya.
Tangan Belva kembali menyisiri tubuh Sara, dan kini tangannya dengan sengaja menyusup di celana yang kenakan Sara, jari telunjuknya memberikan godaan di sana. Kian limbunglah Sara. Suaminya benar-benar melakukan semuanya dengan lembut dan memabukkan. Belva seolah tak ragu untuk menabur bubuk candu.
Tak mampu bertahan, Sara mengurai tangan Belva, kemudian Sara membawa tangannya untuk meraba dan menggerakkan pusaka suaminya yang sepenuhnya sudah mengeras. Bahkan Sara tak ragu untuk sedikit berjongkok dan menenggelamkan milik suaminya itu dalam rongga mulutnya.
Belva menghela nafas, pria itu meracau dengan mata yang terpejam sempurna. “Huh, enak Sayang … nikmat Sayang,” ucapnya dengan memegangi kepala Sara.
Namun, Belva tak membiarkan Sara berlama-lama di sana. Belva dengan segera melepaskan kaosnya. Pria itu tampil polos mutlak di hadapan Sara, kemudian dengan perlahan membawa Sara untuk rebah di atas ranjang. Bak gelap mata, Belva membuka kedua paha Sara, pria itu memegangi pinggangnya, dan mulai menghujamkan pusakanya di cawan surgawi milik Sara.
Belva menghentikan gerakannya, memberi waktu bagi keduanya untuk sama-sama menyesuaikan diri. Kesan hangat dan basah, serta cengkeraman di bawah sana sudah menyambut Belva. Beberapa kali Belva sampai menghela nafas, dan kemudian perlahan menghujam pusakanya kembali. Keluar dan masuk, menghujam dan menusuk, gerakan seduktif yang semula pelan dengan ritme yang senada, perlahan pun kian bertambah kecepatannya.
__ADS_1
Pegangan tangan Sara di tubuh Belva kian kuat, sangat Belva terus-menerus memberikan hujaman.
“Mas … Mas, aku ….”
Nafas Sara yang terengah-engah, menjadi isyarat nyata bahwa dirinya hendak mengalami pelepasan entah untuk yang keberapa kali.
Belva dengan terpaksa melepaskan pusakanya dari cengkeraman cawan surgawi milik Sara. "Duduk, di pangkuanku, Sayang," pinta Belva kali ini.
Sara yang sudah setengah lemas, mengikuti apa yang diinstruksikan suaminya itu dengan duduk di pangkuannya.
Perlahan, Belva menyatukan miliknya dengan cawan surgawi milik Sara. Kedua mata yang saling beradu, selimut kabut gairah yang bisa keduanya nikmati bersama.
"You can handle it?" tanya Belva dengan terengah-engah dan membawa ibu jarinya untuk memberikan usapan di puncak buah persik Sara.
"I can try it," balas Sara dengan terengah-engah dengan godaan yang diberikan Belva.
Wanita itu perlahan menggerakkan pinggangnya, mengikuti instingnya untuk berpacu dan merasakan nikmat yang sukar untuk diucapkan, tetapi begitu mantap untuk dirasakan itu.
"Faster, Sayang ... ah, nikmat," racau Belva yang menelisipkan untaian rambut Sara. Tangannya bergerak memberikan remasan di bahu dan turun dengan memilin puncak buah persik Sara.
Oh, ini sungguh gila ... berpadu dan berpacu untuk merasakan nikmat dari sebuah hubungan dan beratapkan langit kota London.
“Ya Sayang … aku sebentar lagi,” balas Belva dengan menyatukan tubuhnya dengan Sara.
Belva kini mencium bibir Sara dengan nafas yang memburu. Berusaha bertahan sebelum dirinya benar-benar nyaris meledak. Ringikan dan de-sahan dari Sara untuk membuat Belva kian memacu untuk menggerakkan pinggulnya dari bawah.
Belva menggeram, pria itu mulai merasa tubuhnya bergetar. Kali ini Belva benar-benar meledak. Cengkeraman cawan surgawi yang kian erat dan hangat, hingga membuat miliknya terperangkap di bawah sana.
“Ahh, Sayang,” geram Belva saat pria itu kini benar-benar meledak.
Tubuhnya bergetar hebat, Belva memeluk tubuh Sara dengan peluh yang begitu banyak, dan juga dengan nafas yang memburu hebat.
Sungguh, ini adalah malam terakhir dan begitu syahdu di kota London. Percintaan pasangan suami istri yang begitu indah. Bukan sekadar mencari kenikmatan, tetapi ikatan hati dengan percikan nektar cinta yang tak mampu diucapkan dengan berbagai diksi.
***
Dear My Bestie,
Author mau minta saran nih, untuk cerita Evan nanti, kalian ingin Evan yang SMA tentu dengan kisah cinta anak SMA atau Evan yang dewasa dan siap menikah, tentunya cerita menuju pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Yang memiliki ide, silakan tinggalkan ide dan saran di kolom komentar yah ...
Percayalah, komentar dan ide yang kalian berikan sangat berarti.
Ceritanya Evan akan dimulai saat cerita ini tamat ya. Langsung publish dan gak pakai lama.^^
Love U All,
Kirana
__ADS_1