Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Sepekan Tersisa


__ADS_3

Tidak terasa masa 12 bulan akan benar-benar berakhir. Rasanya Sara hanya tinggal menunggu waktu saja berada di dalam rumah Belva. Sekalipun hari-harinya berlalu seperti biasa, tetapi Sara tahu dengan pasti bahwa waktunya di rumah mewah dan bersama dengan Evan hanya menyisakan waktu sepekan saja.


Beberapa malam yang berjalan, rasanya mata Sara sukar untuk terpejam. Bahkan beberapa malam sebelumnya, Evan juga sudah mulai tidur di kamar Anin. Seakan malamnya ada yang hilang tanpa sosok baby Evan di sampingnya.


Sama seperti malam ini, Sara yang meringkuk di atas ranjangnya karena Evan akan tidur bersama dengan Anin dan Belva. Sekalipun sangat tidak ikhlas, tetapi apa mau dikata jika memang Evan pada akhirnya akan menjadi milik Anin dan Belva. Hampir tengah malam, Sara hanya bisa meringkuk dan matanya begitu sukar untuk terpejam. Semakin berat, tiap kali dia memejamkan matanya yang terlihat justru wajah bayi Evan.


Wanita itu pun memilih duduk dan bersandar di head board, pandangan matanya menerawang. Hidupnya terasa begitu hampa sekarang ini.


Kamu di kamar Mama dan Papa kamu bisa tidur enggak Evan?


Kita seatap, tetapi tidak satu kamar saja rasanya Bunda tidak bisa tidur.


Semalaman Bunda terjaga …


Terbayang wajahmu, Evan …


Sepekan usai ini, Bunda akan benar-benar melepaskanmu, Evan …


Maafkan Bunda, tetapi memang semua tidak bisa dibatalkan.


Usai berkata dengan hatinya sendiri, Sara lantas kembali membaringkan dirinya di atas ranjang dan berharap bahwa kali ini dia bisa benar-benar terlelap. Esok pagi dia bisa kembali melihat Evan dan memandikan putranya yang nyaris berusia 2 bulan itu.


***


Keesokan paginya, Sara bangun. Wanita itu segera beranjak dari tempat tidurnya dan melihat box bayi yang terbiasa ada di samping ranjangnya, menengok Evan, tetapi bayinya tidak ada di sana. Barulah Sara ingat bahwa Evan tidur bersama Anin dan juga Belva. Akhirnya, Sara memilih untuk memompa ASI-nya terlebih dahulu. Semalam sumber ASI-nya sama sekali tidak diminum Evan, jadi pagi ini terasa begitu penuh.


Usai pumping, Sara memilih untuk membersihkan dirinya dan setelah itu mungkin dia bisa keluar dari kamar dan bertemu dengan Evan.

__ADS_1


Tepat waktunya sarapan, barulah Sara melihat Evan dalam gendongan Anin.


“Pagi Kak, semalam Evan rewel tidak?” tanya Sara kepada Anin.


“Tidak, dia pintar kok. Bahkan tidurnya sangat nyenyak,” jawab Anin.


Sara tersenyum, wanita itu lantas mendaratkan kecupannya di pipi Evan. “Kamu semalam boboknya pules ya Nak? Pinter banget sih kamu,” ucap Sara. Hanya sekadar berkata seperti itu saja mata Sara sudah berkaca-kaca. Terbayang bagaimana nanti jika dirinya benar-benar terpisah dari Evan.


“Ayo sarapan Sara,” ajak Anin kemudian. “Mau gendong Evan?” tawar wanita itu kepada Sara.


Dengan cepat Sara pun mengangguk dan mulai menggendong putranya itu. “Akhirnya kamu ikut Bunda lagi, Nak …,” gumam Sara dengan lirih saat menggendong Evan sembari menuruni anak tangga.


Setelah itu, Belva juga turun menuju meja makan. Pria itu telah siap mengenakan kemeja berwarna maroon dan celana hitam yang halus, rambutnya tertata rapi, pria itu tersenyum dan mengusap puncak kepala Evan.


“Pagi putranya Papa …,” sapanya.


Sara pun menganggukkan kepalanya secara pias, “Pagi Pak,” sahutnya.


Mendengar balasan dari Sara, nyatanya Anin justru tertawa. “Aku heran, sudah hampir satu tahun berlalu, kenapa kalian berdua masih sekaku ini sih? Kenapa kalian berdua sama-sama dingin?” tanya Anin.


Akan tetapi, Sara dan Belva sama-sama diam. Tidak menanggapi ucapan Anin. Memilih menikmati sarapan yang sudah disediakan Bibi Wati di meja makan.


Sementara Anin melihat suaminya dan Sara bergantian, “Apa tidak bisa kalian lebih dekat dan lebih hangat?” tanya Anin dengan tiba-tiba.


Sekilas Sara melirik Belva dengan wajahnya yang datar dan terkesan tidak terjadi apa-apa. Oleh karena itu, Sara pun memilih menunduk. Tak ingin membalas ucapan Anin. Lebih baik diam, daripada kita justru larut dalam perasaan yang dia genggam sendirian.


“Sayang, tolong jangan terlalu dingin. Dia juga istrimu,” ucap Anin.

__ADS_1


Seakan-akan Anin meminta kepada Belva untuk lebih bersikap hangat kepada Sara. Juga kali ini Anin mengingatkan hubungan antara Belva dan Sara yang adalah seorang suami dan istri. Sehingga, Anin meminta suaminya itu supaya tidak terlalu dingin.


Sementara bagi Sara sendiri, mungkin saja dinginnya Belva karena dia sendiri yang sudah menarik garis batas antara dirinya dengan Belva. Tidak ingin jatuh dalam perasaan yang seakan tak pernah bersambut. Untuk itu, Sara seakan lebih memilih membangun sebuah kastil yang tinggi untuknya.


“Sarapan saja, Anin … ini masih pagi,” sahut Belva pada akhirnya.


Mendengar jawaban Belva, Anin pun mendengkus kesal. “Ishhhs, kamu itu memang selalu begitu. Selalu bersikap dingin kepada orang lain. Evan, lihat itu Papamu, semoga nanti kamu bisa menjadi pribadi yang lebih hangat daripada Papamu,” ucap Anin kini.


Tentu saja Evan sama sekali tidak tahu apa yang sedang diobrolkan para orang tuanya di meja makan waktu itu.


“Sara, kamu juga … kenapa kamu seakan begitu dingin kepada suamimu?” tanya Anin kini yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada Sara.


“Eh, aku, Kak? Aku enggak kenapa-kenapa kok, biasa saja,” sahut Sara.


Tentu jawaban itu hanyalah sebuah alibi. Sebenarnya bersama Belva, Sara tidak bisa bersikap biasa-biasa saja. Akan tetapi, karena Belva sama sekali tidak memberinya kepastian, maka Sara memilih membuat jarak antara dirinya dan suaminya itu.


“Tidak, menurutku kamu pun begitu dingin dengan Belva,” jawab Anin.


Ya, di mata Anin, Sara pun bersikap begitu dingin kepada Belva. Bahkan wanita itu jarang sekali membicarakan perihal Belva. Sikap dingin keduanya seakan memicu Anin untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi di antara suaminya dan Sara.


Akan tetapi, semuanya sia-sia karena di meja makan kali ini pun, Anin dan Belva sama-sama tidak mengakui sikap dingin mereka. Memilih fokus dengan makanan yang ada di hadapan mereka, dan enggan menjawab setiap pertanyaan Anin.


“Mengapa aku merasa bahwa kalian berdua ini bergitu mirip, sama-sama dingin, sama-sama tidak bisa ditebak,” sahut Sara pada akhirnya.


Wanita itu akhirnya sampai di satu kesimpulan bahwa Belva dan Sara adalah orang-orang yang dingin dan tidak bisa ditebak. Raut wajah yang tenang seakan tidak ada ekspresi, juga keduanya seakan tidak bisa saling bersikap hangat satu sama lain.


“Sudah makan sarapanmu, abis ini aku mau ke kantor,” sela Belva yang meminta Anin untuk menghabiskan sarapannya karena sebentar lagi dia akan ke kantor.

__ADS_1


Sara sendiri memilih diam, hanya tinggal menghitung hari dirinya berada di sini, sehingga Sara memilih mengamati perilaku pasangan suami istri itu. Semua yang terekam oleh matanya, akan menjadi kenangan yang tak pernah Sara lupakan pada suatu hari nanti.


__ADS_2