
Menyambut mentari pagi, dengan saling mendekap mesra membuat sapaan hangat sang surya itu seakan merasuk sampai ke dalam hati. Kali ini, Belva masih setia memeluk Sara. Seakan suasana hening di pagi hari dibarengi sapaan mentari, deburan ombak, dan kicauan burung camar membuat pagi itu terasa istimewa untuk keduanya.
“Siang nanti ingin jalan-jalan ke mana?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Ajak Evan wisata edukasi aja, Mas … kalau wisata pantai kan bisa dinikmati di resort ini. Kalau wisata edukasi kan tidak bisa setiap saat dinikmati, jadi ajak Evan liburan biar dia senang. Sekalian liburan, sekalian belajar,” sahut Sara.
Belva pun menganggukkan kepalanya, “Iya Mama … senengnya jadi Evan karena Mamanya sangat sayang dan selalu memikirkannya,” balas Belva kali ini.
“Semua orang tua akan memikirkan dan menyayangi anaknya,” balas Sara.
“Ya sudah … masuk ke kamar yuk, Sayang … bersiap-siap. Nanti kita ke Bali Safari & Marine Park. Biar Evan melihat aneka satwa di sana,” balas Belva.
Usai sarapan, Belva pun mengajak Sara dan Evan menuju kawasan Gianyar, dan tempat akan mereka kunjungi sekarang ini adalah Bali Safari & Marine Park. Tempat ini adalah sebuah kebun binatang dengan luas area mencapai 400.000 meter persegi, sangat luas. Keunikan dari Bali Safari & Marine Park adalah setiap jenis satwa berkeliaran bebas dalam sebuah area besar. Lantara area yang sangat luas, pengunjung dapat melihat satwa secara langsung dengan menaiki kendaraan safari yang dikenal dengan nama Safari Jouney.
"Kita mau kemana Pa?" tanya Evan yang sudah terlihat excited dan sangat senang tentunya diajak liburan seperti ini.
"Ke Bali Safari & Marine Park, Evan ... lihat aneka satwa. Suka kan?" tanya Belva.
"Oh, kebun binatang ya Pa? Yeay! Evan seneng," jawabnya.
Begitu sampai di Bali Safari & Marine Park, Belva membeli tiket masuk untuk mereka bertiga, dan mengantri untuk menaiki Safari Journey, layaknya sebuah bus yang akan mengantarkannya mengelilingi kebun binatang itu.
"Naik ini ya Pa? Tidak jalan kaki?" tanya Evan lagi.
"Iya, kita naik ini ... soalnya areanya sangat luas. Jadi naik Safari Journey," balas Belva.
Begitu sudah menaiki Safari Journey, mulailah Sara menunjukkan anek satwa yang mereka lihat kepada Evan. Terlihat bagaimana antusiasnya Evan melihat semua satwa itu.
"Itu hewan apa Ma? Seperti harimau kok kulitnya putih sih?" tanya Evan.
"Itu harimau putih dari India, Van ... keren kan?" jawab Sara kepada putranya itu.
__ADS_1
"Didatangkan dari India ya Ma?" tanya Evan lagi yang seakan kagum pada Kucing Besar dengan kulitnya yang putih itu.
"Iya, Van ... hewan langka dan dilindungi di dunia," jawab Sara.
Evan menganggukkan kepalanya, dan kemudian menunjuk hewan besar dengan belalainya yang panjang.
"Itu Gajah ya Ma?" tanya Evan lagi.
"Benar. Itu adalah Gajah ... Gajah Sumatra," balas Sara.
Menikmati Safari Journey dan menunjukkan aneka satwa kepada Evan membuat ketiganya sangat bahagia. Sebab, bagi mereka yang sudah memiliki anak sebelumnya, babymoon juga sekaligus ajang liburan dan mengajak si Sulung untuk melakukan wisata edukasi.
"Semua binatang di kebun binatang ini ada berapa Pa?" tanya Evan.
Rupanya Evan pun memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sampai-sampai Evan bertanya kepada Papanya berapa banyak binatang yang ada di Bali Safiri & Marine Park.
Tidak langsung menjawab, Belva menjelajah di mesin pencari dan melihat situs resmi dari Bali Safari itu. Kemudian barulah menjawab pertanyaan Evan.
"Wah, banyak banyak dong," sahut Evan kali ini.
Setelah itu, ketiga berhenti dan melihat pertunjukkan gajah sumatra terlebih dahulu. Saat melihat pertunjukkan itu, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang tampak mengamati Belva dari jauh, dan kemudian berpindah tempat duduk dan kini duduk dengan jarak dari beberapa meter saja dari Belva.
"Hei, kamu Belva Agastya kan?" sapa wanita cantik dengan rambut sebahu itu.
"Iya, benar," sahut Belva.
Sara seketika mengamati interaksi suaminya dengan perempuan cantik itu. Menerka-nerka siapa wanita yang mengenal suaminya itu, tetapi Sara urung bertanya.
"Anda siapa?" tanya Belva dengan sopan karena Belva pun tidak ingat.
"Aku Karina, teman kamu waktu kuliah dulu," balas wanita yang mengenalkan dirinya dengan nama Karina itu.
__ADS_1
Belva hanya menganggukkan kepalanya, dan mengingat-ingat siapa Karina yang adalah teman kuliahnya itu.
Begitu pertunjukan gajah sumatra selesai, rupanya Karina masih mengajak Belva mengobrol sejenak.
"Dia putramu, Belva?" tanya Karina sembari menunjuk ke Evan.
"Iya ... dia putraku, dan ini adalah istriku," jawab Belva yang merangkul bahu Sara dan mengenalkan bahwa Sara adalah istrinya.
Sara menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Sapaan yang sekadar formalitas saja.
"Oh, aku kira ... setelah kepergian Anin kamu tidak akan menikah lagi mengingat besarnya cintamu kepada Anin," balas Karina.
Mendengar semua itu, entah ada rasa yang tidak enak di hati Sara. Berarti mungkin saja sosok Kalina itu adalah orang yang cukup mengenal Belva dan juga mendiang Anin.
Karina lantas tersenyum, "Kupikir ... kamu akan menikahiku karena Mamamu pernah menjodohkan kita berdua, begitu kamu menjadi Duda," ucap Karina secara frontal.
Seketika ada cubitan di hati Sara. Memang itu hanya masa lalu, tetapi Sara harus mengaku ada rasa cemburu di dalam hatinya karena ucapan Kalina yang mengaku bahwa Mamanya Belva pernah berupaya menjodohkan wanita cantik itu dengan Belva.
Ada dengkusan dari Belva, kemudian pria itu sedikit melirik ke Sara yang berdiri di sampingnya dengan menggandeng tangan Evan. Kemudian Sara pun menyela terlebih dahulu.
"Papa, aku sama Evan lihat-lihat ke Toko Souvenir dulu yah," pamitnya kali ini.
Sebab, memang Sara tidak ingin mendengar apa jawaban dari Belva dan obrolannya dengan wanita bernama Kalina itu. Lebih baik Sara menyingkir dan mengajak Evan untuk melihat ke toko souvenir yang berada tidak jauh dari tempat itu.
"Tunggu aku, Sayang," jawab Belva.
Kemudian Belva menatap ke wanita itu, "Maaf Kalina, sayangnya aku tidak begitu ingat siapa kamu. Sorry yah, aku harus lanjut jalan-jalan bersama Istri dan Anakku," jawab Belva.
Belva kemudian segera menggandeng tangan Sara dan menjauhi dari tempat itu. Membawa Sara dan Evan menjauh dari wanita cantik bernama Kalina itu. Lebih baik menyingkir, sebelum masalah semakin keruh. Terlebih Sara tengah hamil dan bisa saja mengalami mood swing, sebelum perasaan istrinya berubah, Belva segera menjauh dan menggandeng tangan Sara dengan begitu eratnya.
Kalina tersenyum sinis melihat ketiga orang yang berlalu itu. "Kita akan bertemu lagi Belva Agastya, pasti akan bertemu lagi," gumam wanita itu dengan lirih dan menatap punggung Belva yang kian menjauh.
__ADS_1