Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Permintaan Tiba-Tiba


__ADS_3

Mungkin terbawa suasana atau pria itu memang tengah berhasrat malam ini, pandangan mata Belva pun perlahan turun. Retina matanya seolah berpindah-pindah dari menatap wajah Sara, kemudian turun menatap bibir yang begitu menggoda layaknya buah ceri itu. Sehingga, Belva pun memberanikan dirinya untuk bertindak lebih jauh lagi.


“May i kiss you?” tanya Belva kali ini kepada Sara.


Saat Belva hendak mengikis jarak wajahnya dengan wajah Sara, dengan cepat Sara mendorong dada pria itu. Sara pun juga memilih mundur dua langkah ke belakang.


“Apa itu termasuk obat pereda mual?” tanya Sara kini dengan sorot matanya yang hanya fokus untuk menatap Belva.


Pria itu pun mengangguk, “Iya, itu termasuk obat pereda mual. So, can i kiss you?” tanya Belva lagi.


Akan tetapi, Sara menggelengkan kepalanya, “Tidak. Bukankah yang pasti aku sudah hamil kan Pak? Jadi, kita tidak perlu lagi melakukan kontak fisik,” ucap Sara kali ini.


Pikirnya bahwa dirinya tengah hamil, misi keduanya untuk mendapatkan buah hati sebenarnya sudah terwujud. Sehingga, tidak perlu melakukan kontak fisik lagi. Sebenarnya bukannya Sara tidak menginginkannya, hanya saja sekali lagi Sara benar-benar takut jika akhirnya dia akan jatuh cinta hingga sejatuh-jatuhnya pada Belva.

__ADS_1


Mendengar jawaban Sara, Belva kemudian menyeringai, “Toh, kita juga suami istri. Walau pun hanya setahun,” ucap Belva.


Entah kenapa saat Belva menyebut durasi waktu pernikahan mereka yang memang hanya berjalan untuk satu tahun, dada Sara rasanya begitu sesak. Dia harus kembali diperhadapkan dengan realita bahwa pernikahannya dengan Belva hanya berusia satu tahun saja.


Setelah itu, Sara menghela nafasnya. “Benar hanya satu tahun, tetapi kan dalam perjanjian kita tidak dituliskan bahwa kita harus melakukan kontak fisik, Pak,” jawab Sara yang seolah meminta Belva untuk kembali mengingat-ingat bahwa perjanjian yang sudah ditandatangani keduanya.


“Ah, karena perjanjian itu,” jawab Belva pada akhirnya. “Tidak bisakah perjanjian itu direvisi?” tanyanya kini kepada Sara.


Sekalipun, ucapannya begitu membuat dadanya kian nyeri, tetapi Sara tetap mengucapkan pembicaraannya itu. Wanita itu kemudian menatap Belva, “Sekarang karena Pak Belva sudah tidak mual, Pak Belva silakan kembali ke kamar ya,” ucap Sara dengan sopan. Walau pun memang dia telah mengusir sang Tuan Rumah dari kamarnya, tetapi itu Sara lakukan selain supaya Belva tetap setia dengan Anin, Sara pun juga harus membentengi dirinya sendiri.


Tidak mau berdebat, Belva akhirnya mengangguk, “Oke, baiklah … tetapi, biarkan aku memelukmu lagi. Sekaligus aku ingin menyapa buah hatiku,” ucap Belva kali ini.


Tidak membutuhkan waktu lama karena Belva kembali mengambil dua langkah di depan Sara, dan dia segera memeluk Sara dengan begitu eratnya. Bahkan Belva berusaha menghirupi aroma Jeruk Pomello yang segar di badan Sara. Usai memeluk Sara, Belva langsung menundukkan badannya, sekarang pria itu berlutut di hadapan Sara, dia menaruh kepalanya di perut Sara yang masih rata.

__ADS_1


“Hai, my little one? How are you today? Aku berharap, kamu sehat-sehat di sini ya. Anyway, Papa tidak masalah harus mengalami Couvade Syndrom ini, asalkan kamu sehat-sehat di dalam sini ya. Sehat selalu, My Little One,” ucapnya dengan menggerakkan kepalanya dengan lembut di perut Sara.


Usai itu, tanpa disangka Belva mengangkat sedikit kaos yang Sara kenakan, mengusap permukaan kulit di perut Sara, kemudian bibirnya mengecup perut Sara begitu saja.


Cup.


Satu kecupan yang membuat mata Sara berkaca-kaca sebenarnya, tidak dipungkiri kecupan hangat bibir Belva yang mengenai permukaan kulit perutnya membuat Sara berdesir hebat.


Hanya saja, Sara harus membuang jauh-jauh semua perasaan itu. Pikirnya, dirinya akan menjadi wanita yang berbahagia karena merasakan kasih sayang dari seorang pria. Sayangnya, semua itu terjadi karena ada kehidupan baru di dalam rahimnya. Benih Belva lah kehidupan baru itu, sehingga kasih sayang yang ditunjukkan Belva sekarang ini praktis hanya untuk anaknya saja, dan bukan untuknya.


Belva sekali lagi mengecup perut Sara, “I Love U, My Little One,” ucapnya dengan masih betah berlama-lama menaruh wajahnya di perut Sara. “Ah, rasanya Papa tidak sabar ingin segera bertemu denganmu. Intinya, kamu sehat-sehat di sini. Papa yang akan menanggung semuanya. Besok kita ketemu Dokter supaya kita tahu bagaimana perkembanganmu ya,” ucap Belva lagi kali ini.


Sara hanya bisa menahan gejolak rasanya, ada rasa bahagia dan rasa sakit yang menjalar hingga ulu hatinya saat ini. Dia bahagia melihat Belva yang sangat menyayangi buah hatinya, tetapi dia juga merasakan sakit karena Belva hanya sayang pada janinnya, bukan pada dirinya yang empunya rahim.

__ADS_1


__ADS_2