Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Lima Belas Menit Berharga


__ADS_3

Suasana haru benar-benar melingkupi suasana di Coffee Bay siang itu. Bukan hanya Sara yang terharu karena di luar sepengetahuannya, rupanya Belva sudah terlebih dahulu memberitahu Evan kebenaran mengenai siapa dirinya bagi Evan. Sekalipun, Evan nyatanya lebih memilih memanggil Sara dengan sebutan Mama daripada Bunda, Sara tidak mempermasalahkannya, karena dipanggil Mama lebih baik daripada dipanggil Tante oleh anak kandung sendiri.


Usai menangis dan memeluk Evan, Sara lantas menggendong Evan dan mendudukkan Evan di sebuah kursi.


“Evan mau Crofflee? Mama akan buatkan dulu buat Evan,” tawar Sara kepada Evan.


Sebab setahu Sara kemarin, Evan begitu menyukai Crofflee. Sehingga kali ini Sara menawarkan untuk membuatkan Crofflee untuk Evan.


Rupanya Evan pun menganggukkan kepalanya, “Mau Ma … Evan mau,” balasnya dengan sedikit berteriak kegirangan.


Belva juga turut mengikuti Sara dan duduk di samping Evan. Pria itu bersikap tenang, sementara di dalam hatinya tentu Belva senang dan lega.


“Pak Belva mau Crofflee juga?” tanya Sara kini kepada Belva. Tidak mengira bahwa akhirnya Sara pun menawarkan Crofflee untuk mantan suaminya juga.


Setidaknya Sara pun juga menawarkan kepada Belva, lagipula Sara harus berterima kasih karena Belva mengungkapkan siapa dirinya bagi Evan.


“Boleh Sara … sama aku ingin Frappuccino buatanmu,” ucap Belva dengan tiba-tiba.


Sara pun menganggukkan kepalanya, dan dia segera menuju ke bagian pantry dan membuatkan Crofflee dan juga Frappuccino untuk Belva. Hanya membutuhkan waktu sekian menit saja, Sara kembali ke hadapan Belva dan Evan dengan membawa sepiring Crofflee dan juga Frappuccino untuk Belva.


“Silakan Pak Belva,” ucap Sara mempersilakan Belva.


“Ayo dimakan, Evannya Mama,” ucap Sara kali kepada Evan. Wanita itu tersenyum saat menyajikan sepiring Crofflee di hadapan Evan.


Rupanya Papa dan anak itu dengan lahap menyantap Crofflee buatan Sara. Di dalam hatinya, Sara merasa bahagia melihat kemiripan antara Evan dengan Papanya itu. Bahkan wajah keduanya pun ada sisi kemiripannya.


“Mama, Crofflee buatan Mama enak banget … Evan suka,” ucap Evan di sela-sela dia mengunyah Crofflee buatan Sara itu.


“Kalau enak dihabiskan, Van …,” balas Belva dengan cepat.

__ADS_1


“Iya Evan, kalau enak dimakan yah … cuma pelan-pelan saja makannya nanti kamu tersendak,” ucap Sara kali ini.


Bahkan kini Sara duduk di hadapan Belva dan Evan yang sedang sama-sama menikmati Crofflee buatannya. Dulu Sara sama sekali tidak pernah membayangkan hal seperti ini. Namun, sekarang melihat Evan di hadapannya, memakan camilan yang dibuat membuat hati Sara begitu senang.


“Sara, ada yang ingin kusampaikan … begini, hari ini aku ada rapat di Bogor. Sebenarnya Evan ingin aku titipkan ke adikku yang kemarin ke mari bersama Evan. Akan tetapi, Evan menolaknya dan dia ingin berada di sini denganmu. Bagaimana Sara, apa kamu mengizinkan Evan berada di sini?” tanya Belva.


“Iya, tidak apa-apa Pak Belva,” sahut Sara dengan cepat.


“Kalau nanti dia mengganggumu bagaimana?” tanya Belva lagi.


“Aku tidak merasa diganggu Pak Belva,” sahut Sara.


Itu karena Sara merasa senang, bisa seharian dengan Evan. Selain itu, bisa dilibatkan untuk menjaga dan mengasuh Evan sudah pasti Sara tidak keberatan dan justru bahagia.


“Baiklah Sara … aku bisa menitipkan Evan kepadamu?” tanya Belva.


Usai bersarapan lagi dengan Crofflee dan Frappuccino, Belva pun bersiap-siap untuk menuju ke tempat rapatnya. Dia akan membiarkan dan sekaligus memberikan waktu bagi Sara untuk bisa dekat dengan Evan sepanjang hari ini.


“Evan, Papa berangkat untuk rapat dulu yah. Ingat pesan Papa yah,” pamit Belva kepada putranya itu.


“Iya Pap, Evan akan ingat,” balas Evan dengan cepat.


Pria itu lantas menundukkan wajahnya, dan melabuhkan kecupan di kening Evan.


“Bye My Son,” ucap Belva sembari mengusapi puncak kepala putranya itu.


Kemudian pandangan Belva kini beralih ke arah Sara. “Sara, aku menyerahkan Evan kepadamu sepanjang hari ini. Kuharap dia tidak rewel dan nakal … kalau ada apa-apa, hubungi aku saja. Evan membawa handphone dan di sana ada nomorku,” ucap Belva.


“Iya Pak Belva, terima kasih untuk waktu sehari ini,” balas Sara.

__ADS_1


Tentu Sara mengucapkan terima kasih. Jika bukan Belva yang berani berkata jujur kepada Evan, semuanya ini tidak akan terjadi. Oleh karena itulah, Sara mengucapkan terima kasih kepada Belva.


“Sama-sama Sara,” balas Belva.


Kemudian Belva pun berdiri, hendak keluar dari Coffee Bay. Kali ini rupanya Sara turut berjalan mengekori Belva, dengan tujuan membukakan pintu bagi pria itu untuk keluar. Akan tetapi, rupanya Evan kembali menginterupsi.


“Papa, yang disayang cuma Evan? Mama tidak disayang?” tanya Evan dengan tiba-tiba.


Sontak saja Belva dan Sara saling berpandangan, bahkan Belva terlihat susah payah meneguk salivanya sendiri. Tentu, dia tidak bisa mencium Sara sekarang ini karena hubungannya dengan Sara telah berakhir. Lagipula, Sara tentu akan menolak jika dia menciumnya.


“Papa cuma sayang sama Evan dan tidak sayang sama Mama?” tanya Evan lagi.


Belva pun menghela nafasnya yang terasa berat, lantas pria itu mengambil beberapa langkah dan mendekat ke arah Sara. Belva pun tertegun kali ini, sama seperti Sara. Ya, wajah Sara terlihat tegang dan juga tidak tahu harus bersikap apa di hadapan Evan kali ini. Lagipula, Sara berpikir kenapa Evan bisa berkata demikian. Mungkin bagi Evan, karena dia juga adalah Mamanya, jadi Evan juga mengira bahwa Papa dan Mamanya saling menyayangi.


Kini pandangan Belva sepenuhnya tertuju kepada Sara, menatap kedua mata wanita cantik yang sedari tadi terlihat resah itu. Lantas Belva mengikis jarak wajahnya, dan melabuhkan bibirnya yang hangat di kening Sara. Membiarkan bibir itu bertengger di sana untuk sekian detik.


Chup!


“Aku berangkat dulu Sara, jagalah Evan hari ini,” ucap Belva.


Sontak Belva langsung berbalik dan meninggalkan Coffee Bay secepat mungkin. Dirinya benar-benar gugup kali ini. Bahkan di dalam mobilnya, Belva tampak menghela nafas panjang dan berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk mensuplai paru-parunya.


Di dalam Coffee Bay, Sara sendiri justru mematung. Tidak menyangka bahwa Belva akan menciumnya di hadapan Evan. Memang hanya ciuman di kening, tetapi dia cukup membuat Sara menegang sekaligus deg-degan.


“Ya Tuhan, jantungku,” teriak Sara dalam hati sembari memegangi dadanya.


“Yee, Evan senang … Papa sayang Evan dan Mama,” teriak Evan dengan tiba-tiba.


Tentu saja teriakan Evan kembali menyadarkan Sara kali ini. Sara memejamkan matanya sejenak, kemudian berbalik dan duduk di dekat Evan. Wanita itu mengamati Evan dari dekat, kenapa bisa Evan meminta Papanya untuk mencium dirinya. Permintaan Evan sukses membuat jantung Sara meletup-letup saat ini.

__ADS_1


__ADS_2