
Seolah mendapatkan lampu hijau dari Sara, Belva pun membuat tubuh Sara untuk berhadap-hadapan dengannya. Pria itu segera menyentuhkan bibirnya di atas bibir Sara. Mencecapnya perlahan, benar-benar lembut. Seolah Belva tak ingin melukai Sara.
Mengecup bibir yang merekah laksana kelopak bunga itu guna merasakan sarinya, Belva membawa bibirnya menari-nari di atas bibir Sara. Mengecup lipatan atas dan lipatan bawahnya bergantian, hingga perlahan pria itu menjulurkan sedikit lidahnya guna menyapu bibir Sara yang begitu manis. Memagutnya dengan begitu lembut, mencecapnya bergantian, dan Belva berusaha membuka mulut Sara dengan lidahnya, hingga pria itu benar-benar mengeksplorasi rongga mulut Sara yang hangat. Kedua bibir beradu, kedua lidah berpaut, benar-benar perpaduan yang harmonis. Dibarengi dengan hujan deras di luar sana, justru menghasilkan decakan yang memenuhi kamar itu.
Penyusuran bibir Belva pun turun dan kali ini menyisir leher Sara nan jenggang. Memberikan kecupan hangat nan basah di sana. Bahkan pria itu juga mengigit kecil leher Sara dan mensesapnya hingga menghasilkan warna merah terang di leher Sara.
Sara pun mendesis, rasa sakit dari gigitan Belva justru membuatnya menahan nafas dan kian memejamkan matanya.
Tangan Belva pun bergerak, menyisir lembutnya epidermis kulit Sara. Tangan itu tanpa permisi masuk di balik kaos yang kini Sara kenakan. Meraba bagiannya punggungnya perlahan, bergerak ke depan meraba perutnya yang rata, hingga meremas gundukan buah persik di sana. Rasanya, Belva benar-benar larut dalam atmosfer sore itu.
Sara pun seolah lemas menerima sentuhan demi sentuhan yang Belva berikan padanya. Bahkan saat tangan Belva bergerak, dan melepaskan pengait di punggung Sara, kemudian memutar dan memilin ujung buah persik itu benar-benar membuat Sara bakal diguyur air dari langit.
"Ah," desah Sara pada akhirnya saat Belva meremas dan memberikan cubitan-cubitan kecil di puncak buah persiknya.
Belva mengurai sejenak, wajahnya. Pria itu tersenyum menatap wajah Sara yang tengah terselimuti kabut. Hingga tangan Belva meloloskan kaos dan penutup buah persik itu begitu saja. Bagian atas tubuh Sara terpampang sempurna. Hingga Belva pun sedikit menundukkan badannya juga merasai buah persik itu ke dalam mulutnya. Menjulurkan lidahnya dan memberikan gigitan di sana.
"Pak Belva," suara Sara terdengar serak saat Belva seolah melahap habis buah persik miliknya.
__ADS_1
"Hmm, apa? Apa melukaimu?" tanya pria itu kepada Sara.
"Ah, tidak … hanya saja, aku …" ucap Sara dengan terbata-bata. Perkataannya pun melayang di udara karena Belva kembali mengigit puncak buah persik itu. Hingga mungkin saja puncak buah persik itu menegang, sedikit bengkak, dan basah.
Belva kemudian mengangkat pinggang Sara dan melabuhkan ciumannya di bibir Sara. Mencecapnya perlahan, dan kemudian membaringkan Sara di atas ranjang itu. Belva melepas sendiri pakaiannya, kemudian dia melepaskan kain yang tersisa di badan Sara. Kemudian dia segera mengambil posisi di antara paha Sara.
Tak ingin menyakiti Sara lagi, maka Belva membuka kedua paha Sara dan mulai menyisiri lembah itu dengan sapuan lidahnya. Membiarkan lidahnya membuai Sara, menunggu hingga Sara benar-benar siap barulah Belva merapatkan dirinya dan memasukkan inti tubuhnya ke dalam cawan surgawi milik Sara.
Tidak langsung menghentak, tetapi Belva menunggu sejenak. Pria itu kemudian kembali melahap bibir Sara sembari bergerak seirama, menghujam dalam, menghentak dalam gerakan seduktif yang lembut. Mencoba menjajaki ladang baru yang dia rasakan untuk kali kedua itu.
"Ah, Pak …" teriakan Sara kali ini dengan mengeratkan pelukannya di badan Belva.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Belva lagi.
"Ah, tidak. Kali ini tidak sakit," jawab Sara dengan nafasnya yang pendek-pendek.
Berbeda dengan pengalaman pertama yang menghantamnya hingga menimbulkan rasa sakit. Kali ini, justru berbeda karena hanya ada badai kenikmatan yang menghantamnya.
__ADS_1
"Jangan ditahan," ucap Belva kali ini dengan mempercepat gerakan seduktifnya maju mundur, keluar dan masuk.
Bahkan gerakan buah persik Sara yang bergerak dengan sendirinya karena hujamannya justru membuat Belva menunduk dan menggigit buah persik itu. Kembali mensesapnya hingga meninggalkan tanda merah di sana.
Di ambang kekuatan yang dia miliki, Sara hanya bisa kian memeluk Belva. Entah berapa kali dirinya merasa meledak, tetapi agaknya Belva masih bertahan di atas sana.
Tak kuasa segala hujaman dan lesakkan hebat, Sara pun melingkarkan kedua kakinya di pinggang Belva. Yang justru pria itu kian melesakkan miliknya hingga menyentuh dinding rahim Sara.
Hingga akhirnya Belva pun menggeram, badanya berpeluh dengan begitu banyaknya.
"Oh, ya Tuhan …" pria itu meracau.
"Oh, God," ucapnya lagi dan kini dia bergerak kian cepat, cepat, dan melesakkan hujaman demi hujaman hingga pria itu benar-benar meledak sekarang.
Ya, Belva berhasil melesakkan anak panahnya kali ini. Berharap anak panah itu akan tumbuh subur dalam rahim Sara.
Pria itu rubuh seketika di atas badan Sara, dengan memeluk tubuh Sara dengan begitu eratnya. Menetralkan sejenak deru nafasnya, kemudian Belva menatap wajah Sara yang masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Belva mendaratkan bibirnya di kening Sara. Mengecupnya untuk sekian lama, dan memeluk tubuh Sara dengan begitu erat. Kali ini masih sama tidak ada ucapan cinta yang mengakhiri sessi bercinta mereka.
Akan tetapi, Sara lebih siap. Sebab, memang dirinya terlibat dengan Belva karena semua misi dan kerja sama. Untuk itu, Sara yang menekankan perasaannya sendiri. Asalkan Belva bersikap baik kepadanya, Sara akan menerimanya.