Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Rindu yang Tertahan


__ADS_3

Hari telah berlalu, tidak terasa sudah dua pekan lamanya usai pertemuan Sara dengan Evan. Keduanya harus kembali dipisahkan karena jalan hidup yang berbeda. Belva dengan segala kesibukannya di Ibukota, sementara Sara dengan bisnis Coffee Bay miliknya di Bogor. Sekalipun jarak Jakarta ke Bogor tidak jauh, nyatanya bagi mereka yang pebisnis dan sibuk seperti Belva, tidak bisa sering-sering ke Bogor karena pekerjaannya.


Di satu sisi, Sara pun juga sangat merindukan putranya itu. Ingin kembali bertemu dan menghabiskan banyak waktu dengan Evan.


Evan,


Tidak terasa sudah hampir dua minggu lamanya sejak pertemuan kita dulu …


Sekarang Mama sudah begitu kangen sama kamu. 


Mama pengen memeluk kamu, menyuapi kamu, membuatkan Crofflee untukmu, dan membelikan buku serta membacakannya untuk kamu.


Kamu di Jakarta sana merindukan Mama juga tidak, Van?


Di malam yang gelap disertai dengan dentingan gerimis itu, Sara pun bergumam lirih dengan hatinya sendiri memikirkan putranya, Evan. Setelah bertemu Evan kembali rasanya Sara tidak ingin terpisah lagi dengan Evan. Namun, mau bagaimana lagi jika jalan hidup mereka berbeda. Terlebih saat itu, Sara juga lupa meminta nomor telepon Evan padahal Evan memilih handphone sendiri.


Ah, kenapa juga Mama lupa meminta nomormu, Evan …


Jika saja Mama tidak lupa, setiap hari Mama akan menelpon dan melakukan panggilan video denganmu.


Evan,


Mama kangen kamu … Mama rindu kamu.


Kira-kira kapan kita bisa bertemu lagi Evan?


Saat itu, waktu berlalu dengan begitu cepat saat Mama bisa bersama denganmu.


Hari itu adalah hari berharga dalam hidup Mama …


Mama benar-benar sayang kamu, Evanku …


***

__ADS_1


Keesokan harinya …


Sara mendatangi Coffee Bay lebih siang dari biasanya. Itu dikarenakan sepanjang malam, Sara tidak bisa tertidur karena begitu merindukan Evan. Wanita itu datang ke Coffee Bay dengan kantung mata yang cukup hitam di area matanya.


“Tumben Kak, datangnya siang?” tanya Nina kali ini.


“Iya Nin, beberapa hari ini aku insomnia, susah tidur,” jawabnya kali ini.


“Kenapa Kak?” tanya Nina lagi.


“Kangen sama Evan,” jawab Sara dengan jujur.


Ya, pada kenyataannya yang membuat Sara tidak bisa tertidur karena dirinya begitu merindukan Evan. Apakah mungkin putranya di Jakarta juga merindukannya? Sebab, Evan sudah berlimpah kasih sayang dari Mama dan Papanya.


“Istirahat Kak … kalau kurang tidur, Kakak bisa sakit loh,” balas Nina.


Sara hanya mengangguk, kemudian membantu sedikit di Coffee Bay. Selebihnya, Sara memilih beristirahat di lantai dua Coffee Bay. Hanya sekadar beristirahat karena kepalanya terasa penuh karena terus-menerus memikirkan Evan.


Hingga menjelang sore, barulah Sara turun kembali ke lantai satu. Dia mulai membantu para karyawannya, dan memantau banyaknya orderan untuk hari ini. Selain itu, Sara juga mengecek laporan penjual dari beberapa cabang yang ada. Setelah usai, niat hati Sara ingin pulang, tetapi rupanya Zaid datang menemuinya kali ini.


“Enggak Zai … aku hanya kurang tidur saja,” balas Sara.


“Kenapa?” tanya Zaid.


“Aku kangen sama Evan,” aku Sara kali ini. Di hadapan Zaid pun Sara mengakui bahwa dirinya begitu merindukan Evan kali ini.


Mendengar jawaban Sara, jujur saja Zaid cukup kaget. Rupanya wanita yang sudah lama dicintainya itu begitu merindukan sosok putranya kali ini. Namun, Zaid tetap berusaha memakluminya.


“Kenapa kamu tidak ke Jakarta saja?” tanya Zaid.


“Tidak Zai … aku tidak bisa ke Jakarta,” balas Sara.


“Kenapa?” Zaid seolah masih mengejar kenapa Sara tidak bisa lagi ke Jakarta.

__ADS_1


“Evan sudah mendapatkan kasih sayang yang cukup dari Mama dan Papanya. Kasih sayang yang bahkan berlimpah. Jadi, aku tidak ingin menjadi kerusakan rumah tangga Belva dan Anin,” ucap Sara.


Wanita itu tampak menghela nafas panjang, membayangkan saja berdiri di antara Belva dan Anin membuatnya bergidik ngeri. Dulu Sara pernah melakukan, tetapi sekarang Sara tidak ingin melakukannya lagi. Sebab, Sara takut dia jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.


Di satu sisi Zaid mencoba memahami dari sisi Sara. Menjadi orang ketiga memang tidak enak, tetapi ada Evan sekarang. Hanya sekadar menemui Evan, sebenarnya juga tidak menjadi masalah berat bagi Sara.


“Jika ke Jakarta hanya untuk mengunjungi Evan? Cobalah ke Jakarta, apa perlu aku mengantarmu?” tawar Zaid kali ini.


Zaid bukan sekadar omong kosong. Sebab, jika Sara membutuhkan bantuannya, Zaid akan selalu siap sedia untuk menolong Sara. Mengantar Sara hingga ke Jakarta bukan perkara yang sukar bagi Zaid. Bahkan pria itu akan melakukan semua untuk Sara dengan hati yang riang gembira.


Sara diam dan mencoba mempertimbangkan ucapan Zaid. Mungkin Sara akan mencoba untuk ke Jakarta dan hanya menemui Evan saja, usai itu dirinya akan kembali ke Bogor. Sebelum mencoba, dia tidak akan mendapatkan jawaban yang tepat. Oleh karena itu, lebih baik Sara akan mencoba terlebih dahulu.


“Baiklah … pekan depan aku akan ke Jakarta,” balas Sara.


Setidaknya, kali ini Sara ingin mencoba terlebih dahulu. Sara akan menerima semua respons dari Anin dan Belva tentunya, tetapi Sara ingin mencoba untuk mengunjungi putranya terlebih dahulu. Benar apa yang diucapkan Zaid baru saja bahwa dia tidak pernah tahu jika dirinya sendiri belum pernah mencoba.


“Nah, begitu … cobalah terlebih dahulu. Mau aku antar?” tawar Zaid.


Dengan cepat Sara pun menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku akan naik KRL saja yang bebas macet. Lagipula hanya satu hari cukup,” balas Sara.


Sebenarnya Sara memiliki pertimbangan yang lain karena dia tidak ingin melibatkan Zaid dalam masalah pribadinya kali ini. Lagipula, Sara juga tidak enak karena selama ini dirinya juga tidak menerima perasaan pria itu. Walaupun berkali-kali Zaid mengutarakan perasaannya, tetapi berkali-kali juga Sara menolaknya dengan alasan belum siap untuk menjalin sebuah hubungan.


“Baiklah … hanya saja jika kamu benar-benar membutuhkan bantuan jangan sungkan kepadaku. Aku akan selalu menolongmu Sara, kapanpun itu,” balas Zaid dengan begitu yakin.


“Makasih Zai, kamu begitu baik,” balas Sara.


“Biasa saja, Sara … aku baik pun, kamu tidak mau denganku,” jawab Zaid. Sekalipun pria itu menjawab dengan tertawa dan bercanda, tetapi Zaid seakan ingin menegaskan bahwa sekalipun dirinya baik dan tulus, tetapi Sara juga tidak mau dengannya.


Sontak Sara saja menghela nafas panjang dan menundukkan wajahnya. Perasaannya menjadi tidak enak karena memang Sara pada kenyataannya tidak pernah bisa menerima Zaid.


“Sorry Zai … tetapi, kamu kan tahu … aku sebenarnya sedang tidak ingin berhubungan dengan pria,” jawab Sara.


“Tidak perlu meminta maaf Sara, aku hanya bercanda,” balas Zaid dengan cepat.

__ADS_1


Memang Zaid menanggapi ucapan Sara dengan bercanda. Akan tetapi, lubuk hati manusia siapa yang tahu? Yang tahu hanyalah manusia itu sendiri dan Tuhan. Manusia hanya bisa sekadar menerka-nerka saja. Namun, Sara menyadari bahwa dibalik sikap periang dan terbukanya, Zaid pun bisa menyembunyikan luka di dalam hatinya.


__ADS_2