Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Mengejar Cinta Janda


__ADS_3

Sudah beberapa bulan berlalu, bahkan sudah nyaris satu tahun waktu berjalan. Akan tetapi, jika dalam kurun waktu satu tahun itu tidak berubah itu tentu adalah perihal perasaan Zaid kepada Sara. Pemuda itu masih terus berusaha untuk mendekati Sara.


“Malam minggu nonton yuk Sara?” ajak Zaid kali ini kepada Sara.


“Sorry Zaid, aku tidak bisa,” elak Sara kali ini.


Zaid pun menatap wajah Sara sekilas, “Tenang saja … Coffee Bay milikmu tetap berjalan walau tidak ada kamu. Tiga karyawanmu sudah bisa kamu andalkan. Bahkan kamu sudah siap untuk mencoba cabang baru lagi,” ucap Zaid.


Sara tampak diam. Sebenarnya dia pun merasa tidak enak karena berkali-kali menolak ajakan Zaid. Akan tetapi, bagaimana sebagai Ibu Susu, dia harus pulang tepat waktu dan mengosongkan sumber ASI-nya. Lagipula, hanya tinggal beberapa bulan saja dan Evan akan lepas ASI. Sara hanya ingin melakukan pumping tepat waktu supaya sumber ASI-nya tidak membengkak.


“Gimana ya Zaid … aku sibuk,” balas Sara kali ini.


Bukan hanya sibuk dengan rutinitasnya sebagai pengusaha Coffee Shop, tetapi sibuk juga tiap beberapa jam sekali harus mengosongkan sumber ASInya. Sara bahkan sampai membuat bilik khusus di lantai dua rukonya yang dia pergunakan untuk melakukan pumping. Sebab, pernah Sara terlalu fokus bekerja dan tidak melakukan pumping tepat waktunya. Hingga akhirnya sumber ASI-nya membengkak dan badannya menjadi demam. Oleh karena itu, Sara memilih untuk tetap rutin melakukan pumping.


“Ayolah Sara … cuma nonton aja kok,” pinta Zaid kali ini. Seakan-akan Zaid tidak enggan untuk terus mencoba dan berusaha. Jika usahanya tidak membuahkan hasil, Zaid akan terus bangkit dan mencobanya kembali.


Melihat Zaid yang seakan ingin sekali mengajaknya menonton, Sara lantas menganggukkan kepalanya, “Baiklah,” sahutnya singkat.


Senyuman pun terbit dengan sendirinya di wajah Zaid. Dia tidak menyangka bahwa Sara akhirnya akan menyetujui ajakannya untuk menonton film malam minggu nanti.


“Oke, aku tunggu di sini yah,” ucap Zaid.


“Iya,” balas Sara pada akhirnya.


***


Malam minggu pun tiba …

__ADS_1


Zaid telah mengenakan pakaian yang rapi, pria itu bahkan menyemprotkan parfum beraroma maskulin yang lebih banyak di badannya. Mungkin ini akan menjadi satu momen di mana dia berhasil mengajak Sara keluar. Walaupun hanya sekadar menonton film, tetapi Zaid begitu bahagia bukan kepalang. Zaid justru tampak seperti ABG yang tengah jatuh cinta dan hendak menikmati malam minggunya.


“Zai, kamu udah datang?” sapa Sara yang baru saja keluar dari Coffee Bay miliknya.


“Iya … baru saja nyampai,” balas Zaid. “Sekarang yuk?” ajak Zaid kepada Sara.


Pria itu lantas membukakan mobilnya untuk Sara, mempersilakan wanita itu untuk masuk, dan kemudian Zaid mengitari mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Tidak membutuhkan waktu lama dari coffee shop milik Sara menuju ke Mall terdekat di kota itu.


Setibanya di Mall, keduanya pun berjalan bersisian, dan memasuki Mall. Tempat yang mereka tuju adalah bioskop yang berada di lantai empat.


“Kamu suka film apa Sara?” tanya Zaid.


“Apa saja, ikutin kamu aja mau nonton apa,” balas Sara.


“Yakin? Enggak pengen lihat film apa gitu?” tanya Zaid lagi.


“Mau Pop Corn manis, asin, atau karamel?” tanya Zaid.


Belum sempat Sara menjawab, rupanya ada pasangan muda yang menginterupsi Zaid dan Sara.


“Maaf permisi, itu Pop Corn Caramelnya tinggal satu. Boleh tidak saya yang mengambil Pop Corn rasa karamel itu untuk putri saya?” seorang Papa muda yang berbicara dan meminta izin dengan sopan untuk membeli Pop Corn dengan rasa caramel untuk putrinya yang sedang menangis dan menunjuk Pop Corn itu.


Sara lantas mengambil Pop Corn dengan rasa caramel itu dan menyerahkannya untuk anak kecil yang tengah menangis dalam gendong Mamanya itu.


“Hai, halo Sayang … nama kamu siapa? Kamu mau Pop Corn rasa caramel ini yah? Ini onty belikan buat kamu yah,” ucap Sara sembari mengusap puncak kepala bocah kecil yang masih menangis itu.


“Itu Sayang, diajak bicara sama Onty tuh … dijawab dong,” balas sang Mama.

__ADS_1


“Syilla … namanya Arsyilla, Onty,” balas anak kecil itu.


“Wah, namanya bagus yah … Arsyilla jangan nangis yah … ini Pop Corn rasa caramelnya buat Arsyilla,” balas Sara.


“Maaf biar saya ganti,” ucap Papa si gadis kecil itu dengan mengeluarkan dompet dari saku celananya.


“Tidak Pak … tidak usah. Pop Cornnya buat Arsyilla saja ya. Sudah dapat Pop Corn sekarang senang yah, jangan menangis lagi anak cantik,” ucap Sara.


Sang Mama yang melihat Sara pun mengangguk dan tersenyum, “Terima kasih ya Kak … maaf, bukannya kami mau menyerobot, tetapi anak saya ini sukanya rasa caramel,” jelas sang Mama yang usianya masih muda itu.


Mama dari Arsyilla itu merasa sungkan sebenarnya, tetapi anaknya seakan ingin mendapatkan Pop Corn dengan rasa caramel kesukaannya itu. Sehingga Papanya pun meminta izin kepada Zaid dan Sara yang berdiri di depannya untuk bisa mendapatkan Pop Corn dengan rasa caramel itu.


“Iya Kak … tidak apa-apa. Ya sudah, saya duluan ya. Bye Arsyilla, anak cantik,” ucap Sara sembari mengusapi puncak kepala Arsyilla dan kemudian kembali berjalan ke arah Zaid.


Melihat Sara yang justru berbaik hati dan membelikan Pop Corn dengan rasa karamel ke seorang anak kecil yang tengah menangis pun tak lepas dari atensi Zaid.


“Kamu baik banget sih,” balas Zaid.


Sara tampak menghela nafasnya, kemudian menatap Zaid.


“Melihat anak yang menangis, rasanya aku tidak tega. Aku teringat pada putraku,” ucap Sara dengan tiba-tiba.


Zaid pun mengangguk. Pemuda itu begitu memahami bahwa sisi keibuan dari Sara tetap ada, sekalipun dia terpisah jauh dari anaknya. Terlihat dari Sara yang tidak tega melihat seorang anak yang menangis karena menginginkan Pop Corn dengan rasa karamel. Justru Zaid melihat sosok Sara yang baik dan mau berbagi dengan anak kecil yang menangis itu. Hal ini pun menandakan bahwa Sara bukanlah sosok yang egois.


Hingga terdengar bahwa pintu studio 2 telah dibuka, keduanya lantas mengambil antrian untuk memasuki studio bioskop. Zaid ternyata juga membeli Pop Corn dengan rasa mixed yaitu manis dan asin, tidak lupa membelikan Frappucino untuk Sara. Setidaknya Zaid terus berusaha dan berupaya untuk mengejar sang janda. Dia akan terus berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mendapatkan hati sang janda itu.


Setidaknya kalaupun membutuhkan waktu lama, Zaid akan memakluminya karena seorang wanita seperti Sara memiliki permasalahan yang begitu kompleks. Lagipula stok sabarnya masih banyak, sehingga Zaid tetap menunggu dan terus berjuang. Sekarang ini sedikit lebih dekat dengan Sara sembari menikmati film Superhero saja sudah begitu membuatnya bahagia. Dengan sedikit usaha lagi, Zaid berharap bahwa Sara akan benar-benar membuka hatinya dan menerima dia.

__ADS_1


__ADS_2