Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Memperketat Keamanan


__ADS_3

Ketika Zaid sudah mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya bahwa Anthony sehat dan dia ke sana dengan motif tersembunyi lainnya. Zaid rasanya harus mengatakan kebenaran itu kepada Belva. Setidaknya, Belva bisa kian memperketat keamanan di kantornya. Memperketat keamanan bukan hanya keamanan di dalam gedung, tetapi juga keamanan data-data perusahaan.


Aset sebuah perusahaan bukan hanya bangunannya yang tinggi menjulang, tetapi juga data-data yang mereka miliki, dan juga sumber daya manusia. Semuanya membentuk satu kesatuan dan menjadi aset dari sebuah perusahaan.


Kini, Zaid hanya memberitahukan kepada Belva kebenaran yang sebenarnya. Sekali lagi, bukannya Zaid tidak mempedulikan Kakak kandungnya, hanya saja Zaid merasa bahwa apa yang dilakukan Kakaknya itu salah dan bisa merugikan orang lain. Untuk mengantisipasi kerugian yang bisa terjadi dalam jumlah yang besar, maka Zaid pun segera memberitahu kebenarannya itu kepada Belva.


“Halo Pak Belva,” panggil Zaid melalui panggilan telepon kepada Belva.


“Ya, halo Zaid … ada apa?” tanya Belva.


Saat itu, Belva tengah duduk di taman yang ada di serambi rumahnya bersama dengan Sara. Saat menerima telepon itu pun, Belva sudah mengatakan kepada Sara bahwa Zaid sedang menelpon.


“Baru di mana Pak Belva?” tanya Zaid lagi.


“Baru di rumah saja, kenapa?” tanya Belva.


“Boleh aku singgah sebentar ke rumahmu? Ada sesuatu yang ingin kusampaikan secara langsung,” ucap Zaid.


Membicarakan masalah yang penting lebih baik mengatakannya secara langsung. Sehingga, kali ini Zaid memilih untuk bisa bertemu dengan Belva dan berbicara langsung dengan pria itu.


“Boleh, silakan. Sekarang?” tanya Belva.


“Iya, tidak mengganggu kalian kan?” sahut Zaid.


“Tidak … santai saja. Baiklah, aku akan mengirimkan alamat lengkapnya. Kami tunggu,” ucap Belva mengakhiri panggilan tersebut.


Sara yang sedari tadi duduk di samping Belva pun turut mendengarkan percakapan suaminya dengan Zaid melalui telepon itu. Setelahnya, Sara pun berniat untuk bertanya kepada suaminya.


“Dari Zaid, Mas?” tanyanya.

__ADS_1


“Iya, dia akan datang ke rumah,” balas Belva.


“Masalah perusahaan yah?” tanya Sara lagi.


“Mungkin saja … atau masalah yang berhubungan dengan Anthony. Sebab, aku menelpon Zaid dan bertanya sesuatu mengenai Kakaknya itu,” balas Belva.


Sara hanya menganggukkan kepalanya secara samar. Paling tidak dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sara cukup berada di samping Belva, mendengar cerita suaminya, dan menenangkan suaminya itu. Hidup memang penuh dengan masalah, tetapi Sara berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan selalu ada untuk suaminya itu.


Selang setengah jam berlalu, sebuah mobil pun berhenti di depan gerbang rumah Belva, dan seorang pemuda tampan keluar dari mobil itu. Sudah tentu pria itu adalah Zaid. Security rumah Belva pun segera membukakan pintu gerbang dan mempersilakan Zaid untuk masuk.


“Malam,” sapa Zaid dengan berdiri di depan pintu utama kediaman Belva.


“Malam, masuk, Zai!” Belva menyahut dan mempersilakan Zaid untuk masuk ke dalam rumahnya.


Sekilas Zaid mengamati rumah mewah yang begitu megah dan besar itu. Benar-benar menunjukkan siapa sosok Belva Agastya. Rumah yang kian lengkap dengan kehadiran Sara sebagai nyonya rumah di tempat ini.


“Sendirian saja?” tanya Belva yang merangkul bahu Zaid dan memberikan beberapa tepukan di bahu pemuda itu.


Rupanya saat Zaid baru saja duduk, Sara turun dari anak tangga bersama dengan Evan. Sara turut bergabung dengan suaminya untuk berbicara dengan Zaid. Sementara Evan turun untuk menyapa rekan orang tuanya itu.


“Beri salam dulu yuk, Nak,” ucap Sara yang memberitahu kepada Evan untuk menyapa Zaid.


“Halo Om Zaid,” sapa Evan dengan mengulurkan tangannya. Memberikan salam dengan menjabat tangan orang yang dia temui.


Zaid pun sedikit menunduk, mensejajarkan tingginya dengan Evan, menerima uluran tangan Evan. “Evan yah? Tos dulu,” sahut Zaid.


Hingga akhirnya keduanya memberikan tos dengan telapak tangan mereka. Sementara Sara tersenyum mengamati Zaid dan Evan.


“Hai Zai … apa kabar?” tanya Sara kepada Zaid.

__ADS_1


“Hai, seperti biasa aku baik. Gimana Sara, perutmu makin membuncit yah?” tanya Zaid yang mengamati perut Sara yang kian menyembul itu.


“Iya, sudah hampir 4 bulan, sehingga lebih buncit,” balas Sara.


Kemudian Belva pun mengajak Zaid untuk duduk dan memulai pembicaraan mereka. Sementara Evan memilih kembali ke kamar, dan Sara juga turun duduk di samping suaminya, turut mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.


“Pak Belva, ada hal penting yang akan aku sampaikan,” ucap Zaid kali ini secara to the point.


“Iya, silakan,” sahut Belva.


“Begini Pak Belva … kebenaran mengenai Kakakku yang sesungguhnya, dia tidak sakit sama sekali. Dia sepenuhnya sehat. Jadi, saat dia datang dan mengatakan bahwa dirinya sakit itu sama sekali tidak benar. Yang benar, adalah dia ingin menghancurkan Agastya Property. Jadi, perketat sistem keamanan, Pak. Bukan hanya gedung yang diamankan, tetapi juga data, dan staf,” jelas Zaid kepada Belva.


Mendengarkan penjelasan dari Zaid, rasanya Belva tahu langkah dan strategi apa yang harus dia ambil sekarang ini. Sekarang Belva harus bergerak cepat untuk melindungi perusahaannya, karena perlawanan dari Anthony bisa datang kapan saja.


“Tepat sesuai dugaanmu, Sayang,” ucap Belva kali ini yang melirik pada Sara yang duduk di sampingnya.


“Jadi, kamu sudah punya firasat, Sara?” tanya Zaid sekarang ini.


Sara perlahan menganggukkan kepalanya, “Iya, karena aku sama sekali tidak percaya jika Anthony sampai sakit keras. Mengingat bagaimana dia bisa memasukkan Annisa ke Agastya Property pastilah Anthony adalah manusia yang sehat dan bisa menyusun strategi demi strategi yang memang hanya dilakukan oleh orang yang sehat, bukan orang yang sakit,” balas Sara.


“Benar … untung saja kamu menyadarinya,” balas Zaid.


“Sedikit banyak aku bergerak di bidang bisnis juga, Zai … walau hanya bisnis minuman saja sih, Sebatas ide membuat minuman saja bisa dicuri orang lain, apalagi dengan data,” balas Sara.


Jika ada orang yang bisa mengelola bisnis tanpa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, mungkin Sara adalah salah satunya. Akan tetapi, nyatanya Sara berhasil mengembangkan Coffee Bay miliknya hingga bisa membuka cabang di beberapa kota.


Belva melirik Sara saat istrinya itu sedang berbicara. Apa yang diucapkan Sara walaupun sederhana, tetapi basic-nya sama. Yaitu rival bisa datang dan meniru apa yang sedang dibuat dan terus dikembangkan. Belva memahami, bahkan Sara memiliki kemampuan lebih untuk mengelola bisnis.


“Benar Sara, basic-nya seperti itu,” balas Zaid.

__ADS_1


“Itu saja Pak Belva … kuharap Pak Belva bisa memperketat keamanan di Agastya Property,” balas Zaid.


Belva dan Sara sama-sama menganggukkan kepalanya. Bahkan Belva sudah bergerak lebih cepat. Sebelum Zaid datang, dia sudah meminta ahli IT untuk mem-back-up semua data perusahaan. Digitalisasi semua datang dan menyimpannya dalam cloud, juga memperketat sistem keamanan di dalam gedung. Untuk masalah staf, dia akan meminta Dewan Direksi untuk lebih memperhatikan bawahannya, sehingga semua staf benar-benar bekerja hanya untuk Agastya Property saja. Bekerja tepat sasaran dan memiliki sikap loyalitas selama mereka menjadi karyawan Agastya Property.


__ADS_2