
"Senang bertemu denganmu, Sara," ucap Aliya dengan lembut.
Wanita berparas cantik dan saat itu tampil mengenakan dress kombinasi batik dan kain lace yang merupakan hasil karyanya sendiri membuat wanita itu begitu anggun.
"Halo Bu Aliya," sapa Sara yang terkesan begitu formal.
"Panggil saja aku Aliya, tidak masalah," ucap Aliya yang justru terlihat santai.
"Eh, tapi," balas Sara yang canggung jika harus memanggil seorang wanita yang begitu cantik dan pengusaha di bidang fashion yang sukses dengan namanya secara langsung. Lagipula, secara usia Aliya lebih tua beberapa tahun darinya.
"Tidak apa-apa. Aku sudah lama tinggal di Singapura, jadi sudah wajar ketika orang hanya memanggil dengan namanya saja. Bahkan awal menikah dulu, aku memanggil suamiku langsung dengan namanya," balas Aliya.
Rasanya Sara seakan tak percaya. Di Indonesia dengan adat ketimurannya dinilai tidak sopan jika memanggil suami langsung dengan namanya. Sementara di Singapura yang lebih maju, memang tidak mempersalahkan untuk para pasangan langsung menyebut nama.
"Baiklah, Aliya," balas Sara pada akhirnya.
Aliya tersenyum, kemudian dia menawarkan minuman dingin kepada Sara.
"Mau minum?" tawarnya.
Akan tetapi, Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak, nanti saja. Aku belum haus," balas Sara.
"Oke, tidak masalah. Kamu cantik, Sara. Lihatlah, beberapa kali suamimu melirikmu," ucap Aliya sembari berbisik di sisi telinga Sara.
Sara menoleh dan melihat ke arah Belva. Rupanya saat dia memandang Belva, netranya bersitatap dengan netra suaminya itu sehingga Sara tertunduk malu. Salah tingkah jadinya.
"Benar kan, dia melirikmu," ucap Aliya lagi.
Sara tersenyum dan menganggukkan kepalanya secara samar, "Sudah berapa lama menikah dengan Pak Aryan?" tanya Sara kali ini.
"Ini tahun ketiga pernikahan kami. Pesta ini dibuat untuk merayakan anniversary ketiga pernikahan kami," balas Aliya.
"Wah, luar biasa. Happy Wedding Anniversary," ucap Sara memberikan selamat kepada Aliya.
"Thanks … sudah berapa lama kamu menikah dengan Belva?" tanya Aliya kali ini.
"Enam atau tujuh bulan. Kami masih baru," balas Sara.
"Oh, tetapi kenapa kalian begitu sweet. Bahkan Belva kini bisa menjadi pria yang hangat dan lebih banyak tersenyum. Dulu, dia terlihat seperti Polar Bear (Beruang kutub) yang begitu dingin dan begitu plegmatis," ucap Aliya.
Tentu Aliya bisa menilai demikian karena dirinya sudah lama mengenal Belva. Mama Belva juga adalah pelanggan setiany. Sehingga sedikit banyak Aliya tahu bagaimana Belva itu.
Mendengar penilaian Aliya mengenai dinginnya Belva Agastya dulu pun membuat Sara tertawa. Ya, dulu memang Belva begitu dingin. Pria dengan miskin ekspresi. Akan tetapi, sekarang Belva terasa lebih hangat.
__ADS_1
"Konon, pria akan berubah ketika dia mendapatkan pasangan yang tepat. Jadi, perubahan Belva ini bagus dan artinya dia mendapatkan pasangan yang tepat," ucap Aliya.
Dalam hatinya Sara mengaminkan ucapan Aliya itu. Semoga saja mereka berdua adalah pasangan yang tepat untuk satu sama lain.
"Kelihatannya kamu sudah cukup lama mengenal Belva yah?" tanya Sara kali ini.
"Iya, kami dulu teman kuliah. Niatku dulu mengambil bisnis dan manajemen untuk menggantikan posisi Ayahku. Namun, aku punya passion yang besar di desain dan fashion. Jadi, aku lebih memilih mengikuti passionku," cerita Aliya kepada Sara.
"Tidak banyak orang yang hidup dan mengikuti passionnya. Aku turut senang mendengar ceritamu," balas Sara.
Aliya tersenyum dan wanita itu menganggukkan kepalanya perlahan, "Euhm, kelihatannya kita cocok deh. Pembicaraan kita juga nyambung. Jadi, bisa kita bertukar nomor handphone. Kita bisa menjalin pertemanan bukan?" tanya Aliya.
"Tentu," balas Sara.
Keduanya pun bertukar nomor handphone dan akan menghubungi satu sama lain. Baru kali ini Sara merasa bertemu teman yang baik. Semoga saja pertemanan ini memberikan dampak yang positif untuknya.
Tidak berselang lama, Belva pun datang dan menghampiri istrinya itu.
"Masih mau di sini atau pulang?" tanya Belva kepada istrinya itu.
Aryan yang turut menghampiri Aliya, tertawa melihat kelakuan temannya itu.
"Di sini dulu saja, gak perlu keburu-buru pulang," sahut Aryan.
"Aku cuma khawatir dia kecapekan, karena Istriku sedang hamil sekarang," balas Belva.
"Kamu perhatian banget, Belva. Kamu berubah banyak, Bro." Aryan berbicara sembari menepuk bahu temannya itu.
Belva pun menganggukkan kepalanya. Dia tidak memungkiri bahwa dirinya memang banyak berubah. "Benar, Sara yang sudah mengubahku," balas Belva.
Aryan pun tertawa, "Benarkah Sara? Kamu benar-benar keren bisa mengubah seorang Belva menjadi lebih ramah sepert ini," ucapnya.
"Tidak, itu karena memang Mas Belva yang mau berubah," jawab Sara.
Sekeras apa pun dia berusaha mengubah Belva jika Belva tidak ingin berubah, maka tak ada yang bisa mengubah Belva. Jadi, bagi Sara, Belva berubah karena pria itu sendiri yang memutuskan untuk berubah.
Sampai akhirnya, sekian waktu lamanya Belva dan Sara menghadiri private party ini. Belva bersyukur karena Sara merasa lebih percaya diri saat ini. Sara juga bisa akrab dengan Aliya. Sampai malam tiba, akhirnya Belva mengajak Sara pulang untuk istirahat.
"Kami pamit ya Aryan dan Aliya, baik-baik kalian berdua. Main ke resort kami," undang Belva kepada rekannya itu.
"Iya, next day kami main," balas Aliya.
Belva kembali menggandeng tangan Sara dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Senang bisa kenalan sama Aliya?" tanya Belva.
"Iya, senang … dia wanita hebat yang cantik, sukses, dan tenar, tapi tetap rendah hati ya Mas," balas Sara.
"Bertemanlah dengannya, Aliya itu baik," balas Belva.
Perlahan Sara menganggukkan kepalanya, "Benar, dia baik. Baru kali ini aku merasakan teman-temanmu yang tulus. Harinya mereka merayakan Wedding Anniversary, kapan-kapan kita rayakan Wedding Anniversary kita ya Mas," balas Sara.
Belva pun menganggukkan kepalanya, "Anything for you. Kamu mau minta apa pun, selama aku bisa tentu aku akan mewujudkannya," balas Belva. dengan sungguh-sungguh.
Sungguh, Belva merasa senang bisa mendekatkan Sara dengan temannya. Dengan demikian, Sara bisa lebih percaya diri dan diterima di komunitasnya dengan baik. Senang sekali, melihat istrinya yang begitu bahagia malam ini. Juga Belva akan mengingat untuk merayakan hari pernikahannya dengan Sara tahun depan. Semoga saja Belva akan bisa mewujudkan setiap impian istrinya itu.
...🍃🍃🍃...
Dear All My Bestie,
Aku sampai lupa berikan visual. Ini sih gambaran Belva, Sara, dan Anin menurutku yah. Semoga cocok untuk kalian.
Belva Agastya
Sara Valeria
Anindya
Gimana cocok enggak? Hanya visual yah, kalau kurang cocok bisa di-skip kok. 😆
__ADS_1
Oh, iya karya ini akan berakhir bulan ini, langsung dilanjutkan ke kisahnya Evan yah.
Dukung terus sampai akhir. 😘😘