
Sungguh pagi ini adalah pagi yang sangat membahagiakan untuk Sara, karena tidak ada hal yang lebih membahagiakan baginya selain terbangun dalam pelukan suaminya. Tidurnya semalam pun begitu pulas, bahkan pagi hari rasanya hati Sara begitu membuncah dengan kebahagiaan.
“Sudah yah, mulai sekarang jangan nangis lagi. Jujur, aku waktu di Surabaya itu tidak bisa tidur karena kamu menangis. Aku khawatir jika sampai kamu terjaga semalaman karena aku,” ucap Belva.
Memang saat semalam berada di Surabaya, Belva benar-benar tidak bisa tidur. Ingin memejamkan mata, tetapi Belva teringat wajah Sara yang berderai air mata. Alhasil, nyaris sepanjang malam Belva terjaga. Pria itu hanya terus bergerak ke kanan dan kiri, mengubah posisi tidurnya, tetapi berusaha tertidur, matanya rasanya enggan terpejam.
Awalnya memang Belva tidak mengira bahwa Sara akan menangis saat dirinya melakukan panggilan video. Namun, saat mencerna semuanya, Belva menyadari bahwa mungkin Sara memang dalam kondisi hamil sehingga perasaannya lebih sensitif, atau karena memang Sara yang benar-benar merindukannya. Seakan-akan Belva teringat dengan ucapannya dulu kepada Sara. Dulu Belva pernah meminta Sara untuk bergantung kepadanya. Sebab, Belva sama sekali tidak keberatan jika Sara bergantung kepadanya. Akan tetapi, Sara yang menolak yang tidak ingin bergantung kepada Belva. Mungkinkah semua sudah berubah? Menyadari perasaan Sara, Belva sangat yakin bahwa Sara sudah mulai bergantung kepadanya.
“Aku sebenarnya juga tidak bisa tidur … tetapi, aku sadar bahwa aku juga butuh tidur. Makanya, aku menyusul Evan tidur di kamarnya. Memandang wajah Evan yang sangat mirip denganmu, membuatku seakan melihat wajahnya di dalam wajah Evan. Sampai akhirnya aku bisa tertidur,” cerita Sara kepada suaminya.
Hingga pagi itu banyak cerita yang mereka urai bersama. Mulai dari perasaan cintanya masing-masing, dan juga kegiatan Sara bersama dengan Evan, Belva pun juga menceritakan sekilas perjalanannya ke Surabaya dan bagaimana pria itu bisa memutuskan untuk kembali ke Jakarta lebih cepat.
“Mas, sekarang ke kamar Evan yuk? Kita bangunkan Evan bersama-sama. Sebab, bukan hanya aku yang merindukan kamu, tetapi Evan juga. Aku sudah semalam bersama kamu, memeluk kamu, jadi kita bangunkan bersama yuk? Dia pasti seneng banget melihat Papanya sudah datang,” ajak Sara kali ini kepada Belva.
Sisi keibuannya yang mendominasi sekarang ini sehingga membuat Sara ingin membagi kebahagiaannya dengan Evan. Sebab, Sara pun yakin pasti Evan akan sangat senang melihat Papanya yang sudah datang dari Surabaya.
“Boleh, yuk … biar Evan juga senang,” balas Belva.
Pria itu beranjak terlebih dahulu dari ranjangnya, kemudian mengulurkan tangannya kepada Sara. Belva menggenggam tangan istrinya itu dan menggandengnya menuju kamar Evan. Keduanya membuka pintu kamar Evan perlahan, dan kemudian melihat Evan yang masih terlelap di atas tempat tidurnya.
Belva kemudian mengusapi puncak kepala Evan dan berbisik lirih di dekat telinga putranya itu, “Pagi Boy,” sapa Belva.
Rupanya hanya sekadar mendengar suara Belva, Evan dengan cepat membuka matanya. Anak itu mengerjap dan tersenyum melihat wajah Papanya yang kini bisa dia lihat secara langsung.
“Papa,” sahut Evan dengan suaranya yang serak.
__ADS_1
Tidak menunggu waktu lama, Evan pun kemudian memeluk Papanya itu. Bukan hanya Sara yang begitu merindukan Belva, tetapi Evan pun juga sangat merindukan Papanya sehingga hanya mendengar suara Papanya saja, Evan sudah terbangun, dan lihatlah bagaimana Evan memeluk Papanya dengan begitu erat.
Belva pun juga langsung menggendong Evan. Memang Belva sangat suka menggendong Evan, walaupun sudah berusia 4 tahun, tetapi terkadang Belva sangat suka menggendong putranya itu.
“Papa kangen kamu, Evan,” ucap Belva.
“Sama Pa, Evan juga,” sahut Evan.
Sara yang berdiri di samping Belva turut mengusapi kepala dan bahu Evan. Perasaannya sangat bahagia melihat tulusnya seorang Papa dan seorang Anak yang tulus menyayangi satu sama lain.
“Pagi Ma,” ucap Evan kemudian kepada Mamanya.
“Pagi Putranya Mama,” balas Sara dan mencuri satu ciuman di pipi Evan.
“Papa pulangnya kapan Ma?” tanya Evan. Sebab setahunya baru hari ini Papanya akan datang dari Surabaya. Namun, pagi-pagi justru Belva justru sudah membangunkannya dan juga sekarang menggendongnya. Tentu saja Evan merasa terkejut, tetapi Evan juga sangat senang karena bisa bertemu dengan Papanya lagi.
Belva masih menggendong Evan dan sembari berjalan-jalan kecil di dalam kamar itu, “Mandi yuk, Van … mau Papa mandiin?” tawa Belva kepada putranya itu.
“Mau Pa … yuk,” sahut Evan.
Belva kemudian kini menatap kepada Sara, “Aku mandiin Evan dulu ya Mama … minta tolong Mama ambilkan baju ganti buat Evan yah,” ucap Belva.
“Iya Papa,” sahut Sara.
Kurang lebih 15 menit, Belva memandikan Evan, dan kemudian pria itu mengeringkan tubuh Evan dengan menggunakan handuk, kemudian menuntun putranya itu untuk masuk kembali ke dalam kamar. Di sofa, sudah ada Sara yang menunggu putranya itu.
__ADS_1
“Mama, Evan sudah mandi, Ma ….”
Evan berteriak dan berjalan menuju Mamanya yang sudah membuka tangan dan hendak memeluk tubuh Evan.
“Hmm, harumnya anak Mama … sekarang pakai baju dulu ya, Van … biar Evan enggak kedinginan,” ucap Sara.
Tangannya mulai mengeringkan lagi tubuh Evan, memberikan minyak telon di badan Evan, dan kemudian memakaikan pakaian pada tubuhnya. Setelahnya, Sara menyisiri rambut Evan supaya rapi. Setelahnya, wanita itu kembali mencuri satu ciuman di pipi Evan.
“Hmm, cakepnya anaknya Mama,” ucap Sara kini.
Evan pun tertawa mendengar ucapan Mamanya itu, tetapi kemudian Evan duduk di pangkuan Papanya.
“Pa, selama Papa bekerja, Evan menjadi anak yang baik loh Pa … Evan tidak nakal, dan Evan bermainnya dengan baik sama Mama. Evan cuma main Lego, Hotwheels, dan juga membaca buku saja Pa,” cerita Evan.
Seolah-olah Evan juga memberi laporan kepada Papanya bahwa dirinya sudah menjadi anak yang baik dan tidak mengajak Mamanya bercapek-capek ria.
“Good! Papa bangga sama Evan karena sudah melakukan pesannya Papa. Evan sudah jadi anak dan kakak yang baik buat adik bayi nanti, karena Evan sudah berhasil melakukan pesan dari Papa, seharian ini main yah sama Papa,” ucap Belva.
Dari ucapan Belva ini terlihat bahwa orang tua memang harus memberikan reward kepada anak. Reward berupa pujian bahwa anak sudah berhasil melakukan apa yang sudah dipesankan oleh orang tua, selanjutnya orang tua bisa memberikan hadiah. Ingat yah, hadiah tidak harus barang yang mahal. Mengajak anak bermain, makan bersama, atau kegiatan seru lainnya di rumah bisa dijadikan reward yang berharga dengan anak.
“Yeay! Bisa main bola dan mainan lainnya Pa?” seru Evan dengan riang.
“Boleh dong. Kalau sama Papa boleh main apa saja. Kalau mainnya sama Mama dibatasi saja Van. Kasihan, Mama kan juga mengandung adik kamu,” jelas Belva kepada Evan.
“Yeay! Yeay! Yeay! Evan senang. Evan mau main bola dan sore nanti berenang yah sama Papa,” pinta Evan kepada Papanya itu.
__ADS_1
Sara turut tersenyum, pagi hari ini bukan hanya penuh cerita, tetapi juga penuh dengan kegembiraan bagi keluarga kecilnya. Pagi yang cerah, pagi yang indah dengan cinta dari suami dan putranya.