
Benar yang dikatakan Belva, malam ini nyatanya Belva memilih memasuki kamar Sara terlebih dahulu. Kendati demikian, Belva tetap berpamitan kepada Anin.
“Aku ke kamar Sara terlebih dahulu,” ucapnya dan kemudian bergegas menuju ke lorong yang menuju ke kamar Sara.
Anin hanya tersenyum, tetapi wanita itu seolah juga tidak mengambil pusing. Sepeninggal Belva, Anin memilih untuk memasuki kamarnya.
Sementara itu, Belva tampak memasuki kamar Sara dengan mengetuk pintunya terlebih dahulu.
“Sara, kamu sudah tidur?” tanyanya perlahan kepada Sara.
Sara yang semula sedang rebahan di tempat tidur pun, langsung duduk. Begitu sungkan rasanya saat ada Belva, dirinya justru rebahan. Oleh karena itu, Sara pun memilih untuk segera duduk.
“Eh, Pak … ada apa?” tanya Sara dengan gugup.
Nyatanya kegugupan Sara tidak membuat Belva lengah, pria itu kini justru menaiki ranjang Sara, dan duduk di sebelah Sara.
“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyanya perlahan kepada Sara.
“Seperti biasa, aku baik, Pak …,” jawabnya dengan sedikit mengangguk.
Memang Sara seolah tidak mengalami gejala kehamilan, badannya juga sehat-sehat saja, jikalau ada yang berubah mungkin saja sekarang Sara lebih merasa mengantuk dibandingkan biasanya.
Belva kemudian menatap wajah Sara yang bersih, cerah, walau pun tidak mengenakan make up yang tebal. Pria itu lantas menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, “Kamu tidak ngidam sesuatu? Mereka yang tengah hamil terkadang ngidam yang aneh-aneh dan harus dituruti kan? Apakah kamu juga mengidam?” tanya Belva.
Ya, setahu Belva, teman-temannya pernah bercerita bahwa istri mereka saat hamil sering kali mengidam yang aneh-aneh dan harus dipenuhi. Oleh karena itulah, Belva pun bertanya kepada Sara.
“Rasanya, aku juga belum ngidam, Pak … kalau Pecel Lele Nasi Uduk kemarin enggak tahu deh, antara memang pengen atau ngidam. Hanya saja mungkin aku kangen dengan kebiasaanku waktu dulu yang terbiasa makan Pecel Lele hampir setiap malam,” cerita Sara kali ini kepada Belva.
__ADS_1
“Sekarang, kalau kamu ingin makan apa pun, bilang padaku. Aku akan membelikannya untukmu. Makanan mahal pun tidak masalah,” ucap Belva kini.
Sara mengangguk, “Iya, nanti kalau aku pengen makanan, aku akan bilang ke Pak Belva,” sahutnya. Setelah itu, Sara pun kemudian melirik Belva, “Pak Belva, masih mual?” tanyanya.
“Masih, tapi setidaknya bisa sedikit teratasi. Aku meminta Hendra untuk mengganti parfum pengharum ruangan di kantorku. Di mobilku juga. Kenapa aku jadi suka aroma jeruk yang segar. Rasanya aroma itu mengingatkanku padamu,” jawab Belva dengan menatap wajah Sara.
Tidak ingin melambung terlalu tinggi karena jikalau jatuh akan terlalu sakit, Sara hanya mengangguk, “Ah, mungkin itu karena kehamilan simpatik saja, Pak … hormon kehamilan semacam itu mungkin,” jawabnya.
Sama halnya dengan Sara, Belva pun juga mengangguk, “Iya, mungkin saja … kata Dokter Indri kemarin paling tidak Couvade Syndrom terjadi di Trimester Awal kan ya? Jadi setidaknya sampai kehamilanmu 3 bulan yah?” tanyanya.
“Iya Pak … maaf ya, aku juga tidak tahu kenapa justru Pak Belva yang terkena Couvade Syndrom,” jawab Sara.
Sejujurnya Sara pun juga merasa kasihan jika Belva harus merasakan kehamilan simpatik itu. Akan tetapi, dia pun tidak bisa memilih supaya Belva yang merasakan dan mengalaminya. Lagipula, Sara pun tidak keberatan jika harus mengalami mual dan muntah itu.
Setelah cukup lama, keduanya berbicara, Belva kemudian beringsut dan merapatkan posisi duduknya lebih dekat dengan Sara.
Akan tetapi, Sara justru menggelengkan kepalanya, “Aku belum ngantuk Pak, lima belas menit lagi yah,” tawarnya kepada Belva.
Memang sebelum Belva memasuki kamarnya, rasa kantuk seolah menyerang dan membuat Sara ingin segera memejamkan kedua matanya. Akan tetapi, saat Belva sudah berada di kamarnya, rasanya rasa kantuk itu pergi entah kemana. Bola matanya saja masih bening, dan dia sama sekali belum menguap.
“Ya sudah, aku tunggu lima belas menit lagi,” ucap Belva.
Rupanya bukan hanya diam dan menunggu, kini tangan Belva pun bergerak dan mengusapi perut Sara yang masih rata.
“Hai My Little One,” gumamnya yang seolah-olah tengah mengajak babynya berbicara.
Refleks, Sara pun mengerjap. Tidak menyangka telapak tangan Belva akan kembali menyentuh permukaan kulit perutnya. Kendati demikian, Sara merasa bahagia karena sebagai calon Ayah, Belva sudah begitu terlihat menyayangi buah hatinya nanti.
__ADS_1
“Ini Papa, Sayang … sehat-sehat di dalam sini ya,” ucap Belva kemudian.
Huhh, rasanya kedua bola mata Sara berkaca-kaca sekarang ini. Belva terlihat sangat menyayangi bayi. Akan tetapi, lagi-lagi ada rasa perih yang tersisa karena semua perhatian itu hanya demi bayinya saja. Lagi-lagi Sara harus menekan kembali perasaannya. Menjadi seorang wanita yang dinikahi kontrak dan disewa rahimnya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Selalu ada gejolak di dalam jiwanya. Hasrat hati juga menginginkan semua kasih sayang dan kepedulian itu untuknya, tetapi logika pun berkata bahwa posisinya layaknya semua ladang yang hanya menerima benih itu ditabur, disiangi, hingga dipanen pada waktunya lagi. Sebuah tanah ladang yang hanya diam, menunggu pengerja yang melakukan semua pekerjaan di ladang tersebut.
Setelah itu, Belva kemudian menatap wajah Sara sejenak, “Aku tak henti-hentinya berterima kasih padamu. Aku mau dan ikhlas mengandung anakku ini,” ucapnya.
Sara kemudian mengangguk, “Sama-sama Pak,” jawabnya dengan menggigit bibir bagian dalamnya.
“Sudah lima belas menit, sekarang ayo tidur. Aku akan menjagamu sampai kamu tidur. Jadi, sekarang tidurlah,” ucap Belva yang kemudian membawa Sara untuk berbaring.
Masih sama seperti biasa, pria itu menelisipkan satu tangannya untuk menjadi tempat bersandar bagi Sara. Setelah itu, Belva kemudian mengecup kening Sara perlahan.
Chup.
“Tidurlah Sara …,” ucapnya kali ini.
Merasa bahwa ucapan Belva layaknya adalah sebuah perintah, Sara pun menurut. Wanita itu segera memejamkan matanya, berharap dirinya bisa benar-benar tertidur. Rasanya aneh sekali, seorang pria yang berusaha menidurkannya hanya untuk sementara, karena saat Sara tertidur faktanya di pagi hari nanti dirinya akan bangun seorang diri.
***
Hampir satu jam berlalu …
Belva tampak mengamati wajah Sara yang telah terlelap, pria itu kemudian tersenyum dan mengusapi puncak kepala Sara.
“Thank you so much Sara … rasanya berapa kali pun aku berterima kasih kepadamu, semua itu tidak bisa membayar perbuatanmu yang sudah mau dan rela mengandung benihku. Maafkan aku,” gumam Belva dengan lirih.
Belva tampak menghela nafasnya perlahan, setelah itu Belva mulai menarik selimut dan menyelimuti badan Sara. Pria itu lantas bergerak untuk turun dari tempat tidur itu, dan menundukkan sedikit punggungnya, kembali bibirnya yang hangat berlabuh di kening Sara. Membiarkan bibir itu untuk bertengger sejenak di sana.
__ADS_1
“Tidurlah Sara … terima kasih banyak,” ucapnya dan kemudian pria itu berlalu pergi keluar dari kamar Sara.