
“Tidak terasa yah, sudah sebulan berlalu,” ucap Anin malam itu sembari memangku Evan yang sudah berusia 3 bulan.
Terkadang saat kali pertama ditinggalkan seseorang, waktu seakan berjalan dengan begitu lambat. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, justru hari-hari yang semula berjalan begitu lambat perlahan–lahan berjalan begitu cepat. Hingga tidak terasa bahwa Sara sudah pergi dari kediaman Belva Agastya selama satu bulan lamanya.
“Iya,” balas Belva dengan singkat.
“Apa tidak ada tanda-tanda di mana Sara berada?” tanya Anin lagi.
Belva pun menggelengkan kepalanya, “Tidak … tidak ada. Aku mencari ke kostnya, ke tempat kerjanya belum ketemu,” balas Belva.
Pada kenyataan memang bukannya Belva tidak berusaha mencari Sara. Belva mencari Sara, hanya saja tempat-tempat yang dia datangi tidak membuahkan hasil di mana Sara sekarang berada di mana. Keberadaan wanita itu benar-benar tak terlacak.
“Sayang sekali … padahal aku benar-benar ikhlas untuk menerima Sara. Ya, satu tahun terakhir kita bertiga bisa hidup bersama. Hubungan kami berdua seperti Kakak dan Adik. Ada Evan juga yang menjadi pengingat tali kekeluargaan antara kita bertiga. Kupikir malam itu, Sara akan menyetujuinya. Nyatanya, apa yang kuharapkan tidak sebanding luruh dengan kenyataan,” balas Anin.
“Setiap orang memiliki pertimbangannya masing-masing, begitu pula dengan Sara … jadi, kita juga harus menghargai keputusannya,” jawab Belva.
Anin pun mengangguk mendengar jawaban Belva, “Iya … hanya saja, rumah ini terasa kosong tanpa Sara. Dulu, saat aku masih menjadi seorang model, apa yang kamu lakukan bersama dengan Sara?” tanya Anin dengan tiba-tiba.
Ada rasa dalam hatinya yang seolah ingin mencari tahu apa yang dulu sering dilakukan Belva bersama dengan Sara saat dirinya masih bepergian ke luar kota untuk melakukan pemotretan. Seakan ada waktu yang sama sekali tidak dketahui oleh Anin.
“Hanya sebatas menemaninya di dalam kamar,” sahut Belva pada akhirnya.
Anin pun tersenyum, tentu saja dalam pikirannya sekarang ini ungkapan ‘hanya menemani di dalam kamar’ sudah pasti memiliki makna yang luas. Lagipula, Belva dan Sara adalah sosok yang sudah dewasa, sehingga tidak mungkin hanya sekadar duduk bersama di dalam kamar. Atau hanya sekadar merebahkan dirinya dan menunggu Sara untuk tertidur.
__ADS_1
“Menurutmu, bagaimana Sara itu?” tanya Anin dengan tiba-tiba.
Ya, rasanya Anin ingin mengetahui perasaan dan isi hati suaminya. Bagaimana pandangan suaminya terhadap Sara.
“Dia baik dan tulus, juga begitu mulia,” balas Belva.
Pria itu pada dasarnya memang adalah sosok yang irit berbicara sehingga Belva hanya menjawab secara singkat saja. Tidak suka menjelaskan semuanya secara panjang dan lebar.
Mendengar jawaban Belva, Anin pun menganggukkan kepalanya, “Ya … Sara memang sosok yang baik. Kulihat Sara sebenarnya adalah wanita yang ceria, tetapi kenapa Sara seolah menahan segala sesuatu sendiri,” respons Anin kemudian.
Belva pun menunduk, pria itu teringat dengan Sara yang memang pribadi yang tertutup. Bahkan dulu, saat dirinya meminta kepada Sara untuk membagi perasaannya, membagi keluh kesahnya, membagi kepahitannya, Sara memilih menolaknya. Sara mengatakan bahwa dia sudah terbiasa merasakan segala sesuatu seorang diri.
Mengingat semua perkataan Sara dulu, rasanya hati Belva terasa sesak. Banyak hal yang tidak dia ketahui tentang Sara. Namun, Belva sangat ingin dengan kedua bola mata Sara yang terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba, senyuman tipis di bibir Sara, dan juga kening Sara yang sering berkerut karena wanita itu tengah memikirkan segala sesuatu. Semua itu secara alamiah terlintas di benak Belva.
“Dengan perginya Sara, bagaimana dengan pernikahan kalian?” tanya Anin pada akhirnya.
Belva pun menghela nafasnya perlahan, “Dia … meminta … talak,” sahut Belva dengan jujur.
Terasa aneh saat seorang suami mengatakan bagaimana kondisi pernikahan keduanya dengan wanita lain. Akan tetapi, Belva sendiri merasa tidak perlu merasa ditutup-tutupi. Sebab, dari awal dirinya memang sudah bersikap terang-terangan. Anin pun mengizinkannya untuk menikahi Sara, menyentuh Sara, bahkan menanam benihnya di dalam rahim Sara hingga lahirlah Evan bagi mereka berdua.
Anin tampak terkejut, tidak mengira bahwa Sara meminta kepada Belva untuk menalaknya. Hati sebagai seorang wanita begitu sakit mendengar kata talak itu. Terlebih mengingat posisi Sara yang ibarat kata hanya sebagai madu, tentu sangat menyakitkan. Hingga kedua mata Anin pun berkaca-kaca.
“Lalu, apa yang kamu lakukan?” tanya Anin.
__ADS_1
Belva memejamkan matanya perlahan, membawa kedua tangannya mengusapi wajahnya sesaat. Hingga akhirnya, Belva pun kembali bersuara.
“Aku membebaskannya dari ikatan ini,” jawab Belva.
Tidak dipungkiri hati Belva terasa begitu sesak. Pria itu kembali teringat dengan tangis dan isakan Sara. Momen terakhir di mana dia menyentuh Sara untuk kali terakhir dan momen di mana Sara terisak dan meminta kepadanya untuk menalaknya.
Anin pun berlinangan air matanya mendengar jawaban Belva, tidak mengira dengan semua yang telah terjadi di belakangnya.
“Jika ada waktu yang baik, kamu mau menikahi Sara lagi?” tanya Anin pada akhirnya.
Pria itu hanya diam. Banyak benang kusut di dalam otaknya sekarang ini. Kehilangan Sara sebenarnya membuat Belva beberapa malam tak bisa tertidur, terkadang Belva juga yang terbangun dan memberikan ASI untuk Evan saat bayinya itu terbangun di tengah malam. Lalu, sekarang Anin justru mengajukan pertanyaan seperti itu.
“Entahlah,” jawab Belva pada akhirnya.
Tentu jawaban ini adalah sebuah jawaban yang ambigu. Hanya saja, Belva merasa tidak enak lagi harus menjawab dan mengatakan yang sesungguhnya kepada Anin sekarang ini.
“Aku tidak keberatan jika kamu menikahi Sara lagi,” sahut Anin.
Jika biasanya seorang istri tak ingin dimadu, berbeda dengan Anin. Rasanya Anin justru membukakan pintu bagi sang suami untuk menikahi wanita lain.
Belva pun menatap wajah Anin dengan penuh pertanyaan di pikirannya. Mencoba menerka apa yang diucapkan Anin sekarang ini.
“Jika wanita itu adalah Sara … aku mengizinkanmu untuk menikah lagi. Aku tidak keberatan dimadu, jika wanita itu adalah Sara,” lanjut Anin lagi.
__ADS_1
Seakan Anin ingin menegaskan bahwa kalau pun suaminya itu ingin memadunya, Anin memberikan izin bahwa wanita itu harus Sara. Jika bukan Sara, maka Anin akan menolaknya dan keberatan.
Sama seperti poligami yang dianggap sah apabila istri pertama menghendakinya. Dalam hal ini, rupanya Anin mengizinkan Belva untuk menikah lagi dengan satu syarat mutlak bahwa wanita adalah Sara. Itulah syarat yang diucapkan Anin sebagai istri pertama Belva malam itu.