Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Lantaran Mati Lampu


__ADS_3

Menyadari listrik yang padam dan teriakan Sara di waktu yang bersamaan, Belva lantas menghidupkan senter di handphonenya. Pria itu lantas menyusul Sara ke ranjangnya dan segera memeluk wanita itu.


"Jangan takut, aku di sini," ucap Belva yang seolah tengah menenangkan Sara.


Lantaran memang takut gelap, Sara pun tanpa banyak bicara segera balas memeluk Belva. "Aku takut, Pak," akunya kali ini dengan jujur kepada Belva.


Menyadari bahwa Sara sedang ketakutan, Belva kemudian menaruh senter itu di nakas yang berada di samping Sara. Pria itu menggenggam tangan Sara dengan begitu eratnya.


“Kenapa tangan kamu dingin?” tanyanya.


“Aa … aku takut gelap,” jawabnya dengan lidah yang terasa kelu.


“Tidak apa-apa, sekarang ada aku,” ucap Belva lagi dan pria itu kali ini memastikan bahwa Sara tidak perlu takut karena ada dirinya.


Akan tetapi, sekali pun Belva sudah berusaha maksimal untuk menenangkan Sara, tetapi Sara justru terlihat masih ketakutan, badannya terasa dingin karena keringat dingin yang muncul begitu saja, selain itu rasanya Sara menjadi seperti sesak nafas. Jujur saja, keadaan Sara yang seperti ini membuat Belva panik.


“Tenanglah Sara … ada aku,” ucap Belva lagi.


Kembali wanita itu berlinangan air mata, tetapi sama sekali tidak bersuara. Sara hanya bisa mencerukkan wajahnya di dada bidang Belva.


Dari tetesan air mata Sara yang membasahi dadanya, Belva sangat tahu bahwa Sara saat ini menangis. Sekali pun Belva sudah menegaskan bahwa dirinya sudah memeluk Sara, nyatanya Sara masih terlihat ketakutan. Biasanya orang akan takut sesaat saja terhadap kegelapan, tetapi yang dilakukan Sara itu terlihat berlebihan.


“Kamu fobia gelap, Sara?” tanya Belva kali ini.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk, “Ii … iya, Pak,” sahutnya dengan sesegukan.


Belva terkesiap, tidak menyangka bahwa Sara mengidap Nyctophobia atau fobia terhadap kegelapan. Belva sempat terpikir pasti ada peristiwa di masa lalu hingga membuat Sara menjadi ketakutan dengan gelap.


“Coba relaksasi dirimu, Sara … dengarkan aku. Kamu di sini tidak sendiri, ada aku yang menemanimu, kamu aman bersamaku,” ucap Belva sembari mengelus lengan Sara naik turun, berharap sentuhan tangannya itu bisa menenangkan Sara.


Sara kembali mengangguk, “Iya Pak,” sahutnya dengan bibir yang bergetar.


Hingga akhirnya, Belva harus memutar otaknya mencari cara untuk bisa menenangkan Sara. Ketakutan saat ini kepada kegelapan harus dialihkan segera. Belva lantas terpikirkan satu hal. Pria itu seketika menundukkan wajahnya dan satu tangannya mengangkat dagu Sara, dengan tanpa permisi terlebih dahulu Belva me-***** bibir Sara, menghisap lipatan bibir bawah Sara dengan begitu lembut. Tujuan Belva kali ini adalah ketakutan Sara bisa teralihkan pada hal yang lain.


Rupanya, saat Belva merasakan bibir Sara yang hangat dan manis layaknya glukosa itu, Belva kembali memagut dengan bibir itu. Menyesapnya bergantian lipatan atas dan lipatan bawahnya. Menjulurkan sedikit lidahnya, guna menyapu permukaan lembut bibir itu. Merasa tidak puas, Belva lantas menahan tengkuk Sara untuk memperdalam ciumannya.


Nyatanya ciuman itu dan hangatnya nafas Belva yang perlahan menyisir wajah Sara, bisa menaikan suhu tubuh wanita itu. Sekalipun decakan dari bibir keduanya, masih terasa sesegukan yang dikeluarkan Sara, tetapi agaknya kali ini cara Belva berhasil.


Lantaran hanyut dalam suasana, tangan Belva justru bergerak perlahan. Telapak tangannya yang semula menahan tengkuk Sara, perlahan turun mengusapi telinganya dan punggungnya, bahkan tangan yang lain seolah berusaha mengeluarkan kancing dari kemeja yang saat ini dikenakan Sara.


Ciuman yang semula begitu lembut, nyatanya justru sekarang rasanya begitu memburu. Seakan tidak ada waktu lagi bagi Belva untuk benar-benar menghisap manisnya madu dari bibir Sara.


“Ahh, Pak …,” ucap Sara di sela-sela ciuman keduanya.


Tangan wanita itu bergerak dan meremas rambut Belva, tidak mengira bahwa dirinya bagai tersengat aliran arus listrik yang membuatnya bukan hanya tegang, tetapi juga merasakan semua rasa yang campur aduk di dalam hatinya.


Penjelajahan bibir Belva akhirnya berpindah ke pipi Sara, mengecupnya dengan lembut. Bibir itu kemudian bergerak kian turun dan sekarang justru mengecupi leher jenjang Sara, meninggalkan jejak hangat dan basah di sana. Ditambah dengan aroma Jeruk Pomello yang segar rasanya benar-benar membangkitkan hasrat Belva untuk terus menciumi leher jenjang itu.

__ADS_1


“Ssshhs, Pak Belva,” desis Sara kali ini, rasanya benar-benar geli saat Belva meninggalkan jejak basah dan hangat di lehernya.


Satu tangan Belva kini bergerak dan menelusup di bawah kemeja yang dikenakan Sara. Meraba halusnya punggung Sara dengan gerakan naik turun, bahkan tangan itu seolah memijat bahu Sara.


Merasakan bahwa Sara telah rileks dan ketakutannya teralihkan, Belva lantas tersenyum, dalam remang-remang cahaya yang bersumber dari senter handphone, dia bisa melihat Sara yang lebih tenang sekarang. Mengambil nafas sejenak untuk mengisi kembali rongga paru-parunya, Belva kembali menyapa bibir Sara yang sudah sedikit bengkak di sana. Menciuminya, memagutnya, mencecap semua rasa yang membuat Belva tidak bisa berhenti saat ini.


Akan tetapi, saat Belva merasakan nafasnya kian memburu dan sebelum batas pertahannya hancur kali ini, nyatanya listrik justru kembali menyala. Dua sejoli yang semula saling mencium dan memagut lembut itu pun terkesiap dengan cahaya dari lampu kamar utama yang telah menyala.


Bisa terlihat jelas, netra sepekat malam nyatanya sama-sama terselimuti kabut gairah. Sara, lantas terkesiap dan merapikan rambutnya. Wanita itu juga kemudian sedikit menunduk, melihat kancing kemejanya yang terlepas. Tanpa banyak bicara, Sara lantas membawa kembali kancing itu untuk masuk ke dalam sarangnya.


Yang tersisa kali ini adalah perasaan malu. Bagaimana ketakutannya akan gelap justru membuat dirinya kehilangan akal sehatnya seperti ini. Rambut yang berantakan, lipatan bibir bawahnya yang terasa membengkak, dan juga kancing kemejanya yang nyaris terlepas. Jangan lupakan sorot mata Belva yang seolah terfokus hanya pada Sara. Semua itu, rasanya benar-benar membuat Sara malu setengah mati.


“Maaf Pak,” ucap Sara kali ini.


Rasanya memang aneh, setelah ciuman yang lembut, berubah menjadi ciuman yang memburu, hingga nyaris membakar keduanya. Yang ada sekarang justru Sara meminta maaf kepada Belva.


Gadis itu menghela nafasnya, dan satu tangannya tampak memegang kencang kancing paling atas dari kemeja. Memperlihatkan sikap bertahan, nyatanya justru Sara nyaris saja gila.


Sara pun membalikkan posisi duduknya, wanita itu membelakangi Belva dan ingin rasanya mencuci mukanya sekarang untuk menyadarkan dirinya sepenuhnya. Akan tetapi, saat Sara baru saja berdiri, tangan Belva bergerak dan seolah menghalau Sara untuk bangkit.


Terkesiap, wanita itu pun menolehkan kepalanya dan sekilas menatap Belva.


“Ada apa Pak?” tanyanya dengan lirih dan menerka-nerka apa maksud tangan Belva yang seolah tengah memegangi pergelangan tangannya sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2