
“Kondisi janin Ibu Sara sudah baik. Badai telah berlalu,” ucap Dokter Indri yang masih membawa transducer di tangannya.
Ada perasaan lega yang melingkup hati Sara dan Belva saat Dokter Indri mengatakan bahwa kondisi janinnya sudah baik. Tidak ada lagi yang Sara dan Belva khawatirkan. Sebab, kondisi Sara sudah sangat baik.
“Sekarang kita periksa sekaligus kondisi janinnya yah … kehamilan Bu Sara sudah memasuki 16 Minggu, atau sudah memasuki Trimester Kedua. Pada usia ini bayi di dalam rahim Ibu sudah membentuk ekspresi wajah, dan sistem sarafnya bertumbuh dengan sempurna. Ukuran janin sudah sebesar buah Alpukat,” jelas Dokter Indri dengan jelas.
“Ada keluhan yang lain tidak Bu Sara?” tanya Dokter Indri. Dengan bertanya keluhan dari pasien, Dokter Indri pun bisa memeriksa dan memberikan penanganan yang tepat berdasarkan keluhan dari pasien.
“Tidak Dok … badan saya sudah baik. Tidak ada kendala, pinggang saya juga sudah tidak nyeri,” balas Sara.
Seakan Sara mengatakan bahwa kondisi tubuhnya sudah baik-baik saja. Sudah pulih sepenuhnya. Jika dulu Sara merasakan nyeri di pinggang dan seperti sakit menstruasi, tetapi sekarang Sara sudah merasa baik-baik saja Sama sekali tidak ada kendala di dalam tubuhnya.
“Baik … berarti Bu Sara sudah sehat yah … badai sudah benar-benar berlalu. Jadi, sekarang tinggal menjalani kehamilan seperti biasa yah. Vitamin harus tetap dikonsumsi, kalsium karena bayi akan terbentuk tulang rawannya, dan juga ada penambah darah karena tekanan darah Bu Sara masih terbilang rendah yah 90/100. Seharusnya 120/100. Jadi, masih harus meminum penambah darah,” jelas Dokter Indri lagi.
Tekanan darah Sara masih terbilang rendah. Oleh karena itu, Dokter Indri akan menambahkan penambah darah untuk Sara. Sebab, Ibu hamil seharusnya harus memiliki tekanan darah yang cukup dan stabil, sehingga tidak merasa berkunang-kunang, aktivitas juga tidak terkendala, karena tekanan darah yang cukup dan seimbang.
“Iya, baik Dokter,” sapa Sara sembari menganggukkan kepalanya.
Mungkin memang dirinya yang mengalami tekanan darah rendah, sehingga mudah berkunang-kunang. Setelah itu, Sara akan mengonsumsi makanan yang tinggi mineral supaya tekanan darahnya bisa lebih bertambah. Selain itu, juga harus istirahat yang cukup dan juga memiliki pola makan yang seimbang juga.
“Walau sudah pulih, jika ingin berhubungan suami istri sebaiknya menunggu sampai badan Ibu Sara benar-benar pulih yah. Jangan berikan stimulan ke area dada, sebab bisa menyebabkan kontraksi bagi bayi. Hindari untuk menyentuh bagian dada, dan jangan menekan perut. Kondisi ini Ibu juga lebih nyaman berhubungan karena Trimester Kedua terbilang masa yang cukup enak dan sudah stabil,” penjelasan dari Dokter Indri dengan begitu lengkapnya.
Sementara Belva yang mendengarkan penjelasan dari Dokter Indri, agaknya harus mengingat-ingat supaya tidak bermain-main di bagian kesukaannya di tubuh istrinya itu. Selain itu, Belva juga harus berpuasa sampai kondisi Sara benar-benar sehat dan sudah pulih sepenuhnya.
__ADS_1
“Ada yang ingin ditanyakan?” tanya Dokter Indri kepada Sara.
“Tidak sih Dok … sudah dijelaskan dengan detail. Jadi, saya sudah paham,” jawab Sara.
“Lebih di hati-hati ya Bu Sara … jangan sampai stress. Ibu hamil sebaiknya tidak terlalu berpikiran berat, makan dan istirahat yang cukup,” balas Dokter Indri.
Setelahnya, perawat mulai membersihkan USG Gell yang masih tersisa di permukaan kulit Sara. Setelahnya, Sara duduk di samping suaminya itu.
“Pemeriksaan selebihnya bulan depan ya Bu … nanti kita bisa lihat jenis kelamin adik bayinya,” jelas Dokter Indri.
“Dok, kalau mau melakukan USG 4G bisa?” tanya Sara kepada Dokter Indri.
Dokter Indri pun menganggukkan kepalanya, “Bisa Bu … bulan depan bisa kita melakukan USG 4D dan sekaligus melihat jenis kelamin babynya,” jawabnya.
Kali ini, rasanya Sara ingin memiliki potret babynya ketika masih di dalam kandungan. Potret yang akan diambil dengan menggunakan USG 4D, akan menjadi kenang-kenangan yang indah bagi Sara. Dulu, saat hamil Evan, Sara tidak terpikir untuk melakukan USG 4D. Sekarang, rasanya Sara ingin melakukan USG 4D untuk bayinya. Selain itu, Sara juga tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin babynya. Kali ini Tuhan akan menganugerahkan bayi laki-laki lagi atau perempuan. Akan tetapi, bagi Sara sendiri, tidak masalah mau laki-laki atau perempuan. Semua anak adalah anugerah Tuhan. Semua anak adalah kepercayaan dari Tuhan. Sehingga Sara tidak mempermasalahkan jenis kelamin babynya nanti.
Setelah pemeriksaan dan konsultasi, Sara dan Belva kini berjalan bersama menuju ke mobilnya yang masih terparkir di tempat parkir Rumah Sakit. Tentu setelah Belva membayar biaya pemeriksaan dan konsultasi, dan juga mengambil obat Sara di apotek.
“Lega Sayang,” ucap Belva sembari berjalan di samping Sara.
“Lega karena aku sembuh ya Mas?” tanya Sara.
“Iya, kamu sembuh … aku sudah sembuh banget,” balas Belva.
__ADS_1
“Makasih ya Mas … selama aku sakit, kamu merawat aku banget. Sekarang, aku bisa beraktivitas normal lagi,” ucap Sara sembari tersenyum.
Rasanya sangat bahagia, bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. Sekarang Sara bisa beraktivitas dengan normal, bisa turut mengasuh Evan.
“Cuma, tetap dijaga tubuhnya Sayang … jangan stress dan banyak pikiran lagi. Maaf yah,” balas Belva.
Tetap saja Belva merasa bahwa sakit yang dialami Sara kemarin adalah karena dirinya. Untuk itu Belva kembali meminta maaf kepada Sara.
“Tidak apa-apa, Mas … jangan dikaitkan. Toh, aku murni sakit dan tekanan darahku rendah. Jadi, jangan terus menyalahkan diri sendiri,” sahut Sara.
Belva kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya Sayang … sekarang kita baik-baik yah … kita jaga bersama baby kita. Semoga setelah ini tidak ada peristiwa buruk lainnya, kita bisa sama-sama menyambut kelahirannya beberapa bulan lagi. Terima kasih sudah memberiku dua buah hati. Terima kasih sudah menjadi Ibu dari anak-anakku,” ucap Belva.
“Iya Mas … aku juga senang dan tulus ikhlas mengandung benihmu. Dari sejak mengandung Evan, hingga sekarang … aku menjalaninya dengan tulus. Namun, sekarang … aku lebih berbahagia karena aku menjadi wanita satu-satunya di hidupmu,” aku Sara dengan jujur.
Sebab, bagi seorang wanita mereka akan merasa sangat berbahagia ketika, dirinya menjadi satu-satunya di hati dan di hidup suaminya. Tidak ada piala lain dalam genggaman suaminya. Untuk itu, Sara begitu bahagia. Dia tidak harus menekan perasaannya. Dia tidak harus bersedih karena cinta yang tak berpaut. Kali ini kebahagiaan Sara rasanya melimpah-limpah karena pada akhirnya hanya Sara lah wanita yang ada di hidup Belva Agastya.
***
Dear All,
Maaf ada kesalahan teknis yah. Sekarang sudah saya perbaiki. Semoga bisa dibaca ulang yah. :)
Awal minggu, berikan vote yuk untuk mendukung karya ini semoga karya ini selalu melambung tinggi dan memberikan warna tersendiri di hati para pembaca.
__ADS_1
Love U All,
Kirana