Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Efek Hujan Deras


__ADS_3

Tidak disangka hujan siang itu turun begitu derasnya. Sementara Sara dan Belva berada di dalam kamar hotel dengan AC yang menyala justru kian membuat badannya dingin. Kendati demikian, keduanya harus menunggu untuk membilas badannya satu per satu.


"Kamu ingin duluan membilas dirimu?" tanya Belva kepada Sara.


"Pak Belva enggak duluan?" tanya Sara.


Belva kemudian melihat Sara yang tampak kedinginan dengan kedua tangannya yang seolah mengusapi lengannya. Sudah bisa dipastikan bahwa Sara sedang kedinginan saat ini.


Tampak Belva menggelengkan kepalanya, "Kamu duluan saja," ucapnya.


Kali ini, justru Sara tampak ragu. Sebab, dia pun tidak ingin Belva menjadi masuk angin. Akan tetapi, Sara tetap memilih untuk mandi terlebih dahulu. Tidak perlu terlalu lama, asalkan badannya sudah bersih itu saja sudah cukup.


Setelah Sara keluar, Belva juga menuju kamar mandi begitu saja meninggalkan Sara. Dengan cepat, pria itu mengguyur badannya di bawah air shower yang hangat. Hanya membutuhkan waktu kira-kira sepuluh menit, Belva telah keluar dari kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, hal pertama yang dia lihat adalah Sara yang sedang memakai lotion di kaki jenjangnya. Pria itu tampak mengamati Sara perlahan, terlihat Belva seolah susah payah menelan salivanya saat melihat Sara. Dengan tenang, Belva pun berjalan memakai kaosnya dan menyemprotkan parfum beraroma woody di badannya.

__ADS_1


Di luar hujan masih turun begitu derasnya, pulau itu seolah tertutup dengan mendung pekat. Sementara di dalam kamar hotel itu, seolah hujan pun juga turun di sana.


Usai memakai hand lotion, Sara memilih untuk berdiri di depan jendela kaca besar yang memperlihatkan hujan yang begitu derasnya di sana. Dalam hatinya, Sara pun bertanya-tanya kenapa hari yang semula panas, bisa berubah menjadi begitu mendung dan hujan turun dengan begitu deras.


Tanpa sepengetahuan Sara, Belva pun berdiri di belakang Sara dan langsung menaruh dagunya di puncak bahu Sara. Kedua tangannya pun melingkari pinggang Sara.


“Bukankah jika hujan turun begitu derasnya, kita bisa menghangatkan badan kita,” ucap Belva pada akhirnya.


Apakah lantaran suasana yang seolah menciptakan atmosfer yang tepat, atau memang dirinya yang saat ini sedang terbakar. Rasanya Belva hanya ingin menyalurkan hasratnya kali ini bersama dengan Sara.


Perlahan, Belva menyibak untaian rambut Sara hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Pria itu mendaratkan kecupan-kecupannya di leher wanita itu. Sudah satu kali, Belva menaburkan benihnya di dalam rahim Sara. Akan tetapi, Belva tidak yakin bahwa benih itu telah bersemi di sana.


"Bolehkah aku menginginkanmu?" tanya Belva kini dengan masuk mengecupi sisi leher Sara.


Jika pun Sara ingin menolak, Belva memiliki hak atas dirinya. Terlebih sekalipun hanya menikah kontrak, tetapi Belva adalah suaminya yang sah.

__ADS_1


"Apakah akan sakit?" tanya Sara kali ini.


Tidak dipungkiri bahwa pengalaman pertama yang dia lalui bersama Belva terasa sangat sakit. Bahkan dia nyaris pingsan usai berhubungan dengan Belva.


"Aku akan melakukannya perlahan," ucap Belva kali ini dengan tangannya bergerak menyentuh lengan hingga telapak tangan Sara.


Sungguh sentuhan Belva nyatanya justru membuat Sara meremang. Tangan itu dengan lembutnya mengelus lengan hingga telapak tangannya, ditambah kecupan yang dia terima di lehernya.


"Jika aku menyakitimu, pukul saja aku," ucap Belva kali ini.


Sara menghela nafasnya, hingga akhirnya wanita itu mengangguk pias.


"Baiklah," ucapnya singkat.


Kali ini, Sara membiarkan Belva untuk menyentuhnya kembali dan berharap dia bisa menekan perasaan. Semoga saja, hatinya tidak akan jatuh dan menginginkan pria yang kini mencumbunya. Sara takut, saat dirinya jatuh, yang ada justru Belva akan meninggalkannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2