Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Keputusan Terbesar Anin


__ADS_3

Selang menjalani pemotretan selama tiga hari di Kota Kembang, Bandung. Anin kembali pulang ke rumahnya. Wanita itu datang dengan mendorong koper miliknya dan memasuki kamarnya dengan perlahan. Sesampainya di dalam kamarnya, Anin memilih mengguyur badannya terlebih dahulu, menyegarkan tubuhnya yang terasa begitu penat dan lelah.


Hingga akhirnya, waktunya makan malam Belva, Sara, dan Anin berkumpul di meja makan. Ada baby Evan juga yang Sara taruh di sebuah stroller di dekat tempat duduknya. Sebenarnya, Belva masih melarang Sara untuk turun ke bawah, tetapi merasa bahwa luka jahitannya sudah tidak sama sekali, Sara memilih untuk bergabung dengan Belva dan Anin di meja makan.


“Hei Kak … kamu sudah datang dari Bandung?” sapa Sara saat melihat Anin yang sudah duduk dengan manis di depan meja makan.


“Iya … sore tadi aku datang,” sahutnya. Lantas Anin memperhatikan Baby Evan yang terlihat menghisap ibu jarinya dan mengoceh dengan suara bayinya yang khas (biasa juga disebut babbling).


“Wah, Evan … kamu lucu banget sih Sayang. Rasanya Mama pengen menggendong kamu,” sahut Anin lagi.


Ya, ini adalah kali pertama bagi Anin menyebut dirinya sebagai seorang Mama bagi Baby Evan.


Sementara bagi Sara, apa yang diucapkan Sara barusan cukup untuk menjelaskan posisinya di dalam rumah ini. Ada Papa, ada Mama, dan ada Bunda Evan. Akan tetapi, Sara hanyalah seorang Bunda. Terasa menyesakkan, tetapi Sara berusaha tenang. Semua memang harus terjadi seperti ini adanya.


Kegiatan pun berlanjut dengan makan malam, beberapa kali Bibi Wati tampak mengajak Baby Evan berbicara, memberi waktu bagi Sara untuk menikmati makanannya. Hingga akhirnya, kegiatan makan malam pun berlalu.


Anin lantas menatap suami dan Sara bergantian, “Ada yang ingin kusampaikan,” ucap Anin dengan tiba-tiba.


Mendengar bahwa Anin ingin berbicara dan terdengar cukup penting, maka Bibi Wati memilih pergi. Posisinya di kediaman Belva hanya seorang pembantu rumah tangga, maka Bibi Wati pun harus tahu diri.


Setelah Bibi Wati benar-benar pergi, Anin mulai membuka kembali suaranya.


“Aku sudah memutuskan sesuatu,” ucap Anin. Tentu itu adalah sebuah kalimat pembuka yang akan dia lanjutkan.

__ADS_1


Belva dan Sara pun sama-sama menunggu apa yang sebenarnya tengah diputuskan oleh Anin. Keduanya sama-sama diam dan mata mereka berdua menatap pada Anin.


Tampak Anin yang menghela nafasnya dan menatap Belva dan Sara secara bergantian. Akan tetapi, merasa bahwa Sara hanya orang luar dalam rumah tangga Belva dan Anin, Sara berencana undur diri.


“Sebaiknya aku pergi Kak … mungkin kamu harus berbicara serius dengan Pak Belva,” ucap Sara. Wanita itu nyaris berdiri.


Akan tetapi, dengan cepat Anin menahan tangan Sara, “Duduklah Sara … bagiku kamu bukan orang luar. Kamu adalah keluarga kami, kamu boleh mendengarnya,” ucap Anin.


Merasa bahwa Anin memintanya untuk tinggal, Sara pun mengangguk. Wanita itu kemudian kembali duduk di kursinya, dan menunggu apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Anin sehingga suasana di meja makan itu berubah menjadi begitu serius dan tegang.


“Aku sudah memutuskan bahwa … aku memilih meninggalkan dunia modelling,” ucap Anin pada akhirnya.


Ya, Anin sudah mengambil satu keputusan terbesar dalam hidupnya yaitu meninggalkan dunia modelling yang sudah sekian lama dia geluti. Dunia modelling yang memberikannya popularitas dan juga kelimpahan secara finansial juga. Kali ini, Anin benar-benar berketatapan hati untuk meninggalkan dunia modelling. Itu pun berarti kali ini Anin juga akan melepaskan mimpi terbesarnya untuk bisa berlenggak-lenggok di Paris Fashion Week.


“Kamu jangan bercanda, Anin … itu mustahil,” sahut Belva dengan menatap tajam istrinya itu.


Akan tetapi, dengan cepat Anin mengangguk. “Itu tidak mustahil, lagipula aku sudah memutuskan kerja sama dengan agensiku. Pernyataanku secara resmi juga aku unggah di media sosialku,” jelas Anin.


“Apa yang membuatmu meninggalkan dunia modelling?” tanya Belva.


Anin menghela nafasnya, kemudian dia melirik ke Baby Evan. Wanita itu perlahan menatap Sara, “Evan … ya, dia yang membuatku mengambil keputusan terbesar ini. Beberapa hari lalu, Dokter Astrid mengatakan bahwa Tokophobiaku sudah sembuh. Aku tidak takut lagi dengan kehamilan dan juga bayi. Sara kamu benar-benar telah membantuku untuk sembuh. Kini, aku rasanya akan bersiap menjadi Mama untuk Evan,” ucap Anin.


Rupanya beberapa yang lalu Dokter Astrid, Psikolog dan terapis Anin sudah menyatakan bahwa Tokophobia yang selama ini diidap oleh Anin telah sembuh. Beberapa kali konsultasi, berinteraksi langsung dengan ibu hamil dan bayi justru menjadi terapi paling baik yang bisa menyembuhkan Anin. Untuk itu, Anin berketetapan untuk bersiap menjadi seorang Mama bagi Evan.

__ADS_1


Tentu saja ini adalah kabar gembira. Sekali pun wajah Belva tetap saja datar, dan seolah-olah tidak berekspresi apa pun, tetapi Belva memang berharap suatu hari Anin bisa berpikir untuk rumah tangganya. Sekian tahun berlalu, baru kali ini Anin mengambil keputusan yang lebih menitikberatkan untuk rumah tangga keduanya.


Sementara bagi Sara, mungkin memang harus seperti ini jalannya. Lagipula, waktunya hanya tersisa dua bulan saja. Jadi, memang ada baiknya jika Anin bersiap untuk menjadi seorang Mama bagi Evan. Lagipula, saat masa kontrak itu habis, Anin lah yang akan merawat dan membesarkan Evan.


“Kamu yakin dengan keputusanmu? Tidak akan menyesal?” tanya Belva kepada Anin.


Dengan yakin Anin pun mengangguk, “Ya … aku yakin dan aku tidak akan menyesal. Kesembuhanku ini membuatku merasa harus mempersiapkan diriku mencoba hal yang baru, dan aku ingin belajar dan bersiap menjadi seorang Mama bagi Evan. Bagiku Evan tetap adalah putraku, aku pun menyayanginya,” ucap Anin.


Sara seakan meremas hatinya, “Aku yang mengandung dan melahirkannya Kak … tetapi, dunia akan mengenalnya sebagai anakmu,” gumam Sara dalam hatinya dengan begitu lirih.


Baiklah, Anin boleh mengambil terpenting dalam hidupnya, dan Sara pun harus bersiap bahwa masa kontraknya dengan Belva akan segera usai. Dia harus bersiap dengan segera, dua bulan tidak akan lama, dia harus memastikan Anin pun siap menjadi seorang Ibu menggantikan dirinya.


Sara menatap bayi Evan di sampingnya, dan lagi-lagi wanita itu berbicara dalam hatinya sendiri.


Kamu akan memiliki figur orang tua yang sempurna, Putraku Evan …


Papa yang baik dan juga seorang Mama yang menyayangimu.


Maafkan Bunda …


Maafkan Bunda yang tidak bisa menyaksikan tumbuh kembangmu, Sayang.


Maafkan Bunda karena tidak lama lagi Bunda harus menyerahkanmu kepada Papa dan Mamamu.

__ADS_1


Kendati demikian, kasih Bunda untukmu selalu sepanjang zaman, Evanku Sayang …


__ADS_2