
Pagi-pagi buta tadi menjadi pagi yang penuh kebahagiaan bagi Belva dan Sara. Sebab, di pagi ketika surya pun belum menyapa, mereka mendapatkan kabar bahagia bahwa Sara kembali hamil kali ini. Belva tentu menyambut dengan penuh bahagia, karena dirinya sudah ingin menimang bayi lagi.
“Jadi, kapan mau periksa?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Minggu depan saja, Mas … kamu terlihat seneng banget sih, Mas. Aku tidak menyangka kamu se-excited ini,” balas Sara.
Belva pun menganggukkan kepalanya, “Iya Sayang … aku benar-benar bahagia rasanya. Doa dan harapanku dijawab sama Allah. Dua bulan lebih pernikahan kita, akhirnya ada kehidupan baru di dalam rahim lagi. Rupanya benar kan Sayang, benih terbaik dan bibit unggul mulai bersemi di dalam rahim kamu,” balas Belva.
“Bibit unggul kualitas prima ya Mas?” goda Sara kepada suaminya itu. Agaknya sekarang pun Sara jika bercanda bisa mengimbangkan candaan suaminya yang kian hari memang kian nakal itu. Sebatas candaan dari pasangan suami dan istri itu.
“Iya dong … kualitas terbaik,” jawab Belva dengan wajah yang tersenyum bahagia. “Sayang, karena kamu hamil. Agaknya aku butuh sekretaris baru deh. Ke depannya akan lebih banyak projek yang akan dikerjakan Agastya Property. Sementara aku juga ingin memiliki banyak waktu untuk istriku yang sedang hamil ini dan juga untuk Evan. Jadi, aku akan merekrut sekretaris baru,” ucap Belva kali ini.
Sara mendengarkan perkataan suaminya itu. “Baik, Mas lakukan yang baik menurut Mas aja. Sesuai dengan kebutuhan saat ini. Yang penting jaga diri dan jaga hati kamu cuma buat aku,” sahut Sara.
Menjadi istri seorang CEO, Sara memang tidak menuntut apa pun. Yang Sara tuntut adalah suaminya itu bisa menjaga diri dan hatinya hanya buat dia seorang. Sebagai seorang wanita, Sara menginginkan kesetiaan yang mutlak dari suaminya itu.
“Tentu Sayang … kamu pemilik tubuh, jiwa, dan hidupku,” balas Belva dengan serius. “Ya sudah, aku berangkat kerja yah. Jangan kecapekan. Main sama Evan jangan capek-capek yah. Hati-hati di dalam perut kamu sudah ada baby kita,” ucap Belva sembari menggerakkan tangannya dan memberikan elusan di perut Sara.
“Iya-iya Papa. Siap laksanakan,” jawabnya.
Saat Belva turun dari anak tangga, ada Evan yang berlari dan memeluk Papanya itu. “Papa sudah mau berangkat ke kantor?” tanyanya.
“Iya, Van … kerjaan Papa sangat banyak,” balasnya.
__ADS_1
“Papa nanti pulang malam lagi?” tanya Evan lagi.
Terlihat Belva menunduk guna mensejajarkan tingginya dengan putranya itu, “Papa akan usahakan pulang sore. Evan, nanti kalau main sama Mama jangan terlalu capek ya. Kasihan Mama kalau mainnya sampai kecapekan,” pesan Belva kali ini.
“Kenapa memangnya Pa?” respons dari Evan.
“Beberapa waktu lalu, Evan minta adik kan sama Mama? Sekarang Tuhan sudah jawab permintaan Evan. Mama sedang hamil sekarang, jadi kalau bermain tidak usah capek-capek yah,” balas Belva.
Itu adalah cara seorang Papa memberitahukan kepada putra sulungnya bahwa Mamanya tengah hamil. Untuk itu, Belva memberikan penjelasan sederhana yang bisa dimengerti Evan.
“Mama hamil Ma? Evan mau jadi Kakak? Yes, Evan senang!” teriak Evan saat itu.
Sara pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala Evan dengan penuh Sayang, “Iya Nak … Evan mau jadi Kakak kan? Doanya Evan sudah didengar dan dijawab sama Tuhan,” balas Sara.
Ketulusan Evan bahkan bisa Sara rasakan. Mulai sekarang, Sara akan melibatkan Evan dalam kehamilannya. Supaya ada bounding dari Si Kakak dengan Adeknya sejak mereka dalam kandungan. Sara berharap Evan benar-benar akan menjadi Kakak yang baik untuk Adeknya nanti.
Setelah berpamitan dengan Sara dan Evan, Belva bergegas untuk menuju ke tempat kerjanya. Hanya membutuhkan waktu hampir setengah jam, kini Belva telah tiba di kantornya. Dengan tenang, pria itu memasuki kantor Agastya Property dan menuju ke ruangannya.
“Pagi Bos,” sapa Ridwanyang sudah tiba di kantor terlebih dahulu.
“Ya, pagi,” sahut Belva. “Rid, bisa ke ruangan saya sebentar. Ada yang ingi saya sampaikan,” ucap Belva lagi kemudian.
Sekretaris itu pun mengekori Belva dan masuk ke ruangan sang CEO, “Ya Bos, ada apa?” tanya Ridwan.
__ADS_1
“Begini, pekerjaan dan projek Agastya Property ke depan sangat banyak. Oleh karena itu, saya butuh tambahan sekretaris yang bisa membantumu dan mengurangi beban kerja saya tentunya,” ucap Belva kali ini.
“Baik Bos, saya akan buat rekrutmen sekretaris baru,” sahut Ridwan. “Apakah ada syarat khusus?” tanya Rizal kemudian.
“Tidak ada. Syarat umum layak sekretaris pada umumnya saja,” jawab Belva. Itu karena Belva bukan CEO hidung belang dan biasanya memiliki syarat-syarat khusus dalam merekrut sekretaris.
“Tumben Bos, kok ingin menambah sekretaris?” tanya Ridwan lagi.
“Iya, soalnya Istri saya sedang hamil. Jadi, saya mau mengurangi beban kerjaan saya dan saya punya waktu untuk lebih memperhatikan Istri,” jawab Belva.
Ridwan hanya tersenyum mendengarkan jawaban dari atasannya itu. Di mata Ridwan, Belva memang sosok pria yang penyayang dan perhatian kepada istri. Bahkan sekarang, terlihat bagaimana Belva sedang berupaya memberikan waktu lebih untuk istrinya yang tengah hamil.
“Baik Bos, saya akan buat promosi rekrutmen untuk sekretaris. Nanti Bos tinggal melakukan wawancara akhir saja,” balas Ridwan.
“Oke baiklah. Siapkan hari ini laporan kerja sama kita dengan Jaya Corp yah. Tidak ada kendala kan dengan projek pembangunan Tower di Pantai Kapuk?” tanya Belva kepada Ridwan.
“Siap Bos. Akan saya siapkan. Projek di Pantai Kapuk juga aman kok Bos. Tidak ada kendala. Perusahaan sebesar dan sekaliber Jaya Corp dengan pengalaman mereka yang puluhan tahun sudah pasti bisa dipercaya dan kerja sama bisa berjalan lancar,” balas Rdwan.
“Baiklah, kamu bisa kembali bekerja,” ucap Belva.
Pria yang berprofesi sebagai CEO itu kemudian duduk di kursi kerjanya dan mulai tenggelam dalam setiap file dokumen berapa laporan dari dewan direksi. Memang mengingat semakin banyaknya beban kerja Belva dan projek yang kian banyak, sudah saatnya Belva menambah seorang sekretaris. Sekretaris yang bisa membantunya untuk bekerja dengan baik, teliti, dan cepat. Jika memiliki sekretaris baru, maka Belva bisa memiliki sedikit waktu untuk lebih memperhatikan Sara. Rasanya kali ini Belva tidak ingin memberikan perhatian hanya saat malam hari. Belva ingin meluangkan waktu lebih banyak untuk Sara dan bayi.
Belva seakan tersadar bagaimana dulu saat Sara mengandung Evan, dirinya kurang bisa memberikan banyak perhatian kepada Sara. Padahal Ibu hamil membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari suaminya. Seakan ingin menebus waktu lampau saat Sara hamil, Belva ingin menjadi suami siaga dan memberikan perhatian dan kasih sayangnya untuk Sara, dan babynya. Selain itu, Evan juga membutuhkan perhatiannya. Tidak ada salahnya, jika Belva merekrut sekretaris baru lagi.
__ADS_1