Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Menjelang malam, para tamu undangan pun sudah meninggalkan Villa milik Belva. Hanya tersisa Belva, Sara, Evan, Amara dan keluarganya.


"Selamat Kak Belva, semoga selalu berbahagia," ucap Rizal yang merupakan suami Amara.


"Makasih, Zal," balas Belva.


Amara lantas menatap kepada Sara yang memang lebih banyak diam.


"Kak Sara … finally, congratulations yah." Amara berbicara dengan terkekeh geli. Membayangkan bagaimana terkejutnya Sara karena memang dia tidak diberitahu sebelumnya.


Seolah-olah Sara diculik dan dinikahkan dengan Belva begitu saja. Belva memang menyusun semuanya karena tujuannya adalah untuk memberikan kejutan kepada Sara.


"Makasih Mara," balas Sara sembari tersenyum kepada adik iparnya itu.


Setelahnya Amara menatap kepada Evan yang sejak tadi duduk di samping Sara. Evan sendiri seolah begitu menempel dengan Sara.


"Evan, malam ini kamu bobok di tempat Tante saja yuk. Mama dan Papa biar berdua dulu," ucap Amara.


Pikirnya Amara ingin memberikan waktu kepada pengantin baru untuk menikmati malam pertamanya tanpa gangguan Evan.


"Evan malam ini mau bobok sama Mama," balas Evan kali ini.


Rizal pun justru tertawa tidak mengira bahwa keponakannya itu begitu menempel dengan Sara. Sedikit banyak Rizal dan Amara tahu bagaimana kisah Sara dan Belva sebelumnya. Mereka yang terjalin dekat dengan hati, sekalipun begitu lama tidak bertemu rupanya bisa menempel begitu erat. Sama seperti Evan yang seolah begitu senang menempel dengan Sara.


"Mama, Evan bobok sama Mama yah," pinta Evan kali ini sembari menggenggam tangan Sara.


Perlahan Sara pun menganggukkan kepalanya, "Iya … boleh," sahutnya.


"Yeay, aku bobok sama Mama. Bobok sekarang ya Ma. Udah malam, Evan nya mengantuk," balas Evan. Anak itu sudah menarik tangan Mamanya dan segera mengajak Mamanya ke dalam.


"Kamu yakin Kak?" tanya Amara lagi.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa. Evan maunya sama Mamanya," balas Sara.


"Baiklah … selamat beristirahat Kak," balas Amara lagi sembari mengedipkan matanya kepada Sara.


Akhirnya Sara, Belva, dan Evan memasuki Villa. Evan rupanya menjadi pihak yang terlihat begitu berbahagia karena dirinya memiliki Mama sekarang. Tentunya Evan berharap bahwa Mamanya akan selalu tinggal bersamanya.


"Kamu tidak mengganti kebayamu dulu?" tanya Belva sekarang.


Sara pun hendak memberikan jawaban nyatanya juga bingung karena putranya itu sudah menggandeng tangannya dengan begitu erat. Seakan tidak mau terlepas dari Sara.


"Biar aku tidurkan dulu, Pak … Evan sudah beberapa kali menguap," balas Sara.


Belva pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah … aku tunggu di kamar," balas Belva.


Sara menganggukkan kepalanya dengan samar. Rasanya kala mendengar Belva menunggunya di kamar membuat Sara malu, takut, dan juga sungkan.


Begitu di dalam kamar milik Evan, Sara menggantikan baju Evan dengan piyama tidur dengan motif Dinosaurus. Membantu Evan menggosok giginya terlebih dahulu sebelum tidur, barulah Sara mengusapi puncak kepala Evan. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Evan pun tertidur.


Kurang lebih setengah jam berlalu, Sara keluar perlahan-lahan dari kamar Evan. Wanita yang masih mengenakan kebaya itu berjalan sepelan mungkin supaya tidak menimbulkan suara berisik dan dia mengetuk pintu kamar yang jaraknya tidak jauh dari kamar Evan.


Kepalan tangan Sara tampak mengetuk daun pintu. Hingga tidak menunggu lama, pintu pun terbuka.


Belva membukakan pintu dan tangannya terulur menyambut tangan Sara untuk membawa pengantinnya itu masuk ke dalam kamar.


"Evan sudah tidur?" tanya Belva.


"Iya, sudah," balas Sara.


Sara lantas memilih duduk di depan meja rias, yang ingin dilakukannya tentu adalah melepaskan sanggulan dan reroncean bunga melati yang menghiasi kepalanya. Setelah itu dia ingin melepas kebayanya.


"Mau aku bantu?" tanya Belva yang berdiri di belakang Sara.

__ADS_1


Tangan pria itu bergerak dan melepaskan reroncean bunga Melati yang menghiasi rambut Sara. Saat Belva membantu melepaskan hiasan bunga di kepalanya, Sara memilih membersihkan sisa-sisa make up di wajahnya dengan menggunakan Micellar water.


Saat bunga-bunga di kepala Sara sudah dilepas, nyatanya Belva tidak segera melepaskan sanggulan Sara. Kedua tangan pria itu kini menyentuh kedua bahu Sara, seakan memberi remasan kecil di sana.


Belva perlahan memperhatikan wajah Sara yang tercetak jelas di pantulan cermin di kaca rias itu. Terlihat jelas bagaimana Sara yang gelisah dan sungkan, justru rasanya Belva begitu gemas dengan Sara saat ini. Belva lantas melabuhkan sebuah kecupan di puncak kepala Sara, lantas pria itu sedikit menunduk dan kini justru mengecup pundak Sara yang masih mengenakan kebaya.


Tangan Belva bergerak dan membawa Sara untuk berdiri, mengikuti dirinya untuk duduk di tepian ranjang berukuran super king size itu. Saat mata bertemu dengan mata, rasanya ada perasaan yang seolah sama-sama disalurkan dengan pandangan mata yang saling bertemu itu. Belva mengulas senyuman yang begitu tipis di sudut bibirnya, tangannya bergerak dan meraih dagu Sara.


Tanpa permisi, Belva mendaratkan bibirnya tepat di tengah kedua belah lipatan bibir Sara. Membiarkan bibir itu untuk berada di sana, mata Belva yang semula masih terbuka perlahan-lahan pun terpejam, pria itu menggerakkan sedikit bibirnya dan mulai memagut bibir Sara dengan begitu lembutnya. Menyesap lipatan bawah dan lipatan atas bibir Sara dengan bergantian. Sedikit menjulurkan lidahnya dan memberikan sapuan bahkan hisapan di permukaan bibir Sara yang begitu lembut, kenyal, dan juga manis.


Sekadar ciuman pembuka, Belva lantas menarik sanggul di rambut Sara membuat rambut panjang Sara terurai begitu saja.


“Sara, dulu … aku menyentuhmu mungkin menurutmu tanpa perasaan. Dulu, empat tahun yang lalu, kamu pikir bahwa aku pria gila yang begitu mudahnya menyalurkan hasratku. Namun, semua itu tidak benar Sara … aku menyentuhmu dengan sepenuh perasaanku,” ucap Belva kali ini.


Belva itu kembali meraih dagu Sara, dan memberikan ciuman, pagutan, dan lu-matan di bibir Sara. Seolah-olah dirinya bagai kumbang yang ingin menghisap madu yang begitu manis yang bersarang di bibir Sara. Permainan lidah dan bibir Belva membuat wanita itu mengeratkan untuk meremas ujung kemeja putih yang dikenakan Belva. Jantungnya begitu berdebar-debar sekarang ini, suhu tubuhnya pun meningkat dengan begitu drastis.


Ciuman Belva yang semula begitu lembut, kini pun berubah dengan deru nafas yang memburu. Belva sedikit menggigit bibir Sara, membawa lidahnya untuk menyusup masuk merasai rongga mulut Sara yang hangat, memberikan usapan dengan lidahnya, membawa bibir dan lidahnya untuk menari-nari di dalam kedalaman rongga mulut Sara. Tangan Belva bergerak menarik pinggang Sara untuk kian mendekat ke arahnya. Pria yang sudah diselimuti kabut gairah itu, membawa tangannya untuk meraba pinggang, punggung, hingga leher Sara.


Bahkan bibirnya yang basah dan hangat itu kini bergerak dan memberikan kecupan-kecupan di leher jenjang Sara. Bahkan Belva menggigit kecil leher Sara dan menyesapnya dengan begitu dalam, hingga sebuah tanda merah tercetak jelas di leher itu.


“Ah, Pak Belva,” de-sahan pun lolos begitu saja dari bibir Sara saat pria itu membuat tanda merah di lehernya.


Bak menghiraukan ucapan Sara, Belva terus bergerak, kini jari-jemarinya dengan lembut tapi pasti mulai melepaskan pengait di kain kebaya Sara. Wajahnya sudah menunduk hingga di sembulan buah persik Sara yang masih mengenakan Kemben berwarna putih.


Saat Belva hendak melepaskan resleting yang berada di sisi samping Kemben berwarna putih yang dikenakan Sara, tiba-tiba saja pintu terbuka. Rupanya Evan datang sembari mengucek matanya dan mencari Sara.


“Mama … Evan, minta bobok sama Mama dan Papa yah,” ucapnya dengan tiba-tiba.


Belva pun menghela nafasnya dan mengusap wajahnya, tidak mengira bahwa Evan akan datang dan memasuki kamar mereka. Sementara Sara memperbaiki kebaya, dan menepuk ranjangnya.


“Bobok sini Evan … Mama ke kamar mandi dulu yah ganti baju,” ucap Sara.

__ADS_1


Wanita itu sedikit berlalu dan menuju ke kamar mandi. Antara malu dengan Belva dan malu dengan Evan. Lebih baik, Sara segera melepaskan kebayanya dan menemani Evan untuk tidur.


Malam pengantin pun gagal total karena Evan yang tiba-tiba menyusul Mama dan Papanya. :D 


__ADS_2