Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Misi Tak Terselesaikan


__ADS_3

Mendengar ucapan dari Belva dan perasaan cintanya membuat hati Sara penuh dengan rasa haru rasanya. Kali ini, Sara bisa merasakan bahwa perasaan Belva untuknya itu tulus. Bukan sekadar hasrat semata, tetapi dia bisa mendengarkan pengakuan dari Belva bahwa pria itu selalu menyebut namanya dan berharap bisa menemukan Sara kembali.


Mungkin itulah jawaban doa dari Tuhan, sehingga Belva pada akhirnya tanpa sengaja justru bisa kembali bertemu dengan Sara. Pertemuan yang semula hanya karena ingin menjemput Evan, akhirnya justru mengantarkan Belva kepada sosok wanita yang pernah menorehkan kisahnya sendiri di dalam hidupnya.


“Kamu perlu tahu, Sayang … aku sangat lega saat bisa bertemu kembali denganmu setelah empat tahun berlalu. Namun, aku pun merasa tidak tenang melihatmu bersama Zaid. Aku pikir, kamu telah menikah dengan pria itu. Syukurlah, kamu masih sendiri, aku bisa menghalalimu dengan resmi,” ucap Belva kali ini.


Namun, saat Sara mendengar kosakata yang diucapkan Belva yaitu ‘menghalali’ membuat Sara menyipitkan kedua matanya dan menatap tajam wajah suaminya itu. “Isshs, menghalali apa sih Mas? Mas ini kalau berbicara aneh-aneh deh. Dulu itu menggumuli, sekarang menghalali. Aku yang mendengarnya saja merinding,” sahut Sara.


Mendengarkan ucapan Sara, nyatanya Belva justru tertawa. Tentu tawa yang tertahan, karena hari sudah malam dan Evan tidur di kamar yang berada tepat di kamar milik Sara. Jika mereka berdua terlalu berisik justru bisa membangunkan Evan.


“Ssttss, jangan kenceng-kenceng tertawanya, Mas … nanti Evan bangun loh,” ucap Sara sembari membawa jari telunjuknya di depan bibir Belva.


“Kenapa pakai jari kamu, pakai bibir kamu saja, Sayang,” jawab Belva.


Kelihatannya semakin hari, Belva semakin nakal dan begitu gencar untuk menggoda Sara. Rasanya justru menyenangkan sekali melihat perubahan air muka Sara. Rasanya Belva justru begitu gemas saja dengan Sara sekarang ini.


“Tuh … nakal kan. Kenapa kamu bisa senakal ini sih Mas?” tanya Sara kemudian kepada suaminya itu.


“Ya enggak nakal lah, Sayang. Lagian satu-satunya wanita yang aku nakalin cuma kamu,” jawab Belva.


Mendengar jawaban Belva yang jujur dan to the point, membuat Sara hanya geleng kepala. Agaknya memang suaminya itu tengah dilingkupi perasaan bahagia. Usai menikah, mungkin saja produksi hormon dopamine di tubuhnya meningkat, sehingga Belva merasa bahagia dan berimbas pada pikirannya yang nakal. Kendati demikian, Sara pun bisa memahami kesepian Belva, bagaimana dua tahun berlalu dan Belva harus meredam hasratnya. Sara memahami semuanya itu.


“Ya sudah … penting nakalnya cuma sama aku. Awas kalau nakal sama perempuan lain, gak ada jatah lagi!” Ancaman Sara kali ini kepada Belva.


Pria itu tampak menatap tajam wajah Sara, kemudian dengan cepat mengubah posisinya dan menindih tubuh Sara. Tangannya memegangi pergelangan tangan Sara dan seolah mengunci pergerakan dari Sara.

__ADS_1


Perlahan, tetapi pasti … Belva mengikis jarak wajahnya, pria itu menyusuri garis leher Sara dengan bibirnya, memberikan kecupan-kecupan dan sapuan lidahnya yang basah dan hangat di leher Sara. Sementara dalam posisi tidak bisa melawan, Sara hanya bisa menahan nafas dan sesekali menggerakkan lehernya.


“Mas,” ucap Sara disertai dengan helaan nafas yang berat.


Akan tetapi, nyatanya Belva justru diam dan tidak merespons ucapan Sara. Pria itu kian meremas pergelangan tangan Sara, dan kini wajah Belva sejajar dengan wajah Sara, pria itu tanpa basa-basi segera mencumbu bibir Sara yang sudah merekah layaknya kelopak bunga itu. Sementara Belva sendiri sudah layaknya kumbang yang ingin mengecup, dan menghisap nektar yang tersembunyi di dalam bunga yang merekah itu.


Bibir itu akhirnya menyapa bibir Sara. Memberikan ciuman, pagutan, dan lu-matan yang hangat di sepanjang permukaan kulit yang kenyal itu. Belva memiringkan sedikit kepalanya, memberikan tekanan pada pergerakan bibirnya, bahkan Belva tidak segan-segan untuk menyapa permukaan bibir Sara dengan ujung lidahnya. Pria itu begitu menggebu untuk mencumbu dan melu-mat bibir Sara. Seakan jika satu kali ciuman tidak akan pernah cukup. Bibir Sara benar-benar memberikan bubuk candu tersendiri bagi Belva. Begitu kedua bibir sudah bertemu, yang ada justru Belva ingin menekan dan memperdalam ciumannya.


Dua bibir yang bertemu, dua lidah yang menyapa, seolah benar-benar membuat suhu tubuh keduanya meningkat dengan drastisnya. Bahkan dengan posisi Belva yang menindih Sara dan mengunci pergerakan tangan Sara, yang ada justru membuat Belva mendominasi dan kian gencar untuk melabuhan kecupan demi kecupan, pagutan demi pagutan, dan lu-matan demi lu-matan.


“Ah,” suara Sara seakan tertahan saat Belva membelit bahkan menghisap lidahnya dengan kuat.


Tangan Belva yang semula mengunci tangan Sara, kini terurai. Tangan ini dengan lihainya menyusuri lekuk-lekuk feminitas di tubuh Sara. Memberikan remasan di dada Sara. Remasan dengan sedikit tekanan, tetapi tetap lembut. Satu dorongan bahwa saat tangan meraba dan meremas buah persik yang ranum itu dapat dipastikan bahwa tangan Belva tidak akan pernah bisa berhenti. Bahkan jika sekadar meremas tidak akan pernah cukup, ingin rasanya menenggelamkan satu buah persik itu ke dalam kedalaman rongga mulutnya yang hangat. Akan tetapi, Belva masih menahannya karena dirinya masih ingin mencium Sara.


Dengan nafas terengah-engah, Belva kemudian menarik wajahnya. Mengurai bibirnya dari bibir Sara. Pria itu tersenyum menatap Sara.


Sementara Sara berusaha menstabilkan nafasnya, wanita itu melihat Belva dengan wajah yang merona merah. Sebab, cumbuan dan ciuman panas dengan posisi seintim ini membuat dada Sara berdebar-debar. Dirinya seperti lilin yang tertiup angin, kebat-kebit rasanya.


Belum sampai Sara memberikan jawaban, rupanya terdengar igauan dari Evan. Anak itu rupanya terbangun dan masuk ke dalam kamar Sara.


“Mama, Evan mimpi buruk,” ucap Evan malam itu.


Dengan cepat, Belva mengubah posisinya. Pria itu kini merebahkan dirinya di samping Sara. Rasanya malam eksekusi harus gagal karena Evan yang terbangun dan kini justru memasuki kamar mereka.


“Sini Nak,” ucap Sara sembari membuka tangannya, meminta Evan untuk memeluknya.

__ADS_1


“Evan mimpi buruk, Ma,” ucap Evan lagi.


“Ya sudah … sini bobok sama Mama yah,” balas Sara.


Evan rupanya segera memeluk Mamanya. Tidak membutuhkan waktu lama Evan kembali terlelap. Sementara Belva masih menunggu, pria itu berpura-pura tidur saat Sara berusaha menidurkan Evan kembali. Begitu Evan sudah tertidur, tangan Belva mulai merayap dan menyisiri lekuk feminitas Sara.


“Sayang, lanjut enggak?” tanya Belva dengan berbisik lirih di telinga Sara.


“Mas, ada Evan … nanti kita malahan gangguin dia. Besok saja ya … maaf,” sahut Sara.


Sebenarnya tadi serangan mendadak dari Belva membangkitkan gelenyar asing dalam dirinya. Hampir saja Sara mengangguk dan memberikan akses penuh kepada Belva. Sayangnya, Evan terbangun dan kini menyusul mereka. Untuk itu, Sara pun meminta maaf kepada suaminya. Bukan maksudnya untuk menolak. Hanya saja, Evan kini turut tidur bersamanya. Sehingga tidak bisa melanjutkan kegiatan panas yang baru saja tertunda.


Belva memilih diam dan kemudian memunggungi Sara. Rasanya cukup sebal karena kegiatan panas berbalut kenikmatan harus tertunda. Sara berusaha mengusapi punggung suaminya itu.


“Jangan marah … jangan ngambek, besok yah,” ucap Sara yang layaknya menenangkan Evan yang baru ngambek.


“Tidur saja Sayang … tidak apa-apa kok,” sahut Belva.


“Janji, besok yah …,” ucap Sara lagi.


“Jangan berjanji, Sayang … mending langsung eksekusi saja. Daripada nanti gagal lagi,” keluh Belva.


Sara pun tersenyum dan kemudian mencuri satu ciuman di pipi suaminya itu.


Chup!

__ADS_1


“I Love U, Mas Belva,” ucap Sara.


Semoga saja dengan kecupannya dan ucapan cinta darinya bisa meredakan rasa sebal di hati Belva kali ini. Namun, Sara tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena Evan yang justru terbangun dan kini menyusulnya.


__ADS_2