Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Sensasi Sore


__ADS_3

Hujan deras di luar sana tidak mengurungkan niat Belva untuk mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menyisir jalanan di Pulau Bintan dan berharap bahwa Belva akan segera tiba di hotel. Agaknya kondisi hujan kali ini justru membuat Belva mengharapkan sesuatu yang lain dari istrinya itu. Lagipula, dia masih memiliki akses free dua hari tersisa, jadi tentu saja Belva tidak akan menyia-nyiakan semuanya itu.


Perjalanan menerobos derasnya hujan ditempuh Belva dalam waktu kurang lebih 30 menit, dan sekarang keduanya turun dengan berlarian kecil dari mobil, memasuki hotel dengan badan sedikit basah.


Begitu tiba di dalam kamar, nyatanya Belva dengan cepat menutup pintu kamarnya dan kemudian menyentak tangan Sara. Membawa tubuh istrinya itu menempel di dinding tepat di sebelah pintu. Tanpa menunggu waktu, Belva menghimpit tubuh istrinya itu dan tanpa perlu izin lagi, Belva lantas mengikis jarak wajahnya yang kurang dari sejengkal dan mulai mendaratkan kecupan-kecupan hangat di bibir Sara.


Seakan tidak sabar rasanya, dengan dada yang bergemuruh, dengan hasrat yang begitu membara, Belva mendaratkan kecupan, pagutan, hingga lu-matan di bibir Sara. Membawa bibirnya bergerak dalam tekanan serupa, menghisapnya, mencumbunya dengan sedikit kasar, dan juga menyapu dengan lidahnya yang begitu hangat dan basah tentunya.


Tidak membutuhkan waktu lama, suara decakan pun akhirnya memenuhi seisi kamar itu. Pasangan yang sedang dimabuk asmara begitu menikmati permainan bibir keduanya satu sama lain. Seakan tidak henti-hentinya untuk saling menghisap, saling melu-mat, dan juga saling mencumbu,


Rayuan berbalut ciuman hangat berhasil menghasilkan erangan dari bibir Sara.


“Ah,” de-sah Sara pada akhirnya.


Sara yang semula hanya bersikap defensif dan sekadar menyambut permainan yang disulut oleh suaminya itu pun akhirnya turut larut dalam derasnya gelombang yang membuatnya benar-benar limbung kali ini.


Bak tidak sabaran, Belva pun melepaskan sling bag yang masih melingkar di bahu Sara. Membuangnya asal, menarik kaos yang dikenakan Sara ke atas dengan nafas yang begitu menderu. Terlihat sembulan buah persik dengan jejak tanda merah yang menghiasi sembulan buah persik itu.


“Sara,” panggil Belva kali ini kepada wanitanya itu.


Tangan yang semula hanya memegangi pinggang Sara perlahan pun meriap ke sana ke mari. Memberi rabaan dengan ujung jari dan telapak tangannya. Belaian lembut di area sisi wajah, telinga, bahu, dada, dan semua lekuk feminitas yang bisa diakses oleh Belva. Seakan pria itu benar-benar berhasrat dalam gejolak cinta yang begitu panas.


Penjelajahan Belva terus berlanjut, dan kini tangannya memberikan remasan di buah persik yang masih berada dalam wadahnya. Memberikan tekanan di sana, memijatnya perlahan, dan meraup buah persik yang seakan telah begitu menggoda dirinya. Sensasi lembut dan kenyal segera Belva rasai dengan memasukkan satu buah persik itu tanpa melepaskan pengaitnya di punggung Sara.


Kaki wanita itu bergerak dengan gelisah. Bercinta dalam keadaan berdiri seperti ini membuatnya seakan tidak memiliki kemampuan untuk bertahan. Kakinya terasa begitu goyah, terlebih saat Belva terus memberi cumbuan, dan gigitan-gigitan kecil di puncak buah persik itu. Ada ku-luman yang dilakukan pria itu, menyertai dengan sapuan lidah yang membuat Sara meremang. Seluruh bulu romanya berdiri.

__ADS_1


“Ah, Mas Belva,” racau Sara kali ini dengan terengah-engah.


Rupanya begitu nakalnya Belva, hingga pria itu segera melucuti celana Sara, membuat wanita itu polos mutlak di hadapannya. Tatapan memuja bersalut dengan kabut gairah, membuat Belva kian membawa turun wajahnya, dan mulai menenggelamkan wajahnya di cawan surgawi milik sara. Memberi sapaan yang hangat dan basah dengan lidahnya, menginvansi lembah itu dengan begitu bersemangat, membuat kaki Sara benar-benar bergetar kali ini.


Merasa bahwa Sara untuk mendapatkan kenikmatannya, Belva lantas mengangkat pinggang Sara dengan kedua tangannya, membawa wanita itu untuk rebah di atas ranjang. Bak tidak sabaran, kini Belva melucuti pakaiannya sendiri, memperlihatkan tubuhnya yang begitu menawan dengan dadanya yang bidang, dan beberapa bisep yang terlihat di lengannya.


“Aku masukkan yah,” izin Belva kali ini.


Pria itu akhirnya membawa pusakanya untuk kembali bersarang di cawan surgawi milik Sara yang begitu erat, kesat, dan hangat tentunya. Bahkan Belva tampak beberapa menengadahkan wajahnya ke atas dan memejamkan matanya.


“Ah, Sara … astaga,” suara Belva yang begitu parau menggema di telinga Sara kali ini.


“Mas,” Sara menyahut dengan suara yang juga serak dan terlihat susah payah untuk sekadar memanggil suaminya itu.


Pria itu menghentak dengan semakin liar. Menghujam begitu dalam, menusuk dengan gerakan seduktif keluar dan masuk, seakan tak pernah puas untuk menebar candu di tubuh Sara. Hingga badan pria itu berpeluh dengan suhu tubuh yang meningkat dengan begitu drastisnya.


Sementara Sara hanya mampu memejamkan matanya dengan dramatis. Terpaan badai yang ditebar oleh suaminya itu seakan membuatnya merintih bahkan menjerit. Semakin dalam Belva menghujam, yang ada justru semakin kuat Sara merintih. Wanita itu benar-benar merasakan bagaimana nyawanya yang seakan tercabut dari tubuhnya sendiri. Tusukan di bawah saja yang kian kasar dan kacau, membuat Sara mencengkeram punggung suaminya itu. Mungkin saja kuku-kuku jarinya menggores punggung kokoh milik Belva.


Gerakan Belva kian dalam, pria itu terus berpacu dengan nafas yang begitu memburu. Sampai akhirnya, pria itu merasakan dirinya nyaris meledak. Kian bergerak lebih cepat, sampai di batas akhir pertahanannya, Belva menggeram disertai dengan rubuhnya pria itu di atas tubuh Sara.


“I Love U, Sayang … I Love U,” ucap Belva kali ini.


Sebab usai menikmati sore manis yang bergelora itu, tidak ada lagi yang bisa diucapkan Belva selain mengucapkan, “I Love U,” kepada istrinya itu. Dalam hatinya Belva berjanji bahwa dia akan selalu mencintai Sara, menghormati Sara, dan melindungi Sara. Apa pun yang akan terjadi di depan nanti, Belva akan selalu memasang badannya untuk melindungi wanita yang kini benar-benar telah merasuk dan memiliki tempat yang begitu di hatinya itu.


***

__ADS_1


Usai permainan yang begitu panas, Sara masih menyandarkan kepalanya di dada Belva. Seakan dirinya begitu lelah, tetapi tentu lelah yang menghasilkan nektar cinta yang begitu memabukkan. Hormon dopamine yang dihasilkan dari kegiatan panas keduanya tentu menghasilkan rasa bahagia yang sangat membuncah di dalam hati.


“Kamu kenapa diam saja?” tanya Belva kali ini kepada Sara yang begitu lemas.


Ya, wanita itu hanya bisa memeluk Belva, tangannya melingkari pinggang suaminya itu, dengan mata yang terkadang terpejam.


“Aku lemes banget Mas,” aku Sara kali ini.


Belva pun mengusapi kepala Sara, “Aku pesankan minuman dingin mau? Yang manis-manis biar kamu semangat,” tawar Belva kali ini.


“Habis hujan terus minum dingin, nanti aku masuk angin enggak Mas?” tanya Sara kini kepada suaminya.


“Es nya sedikit saja … mau?” tawar Belva lagi.


“Boleh deh … lagian tenggorokanku juga kering banget,” balas Sara kali ini.


Kemudian Belva memilih bangkit. Pria itu membantu Sara untuk mengenakan pakaiannya terlebih dahulu, kemudian dia berpamitan untuk ke restoran guna memesankan minuman dingin untuk istrinya itu. Tidak sampai 10 menit, Belva sudah kembali ke dalam kamar dengan membawa segelas jus stroberi dan kaya toast (kaya toast adalah roti bakar dengan selai kaya yang biasanya banyak dinikmati masyarakat di Melayu).


“Yuk, makan dulu … kasihan banget sih, kamu sampai lemes kayak gini,” ucap Belva dengan terkekeh geli.


“Jahat … sukanya bikin aku lemes, abis itu ngata-ngatain,” cibir Sara kali ini dengan menatap tajam suaminya itu.


“Cuma godain kamu saja, Sayang,” balas Belva dengan lembut.


Pria itu lantas mendekatkan sedotan plastik di bibir Sara, mempersilakan istrinya itu untuk minum terlebih dahulu. Kemudian Belva menyuapi Sara dengan Kaya Toast yang dia beli saat itu. Setidaknya ini adalah kegiatan manis yang menyenangkan usai melampaui pertarungan panas yang begitu sengit. Ada rasa pengertian dan perhatian di antara suami dan istri. Sebab, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengeratkan keharmonisan antara suami dan istri.

__ADS_1


__ADS_2