
Nyatanya sepekan sudah Belva dan Anin menghabiskan waktu bersama di Pulau Dewata. Memberi banyak waktu untuk menikmati alam dan tentunya mengajak Evan bermain sepuasnya di Seminyak, Bali.
Untuk urusan bulan madu kedua, dalam sepekan hanya dua kali Belva dan Anin melakukan hubungan suami istri. Selebihnya Anin lebih banyak menghabiskan waktu di siang hari untuk tidur. Sekali pun Anin benar-benar tidak mengeluh di hadapan Belva, tetapi Belva cukup tahu bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
Sekarang, mereka telah tiba di kediaman Belva kembali, Evan telah tertidur lantaran kecapekan usia menempuh perjalanan udara dari Denpasar menuju Jakarta. Lagipula, sekarang hari juga sudah malam. Sudah tiba waktunya bagi mereka untuk beristirahat.
“Tidurlah, kamu pun juga capek bukan?” tanya Belva kepada istrinya itu.
Anin pun lantas menganggukkan kepalanya, “Iya … rasanya aku kecapekan. Dulu bepergian ke luar kota untuk melakukan pemotretan biasa saja. Setelah tinggal di rumah, hanya Denpasar - Jakarta rasanya sudah begitu capek,” balas Anin.
“Sekarang kamu istirahat saja,” pinta Belva supaya Anin lebih baik beristirahat saja.
Anin pun menganggukkan kepalanya, “Iya, aku tidur duluan yah … kamu jangan tidur malam-malam. Lagipula, kita juga baru saja tiba dari Bali. Pasti kamu juga kecapekan. Kamu juga beristirahatlah,” balas Anin.
Wanita itu kemudian menarik selimutnya dan memunggungi Belva. Rasanya Anin dengan begitu mudahnya terlelap ke alam mimpi. Sementara Belva masih duduk dan bersandar di head board ranjangnya. Belva masih saja berkutat dengan gadget di tangannya. Pria itu tampak melihat fluktuasi nilai saham, melihat laporan yang dikirimkan oleh sekretarisnya, bahkan tanpa sadar Belva membuka riwayat chatnya dengan Sara hampir dua tahun yang lalu.
[To: Sara]
[Sara, kamu kemana?]
[Kamu tidak ingin kembali ke rumah ini?]
[Evan beberapa hari ini menangis. Dia tantrum. Mungkin saja dia merindukan Bundanya.]
Berganti hari …
[Sara, bagaimana kabarmu?]
__ADS_1
[Bukankah sebelumnya aku sudah meminta supaya kamu jangan mengganti nomormu.]
[Kamu di mana Sara?]
[Jika kamu menerima pesan ini, balaslah Sara …]
Beberapa pekan kemudian …
[Sara, pesanku belum kamu terima yah?]
[Apa yang sebenarnya terjadi Sara?]
[Aku bahkan mencarimu.]
[Sara …]
[Sara …]
Tampak Belva melihat riwayat pesan-pesan yang pernah dia kirimkan kepada Sara, tetapi tidak terbalas itu. Lantas, Belva menghela nafasnya.
“Sudah hampir dua tahun, Sara … sekarang di mana kamu berada? Tidakkah kamu merindukan Evan? Atau … tidakkah kamu merindukan aku?” gumam Belva dengan lirih.
***
Tengah malam saat Anin tengah terjaga, wanita itu menggerakkan tangannya meraba-raba di sampingnya. Berharap dia menemukan Belva yang adak berbaring di sebelahnya. Akan tetapi, saat Anin menggerakkan telapak tangannya, meraba di belakang punggungnya, rupanya tidak ada sosok suaminya yang berbaring di sana. Terlihat sisi di sebelahnya kosong.
Anin pun mengerjap, kemudian dia segera merubah posisinya menjadi duduk. Wanita itu menyalakan lampu yang berada di atas nakas yang berada di sisi ranjangnya. Hingga suasana di dalam itu menjadi begitu terang. Anin mengedarkan matanya ke kanan dan kiri, sapa tahu dia akan menemukan Belva di sudut sofa, atau di balkon kamarnya. Nyatanya di kamar utama yang begitu besar itu hanya ada Anin seorang diri.
__ADS_1
Lantas, Anin merapikan rambutnya terlebih dahulu, kemudian beranjak dari atas ranjangnya. Anin memilih berjalan ke kamar mandi, sapa tahu suaminya itu telah berada di kamar mandi, tetapi di kamar mandi pun kosong, tidak ada siapa pun. Bahkan lantai kamar mandi juga terlihat begitu kering, itu berarti memang tidak ada orang yang menggunakan kamar mandi.
Hingga akhirnya, Anin berjalan keluar dari kamarnya. Wanita itu menengok ke kanan dan kiri rumahnya yang terlihat sepi. Akan tetapi, terlihat lampu menyala di kamar yang berada di ujung lorong. Dengan perlahan, Anin mencoba menuju ujung lorong. Rupanya kamar di ujung lorong itu tidak sepenuhnya tertutup, Anin mengintip dari pintu yang setengah terbuka itu.
Tidak mengira, rupanya Belva berada di dalam kamar itu. Ya, kamar yang berada di ujung lorong itu adalah kamar Sara dulu. Sekarang, Anin melihat bahwa suaminya tengah dalam posisi tengkurap di atas ranjang itu. Anin perlahan-lahan masuk, menilik ke dalam kamar dan berusaha tidak bersuara. Rupanya semua yang berada di dalam kamar Sara itu masih pada posisinya yang semula, sudah dua tahun berlalu, tetapi kamar itu tidak berubah, dan Belva terlihat justru tertidur di sana.
Baru kali ini, Anin mengetahui suaminya yang seperti ini. Anin lantas memilih keluar dari kamar itu, dan kembali ke kamarnya sendiri.
“Apa setiap malam selalu seperti ini? Apa kamu hanya menungguku terlelap dan setelah itu, kamu memilih tidur di kamar Sara dulu?” tanya Anin pada dirinya sendiri.
Anin benar-benar tidak mengira bahwa Belva akan memiliki kebiasaan seperti ini. Sebab, pikirnya Belva pun akan turut tidur di sampingnya. Benarkah dia yang baru mengetahuinya, atau hal seperti ini sudah terjadi sejak Sara meninggalkan kediaman mereka.
Dengan rasa gamang, Anin memilih merebahkan dirinya di atas ranjangnya. Menarik kembali selimutnya. Berusaha memejamkan matanya, sayangnya matanya justru enggan untuk terpejam. Ingin membangunkan Belva, tetapi jujur saja Anin takut dan juga tidak yakin. Ingin kembali tertidur, nyatanya justru mata Anin tak bisa lagi terpejam.
Akhirnya, Anin hanya merebahkan dirinya. Terkadang berguling ke kanan, terkadang berguling ke kiri. Hingga menjelang subuh, barulah pintu kamarnya terbuka dan Anin segera memejamkan matanya. Rupanya Belva yang memasuki kamarnya. Pria itu kemudian merebahkan dirinya di samping Anin dengan memunggungi istrinya itu. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
***
Malam selanjutnya …
Agaknya setelah mengetahui bahwa Belva berada di kamar yang dulu di kamar Sara. Anin memang bersikap biasa, dan tertidur di jam normal. Akan tetapi, Anin kali ini agaknya hanya berpura-pura tertidur. Sebab, dia ingin tahu biasanya jam berapa suaminya itu memilih keluar dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar yang ada di ujung lorong.
Menit pun berganti menit, hingga setelah satu jam berlalu. Rupanya Belva dengan perlahan turun dari ranjangnya. Pria itu berjalan dengan hanya membawa handphone di genggamannya. Belva keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar yang berada di ujung lorong.
Saat Belva mulai beranjak dan pergi, Anin agaknya menyadari bahwa tidak mungkin kebetulan saja suaminya itu menyambangi kamar kosong milik Sara dulu. Anin merasa bahwa mungkin itulah kebiasaan sepanjang malam Belva. Hanya saja, mungkin dirinya yang kurang peka atau terlalu tidur terlelap hingga tidak menyadari bahwa selama dua tahun terakhir, hampir setiap malam berlalu dan Belva masih ada mengunjungi kamar milik Sara dulu di malam hari.
“Mungkinkah kamu sebenarnya memiliki perasaan kepada Sara? Apa sebenarnya, di malam-malam kita, hanya aku saja yang tertidur di sini dan kamu lebih memilih tertidur di sana? Cobalah ungkapkan perasaanmu, Belva Agastya ….”
__ADS_1
Anin kali ini memilih untuk memejamkan matanya. Berharap malam akan membuainya ke dalam mimpi dan esok hari dia bisa bangun dan bermain-main dengan Evan lagi.