
Ketika pagi hari tiba, pasangan yang masih sama-sama terlelap itu terbangun dari ada suara yang membuat tidurnya terganggu. Siapa lagi kalau bukan perawat yang datang, dengan mendorong meja dorong yang berisi obat dan peralatan medis, membuka pintu kamar perawatan Sara, hingga suara-suara itu membangunkan keduanya secara bersamaan. Belva mengerjap dan segera turun dari brankar. Pria itu malu sebenarnya, melihat ada perawat yang sudah masuk dan melihatnya masih tertidur di atas brankar milik Sara.
“Pagi Bu Sara,” sapa perawat itu.
“Pagi,” jawab Sara dengan lirih.
Kemudian perawat itu melirik ke Belva, “Brankar harusnya untuk pasien ya Pak … bukan untuk orang yang menunggu,” ucap perawat tersebut. Memang rasanya aneh memiliki orang yang harusnya menunggu pasien kini justru turut berbaring di atas satu brankar yang harusnya ditempati oleh pasien, supaya pasien bisa beristirahat dengan nyaman dan pulih secepatnya.
Mendengar ucapan perawat itu, Sara menunduk. Malu sebenarnya, tetapi bagaimana jika berada satu brankar dan dalam pelukan suaminya itu membuatnya tidur lebih lelap.
“Iya, maaf,” sahut Belva yang memilih meminta maaf kepada perawat tersebut.
Lagipula itu juga adalah salahnya yang justru menaiki brankar dan duduk di samping Sara, hingga berakhir dengan membuat posisi ternyaman di mana Belva membawa Sara dalam pelukannya, hingga membuat istrinya itu tertidur dan juga dirinya juga turut tertidur. Belva menyadari tindakannya sepenuhnya juga tidak benar, tetapi bagaimana lagi, dirinya tidak bisa jauh-jauh dari Marsha.
Usai itu, perawat itu kembali memeriksa kondisi Sara. Mulai dari pengecekkan suhu badan, sampai melihat selang infus. Ada pula sebuah obat yang kembali disuntikkan melalui selang itu infus itu. Sara menghela nafas, hatinya terasa berdesir saat obat itu disuntikkan.
“Bagaimana kondisi istri saya?” tanya Belva kepada perawat itu.
“Sejauh ini baik, Pak … hanya tunggu Dokter visiting nanti jam 10.00,” jelas perawat tersebut.
Setelah perawat keluar dari ruang itu, Belva kemudian menghela nafas dan duduk di kursi yang berada di samping brankar.
“Maaf yah … jadi malu sama perawatnya,” ucap Belva dengan lirih.
“Iya, enggak apa-apa kok. Lagian semua sudah terlanjur,” balas Sara.
Belva menganggukkan kepalanya, dan kemudian menatap ke Sara. “Mau ke kamar mandi? Aku bantuin,” tawar Belva kali ini kepada Sara.
Terlihat Sara menunduk, sebenarnya dia ingin ke kamar mandi sekarang. Sekadar mencuci muka, dan juga buang air kecil. Akan tetapi, ada rasa malu yang menyelimuti Sara.
“Mau,” jawabnya lirih.
__ADS_1
Kemudian Belva membantu Sara untuk turun dari brankar, dan kemudian membawakan selang infus itu, satu tangannya menuntun Sara untuk berjalan perlahan ke dalam kamar mandi. Seolah-olah Belva menuntun Sara dengan hati-hati. Begitu di dalam kamar mandi, Belva menaruh selang infus di tiang penyangga, masih menunggu karena dia khawatir sebenarnya dengan Sara.
“Tunggu di luar saja, Mas,” pinta Sara kali ini kepada suaminya.
“Yakin, kamu bisa?” tanya Belva.
Sara menganggukkan kepalanya, “Iya, bisa kok,” balasnya.
Meyakini bahwa Sara bisa melakukan sendiri, Belva akhirnya memilih keluar dari kamar mandi itu. Akan tetapi, dia tidak menutup pintu kamar mandi sepenuhnya karena dia begitu panik jika terjadi sesuatu dengan Sara. Di dalam kamar, Sara menunaikan kebutuhannya terlebih dahulu dan sekaligus membilas wajahnya dengan air supaya lebih bersih. Setelahnya, Sara dengan perlahan keluar dari kamar mandi dengan satu tangan mendorong tiang penyangga infus itu.
“Sudah?” tanya Belva kepada pintu kamar mandi itu terbuka.
“Iya, sudah,” balas Sara.
Belva segera meminta tiang penyangga itu dan mendorongnya, dan satu tangan lagi merangkul bahu Sara. Benar-benar tidak akan membiarkan istrinya itu kesakitan. Bahkan jika tidak ada selang infus yang menusuk pembuluh darah Sara, Belva lebih memilih membopong Sara dan tidak membiarkan istrinya itu berjalan.
“Sudah, buat berbaring lagi yah … kan kamu harus bedrest. Istirahat di tempat tidur,” balas Belva.
Rupanya tidak berselang lama, datang petugas yang membawakan sarapan untuk Sara. Tentu saja itu adalah menu sehat masakan khas Rumah Sakit yang memang dimasak dengan bumbu dan penyedap rasa yang tidak berlebihan. Belva menerima nampan yang berisi aneka sarapan itu, dan kemudian hendak menyuapinya kepada Sara.
“Makan yah … biar kamu cepet pulih,” ucap Belva.
“Gak suka makanan Rumah Sakit … hambar,” jawabnya dengan menutup mulut dengan satu tangannya.
“Dimakan dulu … nanti kalau sudah di rumah, biar dimasakkan Bibi Wati,” sahut Belva.
Akhirnya, mau tidak mau Sara menerima suapan demi suapan dari tangan suaminya itu. Walau hambar, Sara tetap memakannya dan berharap bisa segera pulang ke rumah, memakan masakan Bibi Wati yang cocok di lidahnya.
“Kamu enggak makan Mas?” tanya Sara.
“Nanti saja di rumah,” balas Belva.
__ADS_1
“Kamu keluar dulu untuk makan tidak apa-apa, Mas … sejak kemarin kamu tidak makan. Jangan sampai kamu sakit,” ucap Sara.
Belva pun menganggukkan kepalanya, “Tidak apa-apa aku tinggal?” tanyanya.
“Iya, tidak apa-apa,” sahut Sara.
Sehingga usai menyuapi Sara, Belva berpamitan ke bawah untuk makan di tempat makan yang berada di area Rumah Sakit. Hampir setengahan jam, Belva keluar untuk makan. Pria itu kembali dengan membawa segelas cup teh hangat untuk Sara. Dia ingat jika Sara menyukai Teh hangat di pagi hari. Sehingga Belva kembali ke kamar dengan membawakan Teh hangat untuk istrinya.
“Aku bawain Teh hangat, Sayang,” ucap Belva kembali memasuki kamar itu.
“Makasih Mas,” balas Sara dengan tersenyum menatap suaminya itu.
Tidak berselang lama Dokter Indri dan seorang Dokter lainnya datang dan melakukan visiting kepada Sara. Memastikan kembali kondisi Sara.
“Pagi Bu Sara,” sapa Dokter Indri dengan ramah.
“Pagi, Dok,” balas Sara.
“Bagaimana semalam bisa istirahat?” tanya Dokter Indri lagi.
“Bisa,” jawab Sara dengan menganggukkan kepalanya.
Kemudian Dokter Indri melakukan pengecekan dan bertanya apakah ada flek yang keluar. Sara juga menjawab dengan jujur jika masih ada flek yang keluar.
“Jika masih flek, obat dari saya tolong diminum sampai habis ya Bu … juga harus bedrest untuk 7 hari ke depan,” balas Dokter Indri.
“Iya Dok, cuma saya sudah boleh pulang tidak Dok?” tanya Sara lagi.
“Baiklah, boleh … tetapi jika ada keluhan seperti pandangan berkunang-kunang, ada nyeri di jalan lahir hingga panggul, Ibu harus kembali ke Rumah Sakit,” jelas Dokter Indri.
Sara menganggukkan kepalanya, dirinya lega bisa kembali ke rumah. Bisa memeluk putranya lagi. Tidak masalah harus seminggu di atas ranjang, yang penting Sara bisa pulang ke rumah suaminya dengan segera.
__ADS_1