Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Membagi Kabar Baik kepada Kiddos!


__ADS_3

Mempersiapkan kehamilan bukan hanya diperlukan oleh Sara dan Belva, tetapi keduanya juga harus mempersiapkan Evan dan Elkan. Setelah mengetahui bahwa Sara positif hamil, Belva dan Sara berencana untuk memberitahu kepada Evan dan Elkan.


Sore hari saat Belva telah pulang dari Agastya Property, pasangan orang tua itu mengajak Evan dan Elkan untuk bersantai di taman yang berada di serambi rumahnya. Membagikan kabar bahagia dalam suasana santai tentu akan baik bagi anak-anak. Evan sudah berusia 7 tahun sehingga pasti Evan bisa memahami dengan lebih baik, sementara Elkan yang masih kecil, agaknya belum terlalu paham apa itu Adik bayi. Namun, sebisa mungkin Sara dan Belva akan memberitahukan kepada mereka berdua.


"Duduk sini yuk Evan dan Elkan, Mama dan Papa mau cerita dulu nih sama kalian berdua," ucap Sara yang meminta kedua putranya untuk mendekat kepadanya.


Evan langsung duduk di depan Sara, sementara Elkan juga dipangkuan Mamanya itu. Sara sangat menyayangi kedua anaknya, bahkan Sara juga masih menyempatkan untuk menciumi pipi Elkan yang chubby dan menggemaskan.


"Ada apa Ma?" tanya Evan yang memang sedari kecil sudah kritis. Sehingga dia menunggu apa yang akan diceritakan oleh Mama dan Papanya.


"Begini Evan dan Elkan ... putra-putranya Mama dan Papa. Mama mau tanya dulu, kalian suka enggak sama adik bayi?" tanya Sara membuka ceritanya sore itu.


Evan sudah tersenyum, anak berwajah tampan itu tampak mengulum senyuman di sudut bibirnya sementara Elkan yang masih kecil hanya berteriak-teriak.


"Adik ... baby! baby!"


Sara kemudian tersenyum, "Kakak Evan gimana suka enggak sama adik bayi?" tanyanya.


Terlihat Evan kembali tersenyum lebar dan sedikit mendekat ke Mamanya dan membisikkan sesuatu kepada Mamanya.


"Yes, I like it. Is Mama pregnant now?" tanya Evan dengan masih berbisik di telinga Sara.


Kali ini Sara yang tertawa mendengar bisikan dari Evan itu. Anaknya itu begitu pandai dan begitu mudah menebak situasi yang terjadi. Melihat Evan yang memang kritis, Sara dan Belva memang menyekolahkan Evan ke sekolah internasional yang dilengkapi dengan bahasa Inggris. Sehingga, untuk berkomunikasi ada kalanya memang Evan menggunakan bahasa Inggris.

__ADS_1


“Jadi, tidak apa-apa jika Mama akan memberikan adik bayi kepada kalian berdua?” tanya Sara lagi.


“Evan sih mau, Ma … tetapi kalau bisa adik cewek,” balasnya.


Sara kemudian menatap wajah putra sulungnya itu, “Kenapa Kak Evan menginginkan adik cewek?” tanyanya.


“Ya kan kalau adik cowok sudah punya Adik El, Ma … jadi mau adik cewek yang cantik seperti Mama,” balasnya.


Anak sekecil Evan saja sudah bisa menilai bahwa Mamanya itu cantik. Belva sampai tertawa mendengar jawaban dari putranya itu. Anak berusia 7 tahun yang sudah bisa menilai bahwa Mamanya itu cantik.


“Mama sekarang hamil, Kak Evan … cuma kan Mama dan Papa tidak tahu, adik bayinya cewek atau cowok. Belum terlihat kan, cuma kalau cowok lagi gimana coba?” tanya Sara kepada anaknya yang sulung itu.


Tampak Evan yang diam, kali ini seolah Evan sedang memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya, Evan pun memberikan jawaban kepada Mamanya.


“Ya, kalau adiknya cowok lagi tidak apa-apa, Ma … nanti Evan ajakin main mobil-mobilan dan lego lagi deh. Kayak kalau Evan ajakin main Adik El,” balasnya.


“Makasih Kakak Evan … jadi, sekarang Mama hamil. Tidak lama lagi adik bayi akan menambah kebahagiaan di rumah kita ini,” balas Sara.


“Yeay! Baby … baby!” teriak Elkan.


Sara sepenuhnya yakin bahwa Elkan belum sepenuhnya memahami. Usainya memang sudah lebih dari 2 tahun, tetapi untuk tahu apa itu baby rasanya anak sekecil Elkan perlu waktu untuk memahaminya.


Belva pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala Elkan. Senang rasanya bisa membagi kabar baik kepada putra-putranya. Itu artinya anaknya akan bertambah kemeriahan dan kian banyak suara anak-anak di rumah besarnya.

__ADS_1


“Evan boleh main sama Adik El lagi Ma?” Evan rasanya sudah ingin bermain di taman yang memang dibuat layaknya playground itu ada seluncuran anak, sampai ayunan untuk anak-anak.


“Boleh … yang penting hati-hati yah … Adiknya dijagain ya Kak,” balas Sara.


Sara dan Belva duduk di atas rumput itu sembari memperhatikan kedua putranya yang sedang bermain-main. Kemudian Belva kini justru rebahan di atas rumput, menggunakan paha Sara sebagai tumpuan.


“Tuh, Kiddos senang kan punya adik lagi,” balas Belva.


“Mereka kan satu server sama Papanya. Jadi ya senang-senang saja dengan memiliki adik lagi,” balas Sara.


“Namanya Papa dan anak, Sayang … tenang saja, kamu punya berapa anak pun, aku tetap akan bertanggung jawab,” balas Belva dengan menatap wajah istrinya itu.


“Sudah ah … tiga saja. Bukan masalah melahirkannya, tetapi mengasuh dan membesarkannya juga adalah tanggung jawab yang besar. Aku tidak mau asal melahirkan dan punya banyak anak. Kualitas harus mengikuti kuantitas dong. Aku mau semua anakku tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan bahagia. Selain itu, aku juga ingin dia akan menjadi anak-anak yang tangguh di masa depan nanti,” balas Sara dengan yakin.


Belva merespons dengan menganggukkan kepalanya, “Nah, kamu saja pinternya kebangetan kayak gini … sudah pasti perpaduan genetik dari kita menghasilkan anak-anak yang sehat, cerdas, dan bahagia. Selain itu juga lucu-lucu. Kamu yang pinter kayak gini bikin aku senang dan pengen punya banyak anak dari kamu,” balas Belva dengan terkekeh geli.


Sara hanya bisa tertawa, dan mengusapi rambut suaminya itu. Untuk urusan menambah jiwa, agaknya suaminya memang nomor satu. Jika tidak sungkan, sudah pasti kemampuan bereproduksi suaminya itu bisa menghasilkan banyak anak yang di kemudian hari akan disebut Gen Agastya.


"Kamu tidak cocok dengan program pemerintah Mas ... pemerintah bilang bahwa dua anak cukup. Ini kita sudah hampir tiga anak loh," jawab Sara dengan terkekeh geli.


"Iya Sayang ... mungkin bagi orang aku ini aneh. Sebab, aku pengennya punya banyak anak bersamamu. Anak-anak yang lucu dan menggemaskan," balasnya.


"Ya, banyak anak sih bagus ... cuma kalau disertai dengan kualitas mereka kasihan anaknya. Anak-anak butuh kasih sayang, pengasuhan yang baik, kebutuhan nutrisi yang lengkap dan seimbang, dan pendidikan yang bagus. Jadi, mending tiga saja sudah cukup. Ibarat belanja sudah beli dua gratis satu," jawab Sara dengan terkekeh geli.

__ADS_1


Belva yang mendengarkan ucapan istrinya pun turut tertawa, "Kamu ini bisa saja deh. Ya sudah, penting dijalani dulu. Kamu juga butuh waktu dengan bisnis dan dirimu sendiri. Tiga dulu tidak apa-apa. Makasih ya Sayang sudah memberikan aku banyak keturunan. Kupastikan masa tua nanti kita akan bahagia, di kelilingi anak-anak, menantu, bahkan cucu hingga cicit. Betapa bahagianya hidup ini," jawab Belva lagi.


Agaknya di masa tuanya nanti impian Belva akan terjawab. Dilimpahi umur panjang dan kebahagiaan hingga tua nanti melihat dan menyaksikan keturunan adalah harapan Belva di masa tua nanti. Tentu ada Sara yang akan selalu menemaninya sampai dia menutup matanya nanti.


__ADS_2