
Entah bagaimana caranya, Sara yang berada di rumah pun bisa menerima foto-foto antara suaminya bersama dengan Annisa. Sebuah nomor asing mengirimkan foto-foto candid tersebut kepada Sara.
Sara yang saat itu baru saja bangun dari tidur siang pun tampak kaget melihat foto-foto dari nomor tidak dikenal di handphonenya itu. “Mas Belva,” ucap Sara sembari menggigit bibir bagian dalamnya.
Sebenarnya Sara tidak ingin mempercayai semua foto itu, tetapi sebagai seorang wanita dirinya juga merasa bahwa ada perasaan terluka di sudut hatinya. Bahkan jari-jari Sara masih menggeser dan memperbesar foto-foto itu.
“Mama, Mama baru apa Ma?” tanya Evan yang masuk ke dalam kamar Mamanya itu.
“Baru saja bangun tidur, Van … ada apa?” tanya Sara.
“Maen ke kantornya Papa yuk Ma … Evan kangen Papa deh,” balasnya.
Tampak Sara menatap wajah Evan yang masih berdiri di hadapannya, “Menunggu Papa pulang nanti sore saja, Van,” sahut Sara.
Bukan lantaran dirinya tak ingin mengantarkan Evan ke kantor Papanya, hanya saja dengan foto-foto yang barusan dia terima, justru membuat Sara seakan enggan untuk bertemu dengan Belva.
“Sekarang aja yuk Ma … sebentar saja kok, Ma,” ajak Evan lagi.
Melihat Evan yang seakan ingin ke sana, Sara pun akhirnya menganggukkan kepalanya, “Ya sudah … Mama ganti baju dulu yah, tapi cuma sebentar saja ya Nak,” ucap Sara.
“Yes! Makasih Ma, Evan janji cuma sebentar kok Ma,” balasnya.
Akhirnya Sara dan Evan pun bersiap, kemudian mulai meminta supir untuk mengantarkannya ke Agastya Property. Sepanjang perjalanan, Sara sendiri berusaha menata hatinya. Rasanya ingin tidak cemburu, tetapi pada kenyataannya dia cemburu. Namun, melihat cinta dan kesungguhan Belva kepadanya, rasanya Sara ingin mempercayai suaminya itu sepenuhnya.
Perjalanan kurang lebih setengah jam pun ditempuh. Kemudian sampailah mereka di Lobby Agastya Property. Sara dan Evan pun segera keluar dari mobil itu.
“Ditunggu dulu sebentar ya Pak, sapa tahu nanti kami mau segera pulang,” pinta Sara kepada sopirnya itu.
“Ya Bu Sara, saya tunggu di parkiran,” balas sopir tersebut.
Kemudian Sara pun memasuki Agastya Property dengan menggandeng tangan Evan. Tampak beberapa karyawan yang melihat kedatangan Sara dan Evan pun juga menggunjingkannya.
“Pantesan sih, istrinya Pak Bos biasa banget.”
__ADS_1
“Istrinya Mr. CEO sederhana banget, kok enggak high class gitu sih.”
“Cantik sih, cuma sederhana banget.”
“Istrinya yang sekarang kalah cantik sama mendiang Bu Anin.”
Akan tetapi, Sara seakan menutup wajah dan telinganya dari para karyawan suaminya yang menatapnya aneh. Lagipula, tujuannya datang ke mari hanyalah untuk mengantarkan Evan saja. Sehingga, Sara berusaha menata perasaannya dan mengelola emosinya sendiri. Walaupun di dalam hati, terasa meluap-luap, tetapi secara lahiriah, Sara berusaha tenang.
“Ma, Mama tidak apa-apa kan?” tanya Evan.
Tentu saja Evan bertanya karena terlihat Mamanya yang lebih banyak diam. Biasanya Sara akan mengobrol banyak hal dan bercanda dengan Evan. Akan tetapi, kali ini Sara terlihat lebih diam daripada biasanya.
“Tidak apa-apa, Nak,” balas Sara sembari tersenyum kepada putranya itu.
Sampai pada akhirnya, mereka menaiki lift yang akan mengantarkannya ke ruangan CEO. Begitu mereka telah sampai, tampak Ridwan yang berdiri dan menyapa kedatangan Sara bersama dengan Belva.
“Selamat siang Bu Sara,” sapanya dengan sopan.
Bagi Ridwan sendiri ini bukan kali pertamanya melihat Sara, empat tahun yang lalu Ridwan pernah melihat Sara yang membuat Belva panik dan dilarikan ke Rumah Sakit pada saat itu.
“Ada Bu, Pak Belva ada di dalam,” balasnya.
Kemudian ada Annisa yang baru saja naik dan berpapasan dengan Sara. Wanita itu tampak mengamati Sara dari ujung kepala dari ujung kaki. Mungkinkah wanita sesederhana ini yang menjadi istri dari Sang CEO?
“Tante kenapa lihatin Mama?” tanya Evan yang rupanya tahu bahwa Annisa mengamati Mamanya.
Mendengar Evan yang bertanya seperti itu membuat Annisa tertunduk dan tidak menyangka bahwa anak sekecil Evan sekarang justru tengah memperhatikannya. Kemudian Annisa pun lantas menganggukkan kepalanya, dan menyapa Sara tentu itu adalah sapaan formalitas belaka, “Siang Bu,” sapanya.
“Ya, siang,” balas Sara.
Kemudian Evan pun sedikit menarik tangan Sara dan mengajaknya memasuki ruangan Papanya. Sara bersikap biasa saja, dan terlihat tidak mengambil pusing perihal kabar affair yang sebenarnya juga mengganggu pikiran.
“Papa,” sapa Evan begitu melihat Papanya yang sedang serius bekerja di meja kerjanya.
__ADS_1
“Loh, kalian datang ke mari?” tanya Belva yang merasa kaget melihat kedatangan Evan dan juga Sara.
Lantas Belva beranjak dari kursinya, dan kemudian menggendong Evan. Kemudian pria itu menatap ke wajah Sara yang kali ini terlihat lebih dingin.
“Sayang,” sapanya kepada Sara.
“Hmm, iya,” sahut Sara.
Hanya sekadar melihat raut wajah Sara dan jawaban istrinya itu, Belva yakin bahwa Sara sedang tidak baik-baik saja sekarang. Lantas Belva sembari menggendong Belva, merangkul bahu Sara dan mengusapi lengannya Sara dengan gerakan tangan naik dan turun perlahan.
“Maaf,” ucap Belva dengan berbisik lirih kepada Sara.
Hanya sekadar mendengar ucapan Belva, nyatanya mata Sara tampak berkaca-kaca di sana. Akan tetapi, Sara berusaha keras supaya air matanya itu tidak jatuh. Sekuat tenaga Sara menahan untuk tidak menangis saat ini di hadapan Evan.
“Papa, Evan mau jalan-jalan sama Om Ridwan boleh?” tanya Evan kepada Papanya itu.
Itu karena Evan sudah mengenal Ridwan. Sejak usianya dua tahun, memang terkadang Belva mengajak Evan ke kantor dan terkadang pula Ridwan yang bermain dengan Evan.
“Boleh saja,” balas Belva.
Evan pun berlari keluar dari ruangan Belva dan kemudian mengajak Ridwan untuk bermain bersama. Sementara Belva segera menutup tirai di jendela kantornya supaya tidak terlihat dari luar, kemudian Belva membawa Sara untuk duduk di sofa.
“Kamu kenapa?” tanyanya kepada Sara.
Kemudian Sara menunjukkan foto-foto yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal kepada suaminya itu.
“Semua ini apa?” tanya Sara yang seakan meminta penjelasan dari suaminya itu.
“Itu semua tidak benar, Sayang … itu saat kami berada di Surabaya pekan lalu. Aku berani berjanji bahwa aku tidak melakukan apa pun,” ucap Belva kali ini kepada Sara.
“Benarkah?” tanya Sara.
Belva pun menganggukkan kepalanya, “Benar … kamu tidak percaya kepadaku?” tanyanya.
__ADS_1
Dalam hati, Sara ingin sekali mempercayai suaminya itu. Hanya saja, Sara juga tidak yakin. Bagaimana jika memang suaminya melakukan semua yang terlihat di foto-foto itu. Sara sadar diri, dirinya memang sederhana, juga terlihat tidak berkelas, ditambah kondisinya yang tengah hamil. Berbagai pikiran negatif pun menghinggapi pikiran Sara sekarang ini. Ingin mempercayai, tetapi dirinya juga merasa sedih di waktu yang bersamaan. Ingin meminta kejelasan, juga Sara ragu dengan penjelasan yang diberikan suaminya itu.