Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menyelesaikan Perkara


__ADS_3

Sepanjang hari, Belva benar-benar mengurung dirinya di ruang kerja. Pria itu bahkan tidak menjejakkan kakinya di ruangan lain di rumahnya. Fokus menyelesaikan semua pekerjaan dan berharap bahwa projek dengan Jaya Corp akan tetap didapatkan Agastya Property.


“Maafkan aku Sara … bukannya aku menghindar darimu. Hanya saja, aku ingin menyelesaikan semuanya terlebih dahulu supaya aku memiliki waktu luang bersamamu. Aku akan menebus waktu yang kuhabiskan untuk menyelesaikan semuanya ini. Aku janji, aku akan terus menjaga dan mencintaimu,” Belva bergumam lirih.


Sebenarnya setiap kali Sara mengunjunginya di ruang kerja, hatinya tak kuasa untuk bisa menyapa Sara dengan hangat, memeluk istrinya itu, menciumnya dengan begitu lembut. Akan tetapi, Belva harus menahan semuanya, Belva ingin fokus dan menyelesaikan semuanya satu per satu. Belva yakin bahwa Sara akan memahami dirinya.


Kalau pun Sara pada akhirnya marah, Belva tidak segan untuk meminta maaf kepada istrinya itu. Belva yakin bahwa Sara adalah wanita pemaaf. Sara akan memaafkannya, dan Belva akan terus berusaha untuk mendapatkan maaf dari istrinya itu. Belva akan menebus waktu yang dia habiskan selama terbenam dalam pekerjaan yang seakan membuatnya acuh kepada Sara.


***


Keesokan harinya …


Kini Belva telah bersiap dengan pakaian kerjanya berupa kemeja putih, berdasi, dan menggunakan celana hitam sebagai bawahannya. Pria itu bergabung dengan Sara dan Evan yang sudah berada di meja makan.


“Papa, Papa akan bekerja hari ini?” tanya Evan begitu melihat sosok Papanya itu.


“Iya Van … Papa akan bekerja dulu yah. Doakan pekerjaan Papa selesai semuanya,” ucap Belva.


Belva sedikit melirik ke arah Sara yang sama sekali tidak bersuara. Kemudian pria itu menaruhkan tangannya di atas tangan Sara. Bahkan Belva memberikan sedikit remasan di tangan Sara itu.


“Pagi Mama,” sapa Belva terlebih dahulu kepada Sara.


“Pagi,” balas Sara yang saat itu lebih memilih untuk menghindari kontak mata dengan Belva. Sara lebih fokus untuk menyuapi Evan sarapan pagi ini.


“Papa, akan lembur lagi?” tanya Evan kali ini kepada Papanya.


“Mungkin, Van … tetapi Papa berjanji, begitu pekerjaan ini sudah selesai. Papa akan mengambil libur, atau Papa bisa bekerja dari rumah,” balas Belva.

__ADS_1


Evan menganggukkan kepalanya, berusaha menerima ucapan Papanya tersebut, sembari membuka mulut dari menerima suapan dari Mamanya itu.


Sementara Sara masih tak bergeming. Sara sibuk untuk terus menyuapi Evan. Bertanya satu pertanyaan pun tidak dia lakukan. Menyadari bahwa Sara pasti juga menginginkan perhatian, Belva kemudian kali ini yang berinisiatif untuk berbicara dengan Sara.


“Ambilkan Papa sarapan dong Ma,” pinta Belva kali ini.


Bahkan Belva terlihat mengangkat piring kosongnya dan menunggu Sara untuk mengisi piring kosong itu dengan Nasi Goreng Ikan Teri dan Telur Ceplok. Sara mengisi piring kosong milik Belva, tetapi wanita itu masih belum berbicara. Sementara Belva masih memandangi Sara dan berharap bisa melembutkan hati istrinya itu.


“Makasih Mama,” ucap Belva begitu piringnya telah terisi dengan Nasi Goreng Ikan Teri dan Telor Ceplok itu.


Usai sarapan, Sara juga masih mengantar Belva sampai ke depan pintu rumahnya. Akan tetapi, Sara juga tidak berbicara apa pun. Belva menghela nafas secara kasar, dan berdiri di hadapan istrinya itu.


“Maafkan aku … bukannya aku tidak punya waktu untukmu. Hanya saja, tunggulah sampai aku selesai. Usai semuanya selesai, aku akan memberikan waktuku secara penuh untukmu,” ucap Belva kali ini.


Pria itu mendekat, dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Sara.


Chup!


Usai berpamitan, Belva kemudian mulai mengendarai mobilnya menuju ke perusahaannya. Terlebih dia juga sudah menyelidiki perihal Annisa dan hubungannya dengan Anthony, sehingga hari ini akan menjadi hari yang menentukan untuk sekretaris barunya itu.


Begitu Belva sudah tiba di kantornya, Belva meminta Annisa untuk menghadap kepadanya. Wanita berparas ayu itu, menghadap Belva dengan sedikit menundukkan wajahnya.


“Pak Belva memanggil saya?” tanya Annisa.


“Ya, benar,” sahut Belva dengan menatap tajam wajah sekretarisnya ini. “Bisa kamu jelaskan kepada saya, apa hubunganmu dengan Anthony?” tanya Belva secara to the point kepada Annisa.


“Saya temannya,” balas Annisa.

__ADS_1


“Lalu, apakah kamu masuk ke kantor saya untuk menjadi penyusup?” tanya Belva lagi. Seakan-akan Belva berubah layaknya jaksa yang tengah menginterogasi tersangka.


“Tidak … saya murni untuk bekerja,” sanggah Annisa kali ini.


Akan tetapi, Belva justru menyeringai. Pria itu kemudian memutar sebuah rekaman suara di handphonenya.


[Anthony: Jadi, gimana Sa? Lo berhasil jebak Belva seolah-olah terlibat affair sama lo?]


[Annisa: Kelihatannya, tetapi aku tidak yakin. Si Bos juga kelihatan panik.]


[Anthony: Oke, baiklah … terus lanjutkan kerja lo di sana. Jangan lupa laporkan kerja sama Agastya Property dengan Jaya Corp, berikan idenya sama gue.]


[Annisa: Iya-iya baiklah … bagaimana dengan Istrinya Si Bos? Aku dengar Istrinya Si Bos sedang hamil sekarang ini. Apakah kabar ini bisa mempengaruhi kandungannya?]


[Anthony: Lo tenang saja, urusan Sara biar gue yang urus. Lo cukup di sana dan lakukan tugas lo.]


[Annisa: Ya sudah, tutup teleponnya sekarang, Ridwan mau ke mari.]


Rekaman itu sudah diputar, Annisa pun mengerjap. Benar-benar tidak percaya dengan bukti yang barusan diputar Belva itu.


“Itu,” balas Annisa dengan suara yang seolah begitu tercekat.


“Iya, telepon kamu dengan Anthony beberapa hari yang lalu. Sekarang, kamu tidak bisa mengelak lagi. Jadi, dengarkan saya baik-baik, mulai hari ini … sekarang juga, saya akan memecat kamu. Silakan angkat kaki dari Agastya Property!” Belva mengucapkan semuanya itu dengan tegas dan dia tidak ingin melihat wajah Annisa lagi di Agastya Property.


Ada rasa lega karena hari ini, Belva bisa memecat Annisa. Sebab, bukan terkait data dan laporan perusahaan, tetapi Belva juga ingin melindungi kehidupan rumah tangganya dari pria bernama Anthony.


Kelegaan Belva kian bertambah, karena pihak Jaya Corp tetap melanjutkan projek kerja samanya. Bagi Belva hari ini akan menjadi hari terbaik baginya karena dia bisa menyelesaikan satu per satu masalah yang cukup pelik. Sebagaimana janji Belva, bahwa usai menyelesaikan semuanya, Belva akan menebus waktu bagi istri dan putranya.

__ADS_1


"Akhirnya hari yang berat dan penuh kejutan ini berakhir juga. Aku akan segera pulang, Sara ... aku akan pulang untukmu dan Evan. Tunggu aku kembali. Aku janji, tidak akan bersikap seperti ini. Maafkan aku, hampir tiga hari ini kamu sudah mau menungguku bahkan kamu mengasuh Evan sendirian. Aku akan pulang, aku ingin segera memeluk dan menciummu, istriku."


Belva berbicara dengan dirinya sendiri. Pria itu benar-benar memilih untuk pulang dari perusahaannya lebih cepat. Setelah semuanya selesai, yang ingin Belva lakukan adalah ingin memeluk dan mencium istrinya. Sebab, sekarang hatinya sudah begitu lega dan Belva bisa memprioritas kembali Sara dan Evan.


__ADS_2