
Beberapa kali Sara menangis dan air matanya berderai seakan tidak pernah ada habisnya. Beberapa kali juga, Sara merasa tidak kuat tiap kali gelombang cinta dari babynya itu datang. Kontraksi yang datang benar-benar membuat Sara meringis kesakitan, untung saja setiap jam yang berlalu Belva tidak pernah mengeluh. Pria itu terlihat sabar mendampingi Sara.
“Pak Belva … ini gimana? Sakit banget. Perutku terasa kencang, sakit Pak,” ucap Sara dengan terisak pilu.
Belva pun menggenggam tangan Sara dengan begitu kuat. “Aku panggilkan perawat lagi ya, sapa tahu sudah waktunya bersalin. Sudah tujuh jam berlalu,” ucap pria itu.
Dengan segera Belva memencet tombol di atas brankar Sara. Lantas pria itu kembali menyeka air mata di wajah Sara, “Jangan terus menerus menangis … nanti kamu kecapean karena terlalu lama menangis,” ucap Belva.
Akan tetapi, di saat-saat seperti ini yang bisa Sara lakukan hanya merintih dan menangis. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa melahirkan itu terasa begitu sakit. Beberapa kali bahkan Sara sudah ingin menyerah. Tak kuasa menahan sakit tiap kali kontraksi itu datang.
Hingga tidak berselang lama Dokter Indri masuk dengan beberapa perawat. Lagi-lagi pengecekkan dalam dilakukan, tanpa permisi Sara segera menggenggam erat tangan Belva. Di satu sisi, Belva hanya berharap bahwa pembukaan Sara kian lengkap sehingga Sara bisa terlepas dari sakit bersalin yang membuat Sara merintih kesakitan itu.
“Pembukaannya sudah sempurna ya Bu. Kepala bayinya sudah terlihat. Begitu perut terasa kencang, ambil nafas dalam-dalam dan mengejan ya Bu. Dorong di area pinggul, supaya bayinya bisa lahir,” instruksi dari Dokter Indri kepada Sara, di sana juga sudah siap berbagai peralatan medis yang diperlukan.
Sara mempersiapkan diri dan memegangi kuat-kuat lengan Belva. Momen yang paling mendebarkan bagi Sara dan juga Belva. Pria benar-benar tidak menyangka kali ini dia akan menyaksikan sendiri bagaimana Sara berjuang di antara hidup dan mati melahirkan putranya. Hatinya bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan.
Bahagia karena tidak lama lagi, dia akan benar-benar menyambut putranya. Namun juga sakit, karena melihat besarnya perjuangan Sara bagi putranya. Dengan mata kepalanya sendiri Belva menjadi saksi bagaimana Sara menahan sakit dan mengalami sakit yang begitu menyiksa sejak pembukaan. Wajah wanita itu memerah dan begitu sembab, Belva sangat sedih dan iba melihat Sara.
Seolah-olah Belva pun turut merasakan apa yang dirasakan oleh Sara, “Ayo Sara … kamu pasti bisa! Kamu bisa, Sara! Kamu hebat!” ucap Belva yang terus menyemangati Sara. Pria itu bahkan juga menyeka air mata yang terus berlinang di wajah Sara yang begitu sembab.
“Ayo Bu Sara, sedikit lagi. Kepala babynya sudah kelihatan. Ambil nafas kuat-kuat. Satu dorongan lagi dedek bayinya akan keluar,” ucap Dokter Indri yang memberikan instruksi kepada Sara.
Tatapan mata Sara meredup, untuk kali pertama Sara mengatakan sesuatu yang membuat Belva benar-benar panik setengah mati.
__ADS_1
“Pak Belva … aku nggak kuat, Pak. Sakit banget … aku capek,” keluhnya di tengah perjuangan melahirkan buah hatinya.
“Tidak Sara, aku yakin kamu pasti bisa! Kamu wanita yang kuat dan hebat. Aku akan selalu menemani dan mendampingi kamu. Yuk, semangat yuk Sara … jangan patah semangat,” ucapnya.
Melihat Sara yang terlihat lemas, Dokter Indri kemudian memberikan instruksi lanjutan, “Bu Sara … jangan dipejamkan ya matanya. Tinggal satu dorongan lagi kok. Semangat Bu Sara ada suami Bu Sara yang terus mendampingi Bu Sara. Semuanya akan sia-sia jika Bu Sara menyerah sekarang. Debaynya sudah pengen ketemu sama Bu Sara loh,” ucap Dokter Indri. Sekaligus Dokter itu memberikan semangat kepada Sara.
Mendengar instruksi dari Dokter Indri seolah-olah Sara kembali menemukan kekuatan, matanya perlahan mengerjap dan kembali terbuka. Wanita itu menggenggam erat tangan Belva, “Temani aku ya Pak,” pintanya dengan lirih dan terisak.
Belva mengangguk, “Iya, aku akan menemani kamu. Kita sambut bersama-sama,” ucap pria itu dengan begitu lembut.
Saat merasakan perutnya yang terasa begitu kencang, Sara mengambil nafas dalam-dalam, mengejan sekuat tenaga, mendorong tubuhnya ke depan untuk melahirkan buah hatinya. Beberapa ejanan kemudian, hingga akhirnya ….
“Pak Belva, aakkkhhh ….,” teriakan Sara menggema memenuhi ruangan itu.
Ejanan dan teriakan yang menyudahi perjuangannya. Semua daya dan upaya Sara kerahkan untuk melahirkan buah hatinya, hingga terdengar suara tangisan bayi yang membuat Sara dan Belva sama-sama menangis.
Ya, keduanya kali ini menangis karena rasa bahagia yang melingkupi hatinya. Bayi yang sudah lama dinantikan oleh Belva akhirnya telah lahir dengan selamat.
“Selamat ya Bu Sara dan Pak Belva, seperti hasil pemeriksanaan USG ya babynya cowok. Alhamdulillah, adik bayinya sehat, lengkap, dan sempurna,” ucap Dokter Indri yang sedikit mengangkat bayi yang mungil dan kulitnya kemerah-merahan itu.
“Alhamdulillah ….” Sara dan Belva sama-sama mengucapkan puji syukur kepada Allah secara bersamaan.
Sembari terisak-isak, Sara menatap wajah Belva, “Terima kasih sudah menemaniku, Pak Belva,” ucapnya lirih karena tenaganya sudah terkuras habis untuk melahirkan bayi mungil itu.
__ADS_1
“Terima kasih juga Sara karena sudah berjuang dengan sekuat tenaga. Thank you so much,” balas Belva. Belva pun mendaratkan beberapa kecupan di kening Sara.
Bayi berjenis kelamin laki-laki itu menangis sangat keras dan telah diputus tali pusarnya dari plasentanya itu kini diletakkan di atas dada Sara untuk melakukan proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Inisiasi Menyusui Dini akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI ekslusif dan lamanya bayi menyusui.
Sara tersenyum, merasakan si bayi yang menangis di dadanya. Bayi itu begitu pintar dan bisa menemukan sumber kehidupannya sendiri, “Kamu pinter sih Dek …,” ucapnya.
Belva pun turut tersenyum, dia begitu takjub melihat bayi yang baru saja lahir bisa berusaha menemukan sumber kehidupan pertamanya. Hati Belva terasa begitu hangat, semua yang dialaminya bersama Sara adalah pengalaman serba pertamanya. Untuk itu, Belva akan selalu mengingatnya.
Sementara di bawah sana Dokter Indri tengah mengeluarkan plasenta yang sering kali disebut sebagai kelahiran kedua dan sekaligus menjahit jalan lahir yang baru saja robek untuk melahirkan sang bayi.
“Ini nanti jahitannya akan kembali menjadi daging karena benangnya terbuat dari gelatin ya Bu Sara, jadi tidak ada lagi melepaskan benang jahitan,” ucap Dokter Indri.
Sara pun mengangguk, “Iya Dokter … terima kasih,” ucapnya.
Belva lantas membawa satu tangannya dan mengusapi puncak kepala Sara, “Terima kasih Sara … kamu benar-benar hebat. Jadi, siapa nama si bayi ini?” tanya Belva kemudian.
Sara kemudian tersenyum, benar dia harus memberikan nama bagi putranya kecil itu. Nama yang mungkin akan menjadi kenang-kenangan seumur hidup bagi putranya itu. Nama yang didalamnya dia sematkan doa dan harapannya.
“Nanti … nanti aku beritahu, Pak,” sahut Sara.
Kemudian Belva mengangguk, pria itu sedikit berlutut dan menatap jagoan kecilnya yang terlihat berusaha meminum ASI pertamanya. Belva membawa jari telunjuknya dan menggenggamkannya ke tangan putranya.
“Halo Sayang … putranya Papa. Kamu hadir untuk memberi warna dalam hidup Papa, I Love U Boy,” ucapnya.
__ADS_1
Mata Sara nyatanya kembali berkaca-kaca. Jika di luaran sana, para suami akan mengungkapkan kata-kata cinta bagi istrinya yang baru saja mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan buah hatinya, di sini nyatanya Sara hanya mendapatkan ucapan terima kasih.
Ingin rasanya wanita itu mendengarkan kata cinta dari pria yang berada di sampingnya itu. Sara lagi-lagi harus berpuas diri dengan mendengarkan ucapan terima kasih dari Belva. Ada rasa sesak yang melingkupi hatinya, pria itu begitu manis dan mengungkapkan cintanya untuk putranya, tetapi tidak bagi wanita yang sudah mempertaruhkan dirinya bagi bayi yang baru saja dilahirkannya.