
Dokter Willy pun bergegas memasuki kamar Sara. Dokter muda yang kali ini datang dengan menggunakan Sneli (Jas putih Dokter), kemudian segera memasang stetoskopnya.
"Jadi, Pak Belva sakit apa?" tanya Dokter Willy begitu mendekati Belva yang kali ini sudah tertidur di atas ranjang.
"Rasanya aku mual dan muntah," ucapnya dengan menghela nafasnya.
Setelah mendengar pengakuan Belva, Dokter Willy segera memeriksa dengan stetoskop itu, mendengar detak jantungnya, mengecek nadinya, hingga akhirnya tampak sedikit memukul perut Belva.
"Apa ada gejala lainnya?" tanya Dokter Willy kali ini.
Dengan cepat Belva pun menggelengkan kepalanya, "Tidak … kemarin aku masih sehat kok, baru bangun tadi, rasanya lesu, lalu aku mual dan muntah, kata Sara badanku agak demam," jawabnya lagi.
Sang Dokter pun mendengarkan jawaban Belva dengan penuh perhatian. Kemudian Dokter itu bertanya lagi, "Sekarang masih mual?" tanyanya.
__ADS_1
Belva pun tiba-tiba berpikiran, rasa mual dan lemas nya juga sudah hilang. Sejak memeluk Sara dan mencium aroma parfum dengan wangi Pomelo yang segar itu, rasanya rasa mual Belva benar-benar hilang.
Perlahan Belva pun menatap Sara yang berdiri di dekat tempat tidurnya.
"Beberapa saat tadi aku mual, badanku rasanya lemas. Setelah mencium aroma Jeruk Pomelo yang segar rasanya aku sudah baikan, seperti sudah sehat kembali," cerita Belva kali ini.
Mendengar pengakuan Belva, Sara menunduk. Dia sangat tahu bahwa aroma Jeruk Pomelo itu adalah parfumnya, apakah itu karena telah memeluknya tadi, rasa mual yang dialami pria itu sudah hilang? Benarkah semudah itu menghilangkan mual?
Kemudian Dokter Willy menuliskan resep untuk Belva, "Saya resepkan pereda mual saja ya Pak, kalau sakit kayaknya tidak. Demamnya juga tidak terlalu tinggi kok. Mungkin saja Istri Pak Belva sedang hamil, jadi Pak Belva yang mual dan muntah," penjelasan Dokter Willy saat ini.
"Hamil? Lalu, saya yang mual dan muntah?" tanya Belva kali ini.
Dokter Willy pun mengangguk, "Benar, mungkin saja Couvade Syndrom atau kehamilan simpatik. Jadi calon Ayahlah yang merasakan gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, lesu, bahkan ngidam. Silakan cek saja Pak, sapa tau Nyonya Anin tengah hamil," ucap Dokter Willy kali itu.
__ADS_1
Kali ini bukan hanya wajah Belva yang tampak tegang, tetapi juga Sara. Bahkan refleks, Sara pun memegangi perutnya seketika.
"Ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Dokter Willy pada akhirnya.
Belva pun menggelengkan kepalanya, "Tidak, sudah … Terima kasih," ucap Belva.
Sepeninggal Dokter Willy, Belva kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan dia kini menghampiri Sara, "Kamu juga dengar apa kata Dokter Willy barusan kan? Maukah besok kamu melakukan tes kehamilan? Aku akan membelikan test pack, siapa tau benihku sudah bersemi di sini," ucap Belva dengan tangannya bergerak meraba perut Sara yang masih rata.
"Kalau hasilnya tidak positif bagaimana?" tanya Sara pada akhirnya.
Belva justru tersenyum, "Jika tidak positif, artinya aku bisa meminta hakku lagi," ucap pria itu dengan menatap wajah Sara.
Ya Tuhan, rasanya memang berada dekat-dekat dengan Belva membuat Sara mati kutu. Bagaimana pria itu bisa berbicara dengan mudahnya untuk meminta haknya lagi. Beberapa saat yang lalu, pria itu terlihat lemas usai mual dan muntah. Kenapa sekarang, Belva seperti orang yang sehat walafiat.
__ADS_1
Yang ada justru kali inilah, Sara yang mendadak lemas dan seakan tidak bisa bernafas mendengar ucapan Belva.