
Di lain tempat, lebih tepatnya di Bogor, Zaid cukup berpikir keras usai Belva menelponnya tadi siang. Pria itu memikirkan apakah benar bahwa Kakaknya yaitu Anthony, memang menderita sakit keras sekarang ini? Akan tetapi, kenapa Zaid tidak percaya bahwa Anthony sekarang sedang sakit keras. Sebab, beberapa minggu yang lalu, Zaid bertemu dengan Kakaknya itu dan Anthony sepenuhnya baik. Sama sekali tidak kelihatan sedang sakit.
Untuk mendapatkan jawaban yang pasti, Zaid pun memilih bertolak ke Jakarta sekarang juga dan hendak bertanya langsung kepada Kakaknya itu. Selain itu, Zaid memiliki permintaan khusus kepada Kakaknya.
Berkendara kurang lebih dua jam, akhirnya Zaid telah tiba di Jakarta. Pria itu segera menuju ke rumah orang tuanya yang berada di Jakarta dan menunggu untuk bisa bertemu dengan Anthony.
“Tumben anak Mama pulang?” sambut Mama Rina kepada putranya, Zaid.
“Iya, Ma … ada sesuatu yang Zaid mau diskusikan bersama Kak Anthony,” balas Zaid.
“Kakakmu ada di apartemennya, lebih kamu menyusulnya saja sekarang,” balas Mama Rina.
Menyadari bahwa Anthony berada di apartemennya, sehingga Zaid pun berniat untuk menemui Kakaknya di apartemen miliknya yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Mamanya. Untuk itu, memang Zaid berniat untuk segera menemui Anthony.
“Baiklah, Ma … Zaid pamit dulu ya, Ma … usai bertemu dengan Kak Anthony, Zaid akan kemari lagi,” pamitnya.
Dengan perasaan gusar, Zaid pun segera menuju komplek apartemen yang ada di bilangan Jakarta Timur itu. Semoga saja Kakaknya itu berada di unit apartemennya dan Zaid bisa menyelesaikan masalah ini dengan segera.
Begitu tiba di apartemen milik Anthony, Zaid setengah berlari dan menuju langkah 12. Pria itu mengetuk pintu unit milik Kakanya itu.
Tidak berselang lamanya pintu segera terbuka, menunjukkan Anthony yang menatap tajam pada Zaid.
“Kak,” sapa Zaid.
“Hmm, untuk apa kamu ke mari?” tanya Anthony kepada adiknya itu.
“Biarkan aku masuk, Kak … ada hal penting harus kita bicarakan,” balas Zaid.
Walau belum dipersilakan Anthony untuk masuk ke dalam unitnya, tetapi Zaid sudah memasuki unit itu terlebih dahulu. Sehingga mau tidak mau, Anthony membiarkan adiknya itu masuk.
“Untuk apa kamu kemari?” tanya Anthony kepada Zaid lagi.
Zaid menatap Kakaknya, seolah memperhatikan benarkah yang tadi Belva sampaikan bahwa Anthony dalam keadaan sakit. Sebab, untuk alasan itulah Zaid datang ke mari.
“Kak, apa benar … kalau sakit sekarang ini?” tanya Zaid dengan hati-hati kepada Kakaknya.
Enggan menjawab, nyatanya Anthony justru tertawa di sana.
__ADS_1
“Hahaha, sakit? Aku tidak pernah sakit,” jawab Anthony.
Belva menghela nafas kasar, jadi memanglah benar bahwa Anthony tidaklah sakit. Jika Anthony benar-benar sehat, untuk apa Anthony datang ke Agastya Property dan mengaku bahwa dirinya sakit. Apakah ini adalah bagian dari permainan yang disusun oleh Anthony sendiri? Bukan sekadar permainan, tetapi permainan licik yang Zaid yakini adalah untuk menghancurkan seorang Belva Agastya.
“Yakin Kak?” tanya Zaid sekali lagi karena dia ingin mendengarkan kepastian dari Kakaknya itu.
“Apa menurutmu aku sakit-sakitan? Tidak! Aku sehat,” balas Anthony dengan yakin.
Seketika sinapsis otak Zaid terkoneksi satu sama lain. Jika Anthony sekarang mengaku begitu sehat, untuk apa Kakaknya itu menemui Belva dan mengaku tengah sakit keras.
“Syukurlah jika Kakak sehat,” balas Zaid. Sebagai seorang adik, tentu saja Zaid merasa lega usai mendengar bahwa Kakaknya itu dalam keadaan sehat.
Anthony menganggukkan kepalanya, “Tenang saja … jika kamu mendengar bahwa aku sakit dari Belva Agastya, itu sepenuhnya salah. Aku tidak sakit sama sekali. Aku sangat sehat. Hanya saja aku datang ke sana untuk tujuan khusus,” balas Anthony.
Kepada Zaid, Anthony bisa berbicara dengan jujur. Walau Anthony merasa pikirannya dan tujuan hidupnya bertolak belakang dengan Zaid, tetapi Anthony nyatanya bisa dan selalu jujur kepada Zaid.
“Tujuan khusus? Apa itu Kak?” tanya Zaid dan menunjukkan raut wajah yang penasaran di sana. Sungguh, Zaid pun ingin tahu tujuan khusus apa yang dimiliki Kakaknya itu.
“Aku hanya ingin mendapatkan informasi saja terkait perusahaannya. Aku menaruh sebuah kamera pengintai di ruang kerja si CEO bodoh itu,” balas Anthony.
“Untuk apa Kak?” tanya Zaid lagi.
“Tentu saja untuk menghancurkan Agastya Property. Untuk apa lagi?” balas Anthony.
Zaid menatap wajah Kakaknya itu, “Sebaiknya hentikan Kak … tidak baik memusuhi orang lain tanpa alasan yang jelas. Lagipula, Pak Belva juga tidak pernah mengusik Kakak. Jadi, lebih baik lupakan saja semuanya,” balas Zaid.
Sebagai seorang adik, Zaid hanya mencoba memberitahu kebenaran yang seharusnya dilakukan oleh Kakaknya itu. Memusuhi orang lain dan berniat menghancurkan orang tersebut bukanlah keputusan yang benar. Untuk itulah. Zaid berani berbicara dan mengingatkan Kakaknya itu.
“Aku tidak sepertimu, Zaid … aku adalah Anthony yang akan membalas orang menurut perbuatannya. Aku tidak bisa tinggal diam begitu saja. Jika kamu bisa melepaskan Sara dengan ikhlas, tetapi tidak bagiku. Aku masih belum bisa menerimanya,” balasnya.
“Kakak tidak takut dengan konsekuensinya? Biarkan Sara bahagia, Kak … lagipula Kakak juga sudah bahagia sekarang karena Kakak memiliki Annisa, sebagai wanita yang mencintai Kakak. Terima Annisa, dan lupakan Sara,” balas Zaid.
Akhirnya terungkap sudah bahwa Annisa yang sebenarnya adalah kekasih Anthony, bukan sekadar kenalan. Kali ini, Zaid secara langsung meminta kepada Kakaknya untuk menerima Annisa sepenuhnya dan melupakan Sara. Mempertimbangkan posisi Annisa, tentu saja wanita akan sangat sedih saat dirinya dijadikan kekasih, tetapi di dalam hati kekasihnya masih ada wanita lain. Itu sangat tidak etis, dan Zaid meminta kepada Anthony kali ini untuk melepaskan Sara.
“Tidak bisa, Zai!” teriak Anthony kali ini. Pria itu menghela nafas kasar dan menyeringai, "Aku tidak bisa melepaskannya!" Anthony menjawab dengan sorot matanya yang begitu tajam.
“Lalu, untuk apa Kakak berhubungan dengan Annisa, tetapi di dalam hati Kakak masih menginginkan Sara. Lepaskan Sara dan lupakanlah dia. Perasaan Kakak itu bukan cinta, tetapi obsesi yang menakutkan,” balas Zaid.
__ADS_1
Bagi Zaid, cinta tidak harus memiliki. Cinta bahkan mau berkorban asalkan orang yang kita cintai bisa bahagia bersama orang lain.
Anthony kali ini diam, seolah menimbang semua yang Zaid katakan. Hanya saja masih begitu berat untuk melepaskan Sara. Hasratnya begitu ingin memiliki wanita itu.
“Please Kak … semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dan memperbaiki diri. Lepaskan Sara … dia bahagia bersama Pak Belva,” balas Zaid.
Ya, di mata Zaid alasan utama Zaid melepaskan Sara waktu dulu karena Zaid yakin dan percaya bahwa Sara hanya akan bahagia bersama Belva. Waktu empat tahun yang dia pakai untuk berjuang dan mendapatkan hati Sara nyatanya sia-sia karena memang di hati Sara hanya ada Belva seorang. Untuk alasan itulah, Zaid dengan tegar ikhlas melepaskan Sara untuk pria bernama Belva Agastya itu.
...🍃🍃🍃...
Dear All My Bestie,
Sambil menunggu Bab selanjutnya. Mampir juga yuk ke novel-novel teman aku. Silakan mampir yah.
Nikahi Aku, Pak Dosen - Karya Aveeiiii
Dinikahi Berondong Saleh - Karya Mel Rezki
Jatah Mantan (Pelakor) - Karya Icha_Violet
__ADS_1