Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Berjaga Semalaman


__ADS_3

Tepat yang seperti pria itu ucapkan, menjelang pukul 21.00 Belva telah datang dan memasuki kamar Sara.


“Kamu sudah tidur, Sarah?” tanyanya kali ini.


Dengan cepat Sara pun menggelengkan kepalanya, “Belum, Pak … aku belum mengantuk,” jawabnya.


“Apa ada bagian tubuhmu yang berubah? Aku tadi membaca-baca biasanya wanita saat hamil muda agak mengalami layaknya Pre Menstruasi Syndrom seperti pegal, perutnya mulas, lebih mengantuk, bahkan emosi yang naik turun. Kamu mengalaminya?” tanya Belva kali ini.


Sara kembali menggelengkan kepalanya, “Enggak tuh, Pak … aku sehat kok, tidak mengalami apa-apa. Sangat sehat malahan,” jawabnya.


Memang rasanya tidak merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, justru dirinya merasa benar-benar sehat malam ini.


Mendengar jawaban Sara, Belva pun mengangguk. Dia memang berharap bahwa Sara akan sehat jikalau sedang mengandung anaknya. Sebab, memang ada pula para calon ibu yang menjalani kehamilan dengan kondisi yang sangat sehat.


“Ya sudah, ayo kita tidur,” ajak Belva kemudian dengan menggenggam tangan Sara, supaya wanita itu berdiri dan berjalan mengikutinya ke tempat tidur.

__ADS_1


Akan tetapi di sana, Sara tidak langsung merebahkan dirinya. Dia memilih untuk bersandar di head board dengan sesekali mencuri pandang kepada Belva.


“Pak, boleh aku bertanya?” tanya Sara lagi kepada Belva kali ini.


“Hmm, apa?” jawab Belva dengan singkat.


“Apa Kak Anin sudah tidur? Apa tidak masalah, jika Pak Belva tidur di sini?” tanya Sara kali ini kepada Belva.


“Kamu tidak tahu, siang tadi Anin pergi ke Semarang untuk pemotretan di sana?” justru Belva yang giliran bertanya kepada Sara.


Ya, dia yakin benar bahwa besok siang ada jadwal untuk kembali menjalani konsultasi bagi Anin. Akan tetapi, mengapa justru siang ini Anin pergi ke Semarang.


Belva kemudian mengedikkan bahunya, “Entahlah, aku juga tidak tahu,” jawab Belva. “Sudah, tidak perlu memikirkan Anin,” jawab Belva kali ini.


Setelah itu, pria itu dengan tiba-tiba mencerukkan kepalanya di dada Sara. Tindakan spontanitas yang membuat Sara sesak nafas. Ya ampun, kenapa pria itu jadi begitu suka menempel seperti ini. Ingin mendorong pria itu rasanya juga tidak mungkin karena sebenarnya Belva adalah suaminya yang sah, terlepas dari pernikahan mereka yang hanya akan berjalan satu tahun, tetapi bila Belva menjadi seperti ini justru menghadirkan kebimbangan dalam diri Sara.

__ADS_1


“Kenapa tiap kali seperti ini bersamamu, rasanya aku tenang sekali?” tanya Belva sembari memejamkan matanya.


Sembari Sara mematung, tidak mampu merespons ucapan Belva.


“Kamu tidak keberatan kan jika aku sedekat ini denganmu?” tanya Belva lagi.


Sama seperti sebelumnya, Sara hanya diam, tidak memberikan jawaban secara pasti.


Akan tetapi, Belva rupanya tidak menghiraukan Sara. Pria itu justru menggerakkan kepalanya perlahan ke kiri dan ke kanan, hidungnya terlihat menghirupi aroma badan Sara yang beraroma Jeruk Pomello itu.


Lantas Belva mencari tangan Sara yang luruh, membawa satu tangan itu ke atas kepalanya, “Usapi aku, Sarah,” pintanya.


Maka, Sara pun menggerakkan telapak tangannya perlahan untuk mengusapi rambut Belva. Apa arti dari semua ini? Sungguh, sangat tidak mudah menjalani hubungan ini tanpa melibatkan perasaan.


“Ah, tenang sekali rasanya,” ucap Belva dengan memejamkan matanya dan kian mencerukkan kepalanya di dada Sara.

__ADS_1


__ADS_2