
Hari kelima di mana Sara masih harus bedrest, rasanya Sara sudah merasakan punggungnya yang panas karena bersandar dan rebahan terus-menerus di atas tempat tidur. Kendati demikian, Sara tidak mengeluh. Sembari menghitung hari demi hari yang berjalan, Sara memilih untuk memfokus diri supaya lebih sembuh.
Untung saja, Belva begitu siaga. Pria itu bahkan rela bekerja dari rumah. Lebih menikmati bekerja di sudut sofanya sembari matanya terkadang melirik Sara, daripada harus meninggalkan istrinya di kondisi yang kurang baik seperti ini.
“Masih sakit Sayang?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Enggak … udah enggak sakit sama sekali kok,” balas Sara.
“Terus, kamu masih keluar flek enggak?” tanya Belva lagi.
“Sudah enggak keluar kok Mas … semoga saja baby kita aman,” jawab Sara dengan mengusapi perutnya sendiri.
Belva kemudian mendekat dan memberikan usapan di perut Sara. Pria itu bahkan kini menundukkan wajahnya dan memberikan sebuah kecupan di perut Sara.
“Babynya Papa dan Mama sehat-sehat yah … nyaman tinggal di rahim Mama dulu ya, jangan sakit lagi. Maafkan Papa karena terlalu sibuk bekerja, sampai tidak memperhatikan kalian berdua. Sekarang, kamu sehat-sehat di dalam perut Mama. Kita bertemu saat usiamu sudah cukup, Papa akan gendong kamu nanti,” ucap Belva.
Ya, Belva tengah melakukan baby sounding kepada babynya yang masih berada di dalam perut Sara. Jikalau dulu, saat Sara hamil Evan, Belva jarang mengajak babynya mengobrol karena hubungan dengan Sara yang tidak sebaik ini. Sekarang, tanpa permisi pun Belva bisa melakukan apa pun yang dia mau. Tentunya, Sara juga tidak keberatan dengan semua perlakuan Belva atasnya.
“Iya Papa … adik bayi akan sehat-sehat kok di perut Mama,” balas Sara yang menirukan suara anak kecil.
Mendengar Sara, Belva justru segera merangkak ke atas ranjangnya, dan pria itu merebahkan dirinya di samping Sara, menelisipkan tangannya di bawah kepala Sara.
“Lucu banget sih kamu, Sayang … jadi gemes deh aku,” ucap Belva sekarang ini.
“Ishs, nanti ujung-ujungnya modus. Enggak boleh loh Mas, berisiko. Biar sepenuhnya aku sehat dan pulih dulu,” balas Sara.
Bukan menolak keinginan suami, hanya saja Sara hanya mengingatkan bahwa kondisi sekarang belum sepenuhnya sehat. Sara hanya berani memberikan hak lagi untuk suaminya setelah memastikan bahwa dirinya dan janin yang ada di dalam rahimnya dalam kondisi sepenuhnya sehat.
“Iya Sayang … tenang saja. Untuk urusan menahan seperti itu, aku bisa. Kamu tidak perlu khawatir,” balasnya.
Sara lantas menengadahkan wajahnya untuk menatap suaminya itu, “Serius? Kok setelah menikah sama aku yang sekarang, kelihatannya gak begitu bisa nahan deh,” ucap Sara.
Ada tawa yang keluar dari mulut Belva. Pria itu tertawa sampai wajahnya memerah di sana, “Mau kamu kenapa aku jadi berbeda?” tanya Belva kemudian.
“Iya, mau,” jawab Sara secara singkat.
“Aku udah candu deh Sayang sama kamu. Pusing kalau lama-lama tidak kamu sentuh,” jawab Belva dengan jujur.
__ADS_1
“Ya ampun, jawabannya bikin kesel,” sahut Sara.
“Aku jawab jujur, Sayang … cuma kan aku enggak pernah memaksakan kehendakku. Kita bisa menikmatinya bersama. Jangan hanya satu pihak yang menikmati dan merasakan enak. Kita berdua harus sama-sama meniti puncak asmara,” balas Belva.
Setelahnya Belva segera memeluk Sara, “Buruan sembuh yah … nanti aku kasih yang enak-enak. Be my Queen,” ucap Belva.
Refleks, Sara memukul dada suaminya itu, “Nakal deh … aku belum sepenuhnya sembuh. Pokoknya sembuh dulu ya Mas. Kalau belum sembuh, puasa dulu enggak apa-apa kan Mas?” tanya Sara lagi.
“Iya … enggak apa-apa. Puasa dua tahun saja aku bisa melampauinya, Sayang. Cuma beberapa pekan enggak apa-apa. Sekalian nanti latihan kalau kamu udah selesai persalinan, aku kan puasa lagi empat puluh hari,” jawab Belva.
Jawaban yang diberikan Belva terdengar bersungguh-sungguh. Jawaban itu pula yang membuat Sara yakin bahwa suaminya pasti sudah terlatih untuk menahan hasratnya. Sara tidak kepikiran lagi dengan masa nifas usai bersalin nanti, karena Belva memang sudah terbukti dan teruji.
“Mas, nanti kalau aku sudah sembuh … ajakin jalan-jalan ke pantai yah,” pinta Sara kali ini.
Rasanya setelah seminggu penuh di rumah, dan tidak kemana-mana membuat Sara membutuhkan suasana baru untuk melepas semua penatnya. Pantai menjadi pilihan yang tepat untuk melepas penat dan mendapatkan suasana baru untuk menyegarkan jiwa dan pikirannya.
“Boleh … sekalian nanti ajak bermain Evan. Aku juga pengen menebus waktu bersama Evan,” balas Belva.
“Makasih Mas … cuma prioritaskan di pekerjaanmu dulu saja. Sungguh, aku tidak keberatan kamu bekerja, cuma kalau kamu sibuk banget kayak kemarin, setidaknya luangkan waktu sepuluh menit saja buat aku. Peluk aku sepuluh menit saja,” pinta Sara kali ini kepada suaminya.
“Iya, maafkan aku yah,” balas Belva.
Kali ini seolah Belva diingat pada kesalahannya. Sekarang, di saat Sara meminta, maka Belva akan mengingatnya dan mewujudkan keinginan istrinya itu. Hanya sepuluh menit itu tidak akan lama.
“Sayang, jika aku lupa … ingatkan aku yah. Jangan diam saja. Sebab, kalau kamu diam, aku tidak akan tahu. Jika aku salah, tegur saja aku. Aku sama sekali tidak keberatan,” ucap Belva kepada Sara.
“Iya Mas … nanti kalau kamu lembur, dan kamu sampai cuekin aku, aku matikan tuh laptop kamu, dan aku langsung minta kamu peluk,” jawab Sara dengan kian mencerukkan wajahnya di dada suaminya itu.
Ada senyuman yang terbit di bibir Belva, dia suka Sara yang terbuka dan melakukan apa-apa dengan dorongan hatinya. Alih-alih Sara yang diam dan menyembunyikan segala sesuatu dalam hati. Lebih baik memang Sara yang terbuka kepadanya.
***
Tiga hari setelahnya …
Ini adalah hari ke delapan sejak Sara menjalani bedrest di rumah. Hari ini, Belva kembali membawa Sara ke Rumah Sakit untuk mengecek kembali kondisi Sara dan janin di dalam rahimnya. Semoga saja hasil pemeriksaan kali ini akan baik adanya dan Sara bisa dinyatakan sembuh total.
Sekarang di ruangan Dokter Indri, Sara sedang terbaring di atas brankar, dan dilakukan pemeriksaan dengan USG di sana. Dokter Indri sudah bersiap dengan transducer di tangannya.
__ADS_1
“Jadi sudah tidak ada flek kan Bu Sara?” tanya Dokter Indri.
“Iya, sudah tidak ada flek kok Dok,” balas Sara.
“Kita lakukan pemeriksaan dengan USG yah … kita lihat kondisi bayinya. Nah, sekarang kehamilan 16 minggu ya Bu Sara. Sudah memasuki Trimester dua, di mana di kehamilan ini janin akan lebih kuat bertumbuh di dalam. Organ-organ tubuhnya juga berkembang dengan sempurna. Hasil dari pemeriksaan ini, janin Bu Sara dalam keadaan sehat. Jadi, tidak perlu panik ya Bu … badai telah berlalu,” ucap Dokter Indri.
Ketika Dokter Indri mengatakan bahwa janinnya dalam keadaan sehat, rasanya Sara begitu lega, hatinya begitu terharu. Ini adalah doa dan harapannya. Keinginan terbesar Sara yang menginginkan janinnya sehat. Semoga setelah ini tidak ada peristiwa buruk lagi yang menimpanya, dan berharap sampai hari melahirkan nanti, bayinya akan selalu baik-baik saja.
...🍃🍃🍃...
Dear My Bestie,
Sembari menunggu Bab selanjutnya, mampir yuk ke karya teman aku.
Terpaksa Menggoda Suami Orang - Karya chibichibi@
Mencintai Pria Casanova - Karya Agustina Pandiangan.
Semesta Merestui Kami - Karya Melisa Ekprisa
__ADS_1