Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Ketidaknyamanan yang dirasakan Sara layaknya semakin menjadi-jadi. Bagaimana bisa, di pesta relasi ini, dirinya justru bertemu dengan sosok yang seharusnya tidak ingin dia temui. Akan tetapi, yang ada kali ini sosok itu justru tengah menatapnya dengan begitu tajam.


Ingin rasanya Sara bersembunyi di belakang punggung Belva. Akan tetapi, semua sia-sia, lantaran mata itu seolah mengikuti pergerakan dirinya. Keadaan yang membuat Sara tidak nyaman.


Belva terus berjalan, kali ini dia menemui seorang pengusaha Konstruksi terbesar di Ibukota itu. Seorang Crazy Rich yang sudah malang melintang di dunia konstruksi.


"Halo, selamat malam Pak Jaya," sapa Belva kepada pria paruh baya yang merupakan pengusaha kontruksi yang begitu terkenal di seantero negeri.


"Ya, malam ... bagaimana kabarnya? Sekarang bisnis property Pak Belva makin mengudara ya?" gurau Pak Jaya yang merupakan CEO Jaya Corps itu.


Belva pun tersenyum, "Wah, saya masih muda, Pak ... masih harus berguru kepada Pak Jaya yang sudah senior. Saya masih kurang makan asam garam," sahutnya.


"Tidak masalah, asalkan mau bekerja keras pasti kesuksesan di depan mata," nasihat dari Pak Jaya Wardhana kepada Belva.


"Benar Pak, saya harus menimba ilmu kepada Bapak yang lebih senior," jawab Belva sembari tertawa.


Akan tetapi, kali ini Pak Jaya yang sudah cukup mengenal pengusaha muda itu tampak sedikit mengamati pada wanita muda yang berdiri tidak jauh dari Belva.


"Datang sama siapa? Dia bukan Anin, kan?" tanya Pak Jaya dengan sedikit berbisik kepada Belva.


Belva hanya tersenyum, "Bukan, dia adalah Sara," jawabnya.


Sebenarnya memang Belva menjawab dengan ambigu. Hanya mengatakan nama wanita yang mengikutinya adalah Sara, tetapi tidak mengatakan apa status dan posisi Sara hingga bisa datang bersamanya di pesta relasi itu.


Hingga akhirnya, ada seorang pengusaha yang ingin berbincang dengan Pak Jaya, sehingga CEO yang sudah berusia paruh baya itu meninggalkan Belva terlebih dulu di sana.


"Sorry ya, saya duluan," pamit Pak Jaya kepada Belva.


"Ya-ya, Pak, sampai jumpa lagi," sahut Belva.


Sepeninggal Pak Jaya, rupanya ada seorang pengusaha muda yang kini mendatangi Sara dan Belva. Sosok yang sejak tadi tengah mengusik Sara, dan kini sosok itu benar-benar berdiri di hadapan Sara.


"Wah-wah-wah, tidak menyangka kita bertemu di sini, Baby," sapanya dengan senyuman menyeringai.


Mendengar suara pria itu, tampak Sara yang terlihat panik. Tidak mengira pria itu akan berani mendatanginya.


"Rupanya, si pelayan bar murahan sudah menjadi Cinderella di sini," ucap pria itu lagi.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Belva pun memincingkan matanya saat mendengar ada seorang pria yang cukup dia kenal dan dengan melecehkan Sara secara verbal.


"Lebih kamu pergi dari sini, Anthony," gertak Belva kepada pria yang diketahui bernama Anthony itu.


Ya, pria itu adalah Anthony. Seorang pria yang berusaha memperkosa Sara saat Sara masih bekerja di bar. Tidak menyangka Sara akan kembali melihat pria yang pernah nyaris merenggut mahkotanya itu.


Nyatanya Anthony justru berdecih, "Chhch, jadi seorang CEO muda terkenal ini tengah merawat wanita murahan," sahut Anthony.


Belva kembali menatap tajam Anthony, "Hentikan ucapanmu itu, dia bukan wanita murahan, dia wanita terhormat," usai itu Belva menarik tangan Sara. Menggenggamnya, dan kemudian membawa Sara untuk pergi menghindari Anthony.


Seolah Belva tidak mempeduli pada tatapan orang-orang di sana. Pria itu dengan tenang menggenggam tangan Sara.


Akan tetapi, merasa bahwa beberapa orang mengamati Belva, Sara lah yang melepaskan tautan tangan Belva.


"Maaf, Pak ... sudah cukup," ucapnya dengan mengurai genggaman tangan Belva.


Sara tampak menunduk, dan dia kemudian tampak menggigit bibir bagian dalamnya, "Seharusnya aku tidak mengikuti Pak Belva ke mari," ucapnya.


"Tidak apa-apa Sara, tenangkan dirimu," ucap Belva yang seolah tidak mempermasalahkan dengan kejadian yang barusan terjadi.


"Saya pamit ke toilet dulu, Pak," pamit Sara yang memang butuh untuk menenangkan dirinya sementara.


"Berapa mahal pria itu membelimu katakan?" tanya Anthony dengan terang-terangan.


Sungguh perkataan Anthony bak petir yang menyambar diri Sara. Dirinya layaknya seorang pelacur yang dibeli oleh para pengusaha kaya. Dirinya benar-benar direndahkan saat ini. Kedua mata Sara pun membola, dan dia segera menghempaskan tangan Anthony yang masih membungkam mulutnya.


"Lepaskan! atau aku akan teriak," ancam Sara kali ini.


Anthony lantas melepaskan tangannya, tetapi pria itu belum berniat untuk melepaskan Sara begitu saja. "Katakan padaku, berapa banyak uang yang diberikan Belva Agastya sialan itu kepadamu? Berapa mahal kamu menjual tubuhmu?" tanya lagi dengan nada bicara yang begitu merendahkan Sara.


"Hentikan ucapanmu itu Anthony," sahut Sara dengan mendorong dada Anthony.


Akan tetapi, perlawanan yang Sara berikan nyatanya justru menyenangkan bagi Anthony, pria itu mendekati Sara.


Mengunci pergerakan Sara di dinding, dan pria itu mengikis jarak wajahnya, hendak mencium bibir Sara. Akan tetapi, Sara dengan cepat memalingkan wajahnya.


Merasa Sara yang lagi-lagi menolaknya, Anthony justru kini mencengkeram wajah Sara. Menatap wanita itu dengan tajam, "Wanita murahan," ucapnya.

__ADS_1


Lagi-lagi, Sara menangis dalam hati. Pria di hadapannya itu seolah begitu mudahnya melecehkannya secara verbal. Hatinya begitu sakit rasanya.


"Lepaskan aku pria brengsek," sentak Sara kali ini.


Dalam pikirannya, Sara harus membela dirinya sendiri saat ini. Terlebih ada janin dalam rahimnya yang harus dia pertahankan.


Akan tetapi, nyatanya Anthony tidak tinggal diam. Pria itu menyambar bibir Sara begitu saja, dan menggigit sudut bibir itu, hingga membuat luka berdarah di bibir Sara. Sekuat tenaga, Sara berusaha mendorong dada Anthony, merasa tidak mampu, Sara mengangkat lututnya dan segera menghantam inti tubuh pria itu dengan lututnya sekuat mungkin.


Merasa bahwa Anthony kesakitan dan menggeram, Sara membuka pintu toilet itu dan segera berlari. Lantaran panik dan tujuannya hanya untuk melarikan diri, Sara sampai lupa bahwa dirinya tengah mengandung. Baru beberapa langkah dia berlari, rupanya Belva menunggunya di dekat area masuk ke toilet.


Belva terkesiap melihat Sara yang berlari, wajahnya basah lantaran berlinangan air mata, dan darah yang terlihat di sudut bibirnya.


Dengan sigap, pria itu meraih tubuh Sara.


"Apa yang terjadi Sara?" tanyanya dengan panik kepada Sara.


"Bawa aku pergi dari sini, Pak ... ayo," pinta Sara.


Akan tetapi, beberapa meter di belakang Sara terdapat Anthony yang tampak berlarian tertatih dan memegangi pusakanya yang kesakitan lantaran tendangan lutut Sara.


Belva yakin bahwa semua ini berkaitan dengan Anthony, rasanya darah Belva menjadi mendidih seketika. Belva berjalan beberapa langkah ke depan dan dia segera menghardik Anthony, kembali memasukkan pria itu ke sebuah toilet kosong.


Pria itu mengangkat kepalan tangannya dan mulai menghujami wajah Anthony dengan bogem mentahnya.


"Pria brengsek, ba-jingan! Kali ini aku tidak akan memaafkanmu," ucap Belva kali ini dengan nafasnya yang memburu.


Tidak berusaha menghindar, nyatanya Anthony justru tertawa keras, "Tidak kusangka pengusaha dengan popularitas sepertimu justru menyewa seorang pelayan bar murahan," ejek Anthony kali ini.


Kian geram, karena ucapan Anthony membuat telinga Belva panas. Pria itu kembali mengangkat bogem mentahnya dan meninjukannya ke wajah Anthony, "Brengsek kau, begitu mudahnya kau merendahkan seorang wanita. Bekerja sebagai pelayan di bar, bukan berarti dia wanita murahan," gertak Belva kali ini.


Hingga akhirnya di batas emosinya, Belva kembali memukuli Anthony, dan menghempaskan badan pria itu ke lantai begitu saja, setelahnya Belva keluar dari toilet itu dan menghampiri Sara yang tengah menangis sesegukan.


"Tenanglah Sara, sekarang ... ayo kita pulang," ajak Belva dengan menarik tangan Sara dan menggenggamnya.


Sepanjang perjalanan, Sara masih menangis sesegukan. Sementara, Belva hanya diam, pria itu masih tersulut emosi saat ini. Kendati demikian, Belva tetap melajukan mobilnya perlahan, karena dia mengingat Sara yang sedang hamil.


Begitu sampai di rumah, Belva yang turun terlebih dahulu dari mobil. Pria itu lantas membukakan pintu mobil bagi Sara, tetapi Belva sedikit menunduk, menelisipkan tangannya di punggung dan paha Sara, menggendongnya ala bridal style memasuki kediaman rumahnya.

__ADS_1


Diperlakukan seperti ini, nyatanya justru tangis Sara kian pecah rasanya. Rasa sakit seolah justru semakin menyeruak di dadanya. Hanya tangisan yang tersisa yang seolah menjadi satu-satunya bahasa untuk mengungkapkan isi hatinya kali ini.


__ADS_2