Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Frappuccino yang Autentik


__ADS_3

Hari yang dijadwalkan tiba. Hari ini Belva dan Evan akan berangkat ke kota Bogor. Bahkan kali ini, Belva sendiri yang mengemudikan mobilnya. Evan yang sudah berusia 4 tahun turut menyertainya kali ini.


“Kita akan ke Bogor, Papa?” tanya Evan yang saat itu duduk di samping kursi kemudi dan masih mengenakan car seat supaya Evan duduk dengan aman dan nyaman.


“Iya Nak, kita akan ke Bogor. Evan nanti temenin Papa selama di sana yah?” tanya Belva.


Evan kecil pun menganggukkan kepalanya, “Iya Pa … Evan akan selalu menemani Papa,” jawab Evan.


Sebenarnya jarak Jakarta menuju Bogor hanyalah 60 Km apabila dihitung dari Tol Jagorawi, apabila tidak ada kemacetan perjalanan dengan mobil memerlukan waktu tempuh sekitar 1-1,5 jam. Akan tetapi, jika pergi di akhirnya pekan bisa membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam bisa sampai di Bogor.


“Evan, nanti saat Papa rapat … kamu main sama Tante Amara dulu yah?” tawar Belva kali ini kepada Evan.


Amara adalah adik kandung Belva yang juga tinggal di Bogor. Oleh karena, dirinya akan ada rapat dan juga pertemuan dengan investor, maka Belva berniat menitipkan Evan sebentar kepada adiknya.


“Oke Pap, nanti aku bisa main sama Jerome,” balas Evan.


Evan nyatanya tidak keberatan. Justru dia kelihatan begitu girang karena bisa bermain bersama sepupunya yang bernama Jerome. Kendati sepupu, tetapi belum pasti sebulan sekali mereka bertemu. Sehingga saat Evan ikut ke Bogor kali ini, tentu Evan sangat mengharapkan bisa bertemu dan bermain dengan Jerome, sepupunya.


Hingga akhirnya, hampir 2 jam perjalanan barulah Belva tiba di Bogor. Mereka memilih menginap di sebuah hotel di tempat lahan yang akan dikembangkan oleh Agastya Property, tentu itu juga mempermudah akses supaya tidak perlu bermacet-macet ria selama di perjalanan.


Istirahat sebentar di hotel, Amara pun datang ke hotel yang ditempati Belva itu. Wanita cantik yang berusia hampir kepala tiga itu datang dengan membawa seorang anak laki-laki berusaha tiga tahun.


“Kak Belva,” sapa Amara begitu mengetuk pintu kamar Belva.


Belva yang berada di dalam kamar pun segera membukakan pintu itu, rupanya yang datang memang adiknya dan keponakannya.


“Ya … apa kabar Jerome?” sapa Belva kepada keponakannya yang berusia 3 tahun itu.

__ADS_1


“Baik Uncle,” jawab Jerome.


Belva lantas bergegas dengan berbagi file miliknya dan juga tas kerjanya, “Amara, aku titip Evan sebentar yah … paling tidak 2 jam saja. Kamu kalau membawanya keluar boleh saja, tetapi kabari aku kemana kamu akan pergi,” pesan Belva kepada adiknya itu.


“Iya-iya Kak, tenang saja … aku akan mengabari Kakak nanti,” balas Amara.


Setelahnya, Belva segera keluar dari kamarnya dan menuju ke tempat yang akan menjadi tempat pengembangan projek Agastya Property. Berdasarkan kesepakatan, ada dibangun perumahan dan juga beberapa villa di area kota Hujan, Bogor. Hanya saja untuk realisasinya memang akan dilakukan secara bertahap.


Mulailah Belva melakukan rapat dengan pihak-pihak terkait, menjelaskan rancang bangun projek nantinya, konsep desain, dan terkait pengembangan lahan. Di sana dibahas satu per satu.


Saat istirahat sejenak, rupanya salah satu karyawan dari projek pengembangan itu datang dan memberikan minuman dalam kemasan gelas cup bagi seluruh orang yang mengikuti rapat.


“Silakan minumannya,” ucap karyawan yang memang disuruh untuk membelikan konsumsi saat rapat berlangsung.


Belva pun mengernyitkan keningnya, saat menerima segelas es dalam kemasan cup. Bagi Belva sendiri, ini cukup lucu karena biasanya kantor akan menyediakan snack berupa Teh atau Kopi, sementara di tempat yang dia datangi justru membelikan minuman dari salah satu Coffee Bay yang berada di tempat itu.


“Silakan diminum Pak Belva, itu adalah salah satu Coffee Shop yang sangat laris di sini,” balas petinggi di tempat tersendiri.


“Namanya Coffee Bay, Pak Belva. Lokasinya nanti saya akan sharelok. Dekat kok, tidak lama dari sini. Paling berkendara selama sepuluh menit sudah tiba,” jawabnya.


Belva pun mengangguk. Kemudian pria itu mengamati minuman dalam cup itu. Mengamati desain gelas cupnya, warna minumannya, dan juga ada white frappe yang turut diberikan di atas minuman miliknya. Usai mengamati, Belva tampak mencium aroma minuman tersebut. Hanya sekadar mencium aromanya saja, kedua mata Belva tampak menyipit.


Kenapa aroma dari minuman ini sangat khas? Seolah aku pernah mencium aroma yang wangi dari minuman seperti ini. Aroma cokelat berpadu kopi yang benar-benar autentik. Juga Frappe di atas itu dari teksturnya terlihat seperti buatan sendiri, homemade. Frappe yang sekadar dibeli dalam kemasan akan memiliki tekstur yang lebih kuat dan tidak mudah lembek.


Setelah bergumam dengan dirinya sendiri, Belva lantas mencoba untuk meminum es tersebut dengan menggunakan sebuah pippet. Menyedotnya perlahan. Kali ini kening Belva tampak berkerut.


Rasanya ini rasa yang tidak asing di lidahku … rasa cokelat dan sedikit kopi. Aku yakin ini adalah Frappuccino. Ya, tebakanku tidak mungkin salah. Aku tidak mungkin melupakan rasa Frappuccino seperti ini.

__ADS_1


Melihat ekspresi Belva yang berubah, rekannya itu segera menanyakan kepada Belva.


“Maaf, Pak Belva … apakah rasanya tidak enak? Jika tidak enak, saya akan menyediakan Teh atau kopi bagi Pak Belva,” ucapnya.


Akan tetapi, Belva dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak … minuman ini sangat enak. Benarkah jika minuman ini adalah Frappuccino?” tanya Belva.


“Benar sekali Pak Belva, itu adalah Frappuccino. Salah satu minuman recommended di Coffee Bay,” balas rekannya.


Mendengar nama Coffee Bay, agaknya usai rapat hari ini. Belva harus segera datang dan menjajal sendiri Frappuccino dengan rasa yang benar-benar autentik ini. Agaknya semua cita rasa hingga aroma Frappuccino itu memiliki kenangan tersendiri di hati Belva.


“O … rasanya benar-benar enak dan autentik. Biasanya coffee shop menjual Cappuccino atau Latte, tetapi dia berani menjual Frappuccino, bagi saya ini adalah sebuah nilai positif,” balas Belva.


Apa yang dikatakan Belva ada benarnya. Sebab biasanya coffee shop akan banyak menjual varian minuman kopi seperti Cappucino, Latte, atau Americano. Jika pun ada yang berbeda, pastilah Caramel Machiato yang akan menjadi pilihan bagi beberapa kedai kopi. Sementara kedai kopi yang menjual Frappuccino bisa dihitung dengan jari.


Setelah beristirahat selama 15 menit, kemudian Belva kembali melanjutkan rapat dan berharap akan segera ada titik terang dari rapat siang hari ini. Lebih cepat selesai akan jauh lebih baik karena Belva juga ingin istirahat setelah berkendara dari Jakarta menuju ke Bogor.


Rapat yang direncanakan berjalan selama 2 jam itu akhirnya baru saja selesai setelah hampir 3 jam. Belva melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan segera mengambil handphone dari saku celananya. Tentu dia harus segera menghubungi Amara sekarang dan bertanya di mana Evan berada. Saat Belva hendak menelpon Amara, rupanya adiknya itu mengirimkan serangkaian pesan untuk Belva.


[To: Kak Belva]


[Kak, aku tadi jalan-jalan sama Evan ke Kebun Raya Bogor.]


[Lihatlah Kak, dia senang sekali melihat Taman Akuatik di sana.]


[Sekarang, kami mampir beli minum dulu, Kak.]


[Setelah ini aku akan mengantarkan Evan lagi ke hotel.]

__ADS_1


Usai membaca semua pesan yang dikirimkan Amara, Belva bisa bernafas lega karena Evan baik-baik saja. Pria itu tersenyum menggeser beberapa foto yang dikirimkan Amara saat Evan dan Jerome bermain di Taman Akuatik.


Setelahnya, Belva berniat untuk kembali ke hotel terlebih dahulu sembari menunggu Evan pulang. Paling tidak dia bisa beristirahat sebentar dan nanti dia tinggal mengajak Evan makan malam dan juga menidurkan Evan.


__ADS_2