Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Tawaran Terakhir


__ADS_3

Dua Hari Tersisa …


Hari akan berjalan lebih cepat jika menjelang masanya. Sama seperti yang dirasakan Sara sekarang ini. Rasanya dia baru saja menyadari bahwa beberapa hari lalu, waktunya bersama dengan keluarga Belva tidak menyisakan waktu sepekan. Akan tetapi, sekarang waktu seakan bergerak lebih cepat. Ya bumi seakan berotasi lebih cepat, sehingga siang dan malam berganti dengan begitu cepatnya.


Namun, ada yang berbeda kali ini … karena Anin meminta Sara dan Belva untuk bisa berbicara bersama.


“Sara, nanti malam jika Evan sudah tidur, turunlah ke ruang keluarga. Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu dan Belva,” ucap wanita itu.


“Hmm, iya … baik, Kak,” jawab Sara.


Sekalipun hatinya merasa begitu gamang, tetapi Sara tetap diam. Dia akan menunggu sampai Evan terlelap dan setelahnya, dia akan turun menuju ruang tamu. Hingga akhirnya menjelang jam 20.00 malam, barulah Sara keluar dari kamarnya dan menuju di ruang keluarga. Di ruangan itu, dia melihat Anin dan Belva yang duduk berdampingan di sebuah sofa dan menunggunya.


“Malam Kak Anin dan Pak Belva,” sapa Sara begitu memasuki ruang keluarga itu.


“Akhirnya kamu datang juga Sara … ayo, duduklah,” sahut Anin.


Akhirnya Sara memilih duduk di sebuah sofa, terpisahkan oleh sebuah meja dengan Belva dan Anin. Wanita itu menghela nafasnya sejenak, saat melihat ada map berwarna biru yang berada di atas meja.


Menyadari bahwa Sara sudah duduk dengan nyaman, mulailah Anin yang membuka suaranya.


“Sara, ada yang harus kita bertiga bicarakan ….” Sebuah kalimat pembuka dari Anin.


Di satu sisi Belva memilih diam, dan Sara pun menganggukkan kepalanya saat mendengarkan suara Anin.

__ADS_1


“Begini Sara … pertama-tama aku dan Belva ingin mengucapkan terima kasih kepadamu karena kamu adalah wanita yang sangat mulia. Kamu telah berhasil mewujudkan impian kami berdua, kami memberi dirimu untuk menyewakan rahim dan melahirkan Evan bagi kami. Bagiku dan Belva, apa yang sudah kamu lakukan benar-benar luar biasa Sara. Kemudian, kamu pasti tahu bukan bahwa masa perjanjian kita bertiga akan segera usai?” tanya Anin perlahan.


Deg!


Mendengar ucapan Anin, agaknya Sara bisa menerka ke mana arah pembicaraan Anin saat ini. Tidak ingin menyela, Sara akan mendengarkan semua yang akan Anin bicarakan terlebih dahulu.


“Ya Kak … aku tahu, waktuku tinggal dua hari di sini,” sahut Sara kemudian.


Bukannya Sara tidak tahu dan berpura-pura tidak tahu, tetapi Sara sangat tahu bahkan Sara menghitung waktunya yang tersisa di rumah ini.


Anin lantas tersenyum, “Begini Sara … awalnya aku berpikir bahwa hubungan di antara kita bertiga hanya sekadar kerja sama. Akan tetapi, melihat perjuanganmu dan ketulusanmu selama mengandung, melahirkan, hingga merawat Evan. Aku tersadar bahwa kamu adalah wanita yang baik Sara. Jadi ….”


Ucapan Anin terhenti lantaran wanita itu memilih menghela nafasnya sesaat, kemudian dia menatap Belva dan Sara secara bergantian. Situasi di ruang tamu itu menjadi begitu hening. Seakan Sara menunggu dengan harap-harap cemas apa yang Anin sampaikan selanjutnya.


Mendengar perkataan Anin, kedua bola mata Sara pun berkaca-kaca, tidak mengira sebenarnya bahwa Anin akan menawarkan kepadanya untuk tetap tinggal bersama mereka dan kemudian mereka bisa membesarkan Evan bersama-sama.


Usai Anin berbicara, rupanya Belva yang sedari tadi diam pun turut berbicara, “Benar Sara … setelah aku dan Anin berdiskusi bersama, kita bisa sama-sama tinggal seatap dan kita bisa membesarkan Evan bersama-sama,” lanjut pria itu.


Wajah Anin terlihat tersenyum di sana, berharap Sara akan menerima tawaran terakhir dari Anin dan juga Belva. Sementara Belva sendiri, sekalipun wajahnya datar seperti biasanya, tetapi mata pria itu berkilau dan seakan penuh harap bahwa Sara akan menyetujui tawaran keduanya.


Sara sendiri merasa gamang. Ada beberapa pertimbangan dalam hati dan pikirannya sendiri. Namun, Sara yakin bahwa tawaran yang Anin berikan sebenarnya baik untuk tumbuh kembang Evan di kemudian hari.


“Bagaimana Sara? Aku tahu … kamu adalah wanita dan Bunda yang baik untuk Evan. Kita bisa membesarkan Evan bersama-sama. Kita bisa berbagi peran bersama bukan? Lagipula, Evan akan menjadi anak yang spesial karena dia memiliki seorang Mama dan seorang Bunda,” ucap Anin.

__ADS_1


Di telinga sebagian orang ucapan Anin terdengar begitu bijaksana, ya suami yang memiliki dua istri akan mengatakan anaknya spesial karena bisa memiliki Mama dan Bunda, tetapi isi hati wanitanya bagaimana tidak ada yang tahu? Sebab, begitu banyak makna tersembunyi di balik senyuman seorang wanita.


Melihat Sara yang hanya diam, Anin pun menerka-nerka apa yang sebenarnya dipikirkan Sara sekarang ini. Seakan tidak ada jawaban pasti yang Anin dapatkan dari ekspresi wajah Sara.


“Kenapa kamu hanya diam Sara?” tanya Anin perlahan.


Wanita itu kemudian mengeluarkan surat perjanjian antara Sara dan Belva, transaksi sewa-menyewa rahim yang sudah ditandatangani keduanya. Anin menyodorkan kertas yang ditandatangani di atas meterai itu kepada Sara.


“Jika kamu setuju, kamu bisa menyobek surat perjanjian ini. Semuanya sudah berakhir, dan marilah kita memulai awal yang baru untuk kita berempat. Untuk aku, Belva, kamu, dan Evan. Aku yakin kita bisa sama-sama menjalani semuanya ini,” ucap Anin lagi.


“Bicaralah Sara … bagaimana menurutmu?” tanya Belva.


Sejurus dengan Anin, sebenarnya Belva juga tidak bisa membaca raut wajah Sara sekarang ini. Wajah itu begitu dingin, hanya matanya yang berkaca-kaca. Sehingga, Belva merasa perlu mencari tahu bagaimana pendapat Sara dengan tawaran ini.


Mulailah Sara menghela nafasnya perlahan dan menatap Anin dan Belva dengan bergantian. Hati wanita itu terasa sesak sebenarnya, tetapi agaknya Sara harus memberikan jawabannya.


“Euhm, begini Kak Anin dan Pak Belva … semuanya ini terlalu mendadak buatku. Berikan aku waktu untuk memikirkannya, aku akan sampaikan jawabanku kepada kalian berdua sebelum waktuku di sini akan benar-benar habis,” sahut Sara pada akhirnya.


Tadinya Anin berpikir Sara akan dengan sukarela dan dengan cepat menerima tawaran darinya. Tidak mengira jika ternyata Sara meminta waktu untuknya berpikir dan mengambil keputusan. Mendengar suara Sara, Anin pun mengangguk, “Oke Sara … aku akan menunggu keputusanmu,” jawab Sara.


“Baik Sara … aku juga akan menunggumu,” sahut Belva.


Sara perlu memikirkan matang-matang untuk semuanya. Banyak hal yang harus dia pikirkan, tidak hanya satu hal. Bahkan tawaran ini akan berpengaruh terhadap hidupnya bertahun-tahun kemudian. Sara tidak ingin gegabah, untuk itu Sara membutuhkan waktu untuk bisa memikirkan semuanya dengan matang.

__ADS_1


__ADS_2